Sabtu, 05 Juli 2025

10 Pandai Menjadi Puisi

 Pandai Menjadi Puisi


   Mari kita lihat penyair dengan imajenasi tinggi. Ia bisa menjadi apa saja seperti apa yang dilakukan chairil Anwar. Ia menjadikan dirinya sosok tokoh yang dicipta. Imajenasi yang tinggi membuatnya mampu dirinya masuk kedalam jiwa puisi itu. Sebuah puisi imajener.


   Sebelumnya mari kita cermati Kepiawaian Chairil dalam Mencipta puisi. Demikian hebatnya Chairil menjadi Prajurit Jaga Malam, Chairil tak bicara rokok atau kopi penahan kantuk, tak bicara nyamuk , kelelawar ddan embun dini hari. Chairil pandai menjadi puisi, menjadi dirinya seorang prajurit jaga malam, menusuk pikiran si penjaga malam, dan bersembunyi di hati dalam dada prajurit jaga malam. Chairil memang jempolan. Berikut puisinya:


Prajurit Jaga Malam.

Chairi Anwar.


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


Apa yang dilakukan Chairil itu penyair kita mampu menjadi diri puisi itu. Berikut sebuah puisi karya penyair kita yang mampu menjadikan puisi imajener. Dia adalah tak lain Cok Sawitri yang menulis tentang Namaku Dirah.


Berikut Cok Sawitri:


Namaku Dirah

Cok Sawitri:


ketika wanita menjadi janda

mulailah sudah prasangka

melucuti kemurnian rahim

rumah-rumah menanam pandan di pintu-pintu

anak-anak menutup lubang pusar

lelaki menggosok-gosok kumisnya

namaku dirah

aku cangkul tubuhku

hujan telah mengirim hati dan jantung ke tanah

sedang harapan ada di luar kenyataan hidup

pagi itu aku bertanya pada diri: raja mana itu!

Kematian suamiku menjadi aniaya

kesendirian ini menjadi kamar hukuman

tetapi apa kesalahan anakku

namaku dirah

aku hanya seorang janda

sia-sia bila kukirim pertanyaan: apa salahku?kekuasaan telah menasibkan kekhawatiran

tembok-tembok tingii

penjaga-penjaga yang tak lagi miliki mata

siang malam membisukan

Siapa saja yang hendak bicara

apa pun namanya yang dipagari

berlapis-lapis benteng

berbulan-bulan pesta upacara

disuburkan sumpah dan janji kesetiaan

terusik bisikku: namaku dirah

tanah yang telah berakar-buah

siapa diterjang seribu anak panah

tubuh ramping berbalut kain putih itu

luruh tersangga batang pohon kepah

matanya memancarkan hati yang bebas

ketika tubuhnya merosot ke bawah

rumput-rumput menegak menyediakan dirinya

menanti kedatangan tubuh ibunya

namaku dirah

dengan darah usus di leher aku menari sepuas hati

kepedihan ini

kemarin di tengah malam

aku sejenak merasa takut

kandung telurku diserang usikan dingin

menisik bayang ayahmu

andai dia masih

kecengengan senantiasa

menawarkan riwayat luka

aku cangkul tubuhku

kerna namaku dirah

ribuan prajurit terpuruk

membelalak menyambut kematian

seperti tak percaya

kekuasaan tidak melindungi nyawanya

selembar kain putih

leher berkalung usus

rambut gimbal bau amis darah

sampaikan:

semua benteng memiliki celah

begitupun keangkuhan

tak kecuali kekuasaan retak

oleh lirik mataku

kerna namaku dirah

hanya seorang janda

bukan tubuh di atas tahta

di mana senjata adalah kaumnya

1997


 (Rg Bagus Warsono, 23-08-15,Kurator sastra di HMGM)



9. Menuangkan Sejarah di Atas Puisi

 Menuangkan Sejarah di Atas Puisi


   Menuangkan Sejarah di atas Puisi

Puisi juga adalah penerang sejarah yang punah. Pengarangnya ingin agar generasi selanjutnya memahami sejarah masa lalu di negerinya, di daerahnya, atau di desanya. Ia angkat kembali sepanjang ia ketahui agar dapat abadi. Tentu saja dalam bahasa penyair yang dituangkan dalam puisi.


   Bahasa penyair adalah bahasa khas penyair itu. Rangkaian kalimat adalah rangkaian hati penyair yang bersih. Sejarah ketengahkan dalam puisi agar mudah dipahami generasi. Sebuah penyelamatan cerita lewat syair.


   Anda pernah membaca Syekh Siti Jenar karya Saini KM? Maka jangan lewatkan membaca karya Tajuddinnoor Ganie . Sebuah karya membagi cerita bagi generasi ini. Bentuk syair itu yang menjadi beda. Agar generasi muda menjadi suka. Tentu ini menjadi istimewa manakala putera memahami masa lalu.


Berikut puisi Tajuddinnoor Ganie itu:




Perang Banjar1596

Tajuddinnoor Ganie


Cornelis de Houtman

seorang nakhoda Belanda

tiba di Banten mencari lada di pasar bebas

Tapi, gulden Belanda tak laku di Banten

Tak ada pedagang lada

yang mau berdagang dengan mereka

Cornelis de Houtman menjadi murka karenanya.

Kalau begitu, kita rampok saja lada mereka!

Malam, ketika bulan sabit

menyipit di langit Banten

Anak buah Cornelis de Houtman

menyerbu masuk ke sebuah kapal besar

yang sarat dengan muatan lada

Pemiliknya, seorang saudagar Banjar

tak bisa berbuat apa-apa

kecuali mengelus dada

menerima nasib yang buruk.

7 Juni 1607

Koopman Cillis Michelszoon

nakhoda Belanda yang lain

tanpa singgah di Banten

langsung datang ke Banjarmasin.

Aku, Koopman Cillis Michelszoon

datang ke mari sebagai pedagang

Aku orang Belanda

tapi bukan Cornelis de Houtman

Aku bukan perampok

Aku datang ke Banjarmasin

ingin berdagang dengan semangat

saling menguntungkan

Anak saudagar Banjar yang dulu

menjadi korban perampokan

Cornelis de Houtman

juga datang ke pelabuhan

menyambut mesra kedatangan

Koopman Cillis Michelszoon.

Selamat datang di Tanah Banjar

Kisah lama yang kusam

sudah lama aku lupakan”

Tapi, entah bagaimana cerita persisnya

Setelah mereka bersukaria

semalam suntuk bercandaria

Besok pagi terbetik berita

Koopman Cillis Michelszoon

dan semua awak kapalnya

tewas terbunuh bergelimpangan

sebagai korban pembunuhan.

1612

Subuh ketika bulan sabit

mengintip di langit Tanah Banjar

kapal perang Belanda tiba-tiba merapat

ke pulau Kembang, Dari kejauhan mereka

menembaki para pedagang

di pasar terapung muara Kuin

Para pedagang kocar-kacir dibuatnya.

1626

Lada yang panas membuat Belanda tak kenal jera

Kali ini mereka datang dengan kapal Doon

Aneh tapi nyata, niaga lada

kali ini berlangsung mulus

tak ada pistol meletus

tak ada mandau terhunus.

1634

Siang, ketika matahari

mengelupas kulit ari.

Coysbert van Loudestega

datang membawa armada Belanda

Kali ini mereka datang bukan untuk berdagang

tapi untuk mendiktekan kehendak berkuasa

atas monopoli perdagangan lada.

1635

Suksesi yang ricuh di Kerajaan Banjar

memberi peluang bagi masuknya

pengaruh Belanda dalam kancah politik

antarbangsawan Banjar

Ketika yang menang adalah raja Banjar

yang dibantu Belanda, maka terbukalah jalan

untuk menjajah Tanah Banjar.

Diplomasi hutang budi yang mencuat

dalam kemelut yang disulut intrik politik

pecah belah dan hancurkan

membuat raja Banjar yang dibantu Belanda

tak kuasa menolak apapun kehendak

yang didiktekan Belanda.

Mula-mula monopoli perdagangan lada

lalu erakan kerja paksa membangun jalan raya

dan yang paling celaka Belanda

akhirnya juga bisa mendiktekan suksesi.

1 November 1857

Sultan Adam yang mangkat

meninggalkan wasiat keramat

bahwa cucunya Pangeran Hidayatullah

harus dirajakan

Tapi Belanda tak pernah peduli pada

wasiat keramat dan kehendak rakyat.

3 November 1857

Residen Belanda dengan paksa

menobatkan raja boneka Pangeran Tamjid Dillah.

Pangeran Antasari, seorang bangsawan Banjar

tubuhnya gemetar menahan marah.

Ini penghinaan yang tiada tara

bagi kedaulatan Kerajaan Banjar

Orang Belanda sudah terlalu jauh

ikut campur dalam urusan pribadi tanah air kita

Suka atau tidak suka,

masalah suksesi adalah hak

yang paling pribadi dari seorang Raja Banjar

Pangeran Hidayatullah harus dirajakan

barang siapa berani melanggar wasiat itu

terkutuklah dia tujuh turunan.

Hai, rakyat Banjar yang cinta

dan setia pada tanah air tercinta

Ikutlah bersamaku dalam

barisan perang melawan penjajah Belanda

Kita bentuk barisan jihad fii sabilillah

Kita usir Belanda dari Tanah Banjar tercinta.

28 April 1859

Pecahlah Perang Banjar yang dahsyad itu

Seruan jihad Pangeran Antasari

bergema ke mana-mana

disambut di mana-mana

Bergema di Banua Ampat

disambut Temenggung Jalil

Bergema di Margasari

disambut Aling dan Sambang

Dari Margasari mereka berjalan kaki

menyerbu Gunung Jabuk

perkebunan karet milik Belanda.

Bergema di Amandit

disambut Temenggung Antaluddin

dan Panglima Cakrawati

Dari Amandit mereka

berjalan kaki menuju Tambai

menggempur habis pasukan Belanda

yang berjaga di sana.

Bergema di Tanah Laut

disambut Haji Buyasin dan Pembekal Bungur

Di sini mereka menyerbu masuk ke Benteng Tabonio.

Bergema di Tanah Barito

disambut Temenggung Surapati

Di Lontotur mereka berjaya

mencegat kapal Onrust Belanda

Semua awak kapalnya dibantai

dan kapalnya ditenggelamkan

ke dasar sungai Barito.

Bergema di Tanah Kahayan

disambut Mangkusari

Bergema di Tanah Kapuas

disambut Singapati

Perang Banjar

Perang yang dahsyad

Haram manyarah

Pantang mundur

Waja sampai ka puting

Perang Banjar

Perang yang dahsyad

Haram manyarah

Kukuh teguh hingga merdeka

Waja sampai ka putting

Banjarmasin, 5 Agustus 1995


 (Rg Bagus Warsono,Kurator sastra di HMGM)



8. Membangunkan Alam , Benda dan Hewan

 Membangunkan Alam , Benda dan Hewan 


   Puisi sebagai media penyampaian penyair mengungkapkan isi hatinya memiliki cara tersendiri. Kadang tampak jelas tersamar, kadang kamuflase, kadang semu dan kadang menyimpan rahasia.


   Adalah Tan Lioe Ie penyair yang pandai membuat pembaca diajak bercengkerama dengan ‘permainan bahasa yang penuh makna sehingga melahirkan puisi yang luas arti dan penuh reka apresiasi. Ia membuat benda , hewan atau alam menjadi hidup seakan bergerak mengiring pikiran pembaca yang sekaligus menemukan makna puisi.


   Mari kita lihat puisi dengan penyampaian kata ‘meminjam dari objek alam, benda dan hewan atau apa saja lewat puisi tetapi menjadi hidup. Seakan puisi itu bernyawa.


Burung Pematuk Biji Mata

Tan Lioe Ie*


Burung apa yang bertengger di kepalamu?

Sementara kau terus berdoa

sambil menghitung biji-biji tasbih

dari waktu yang batu.

Tiba-tiba terserap kau ke dalam pintu

Membuka dan menutup diri

Menjadi tua dan lapuk.

Aneh, meski keras kau guncangkan kepalamu

burung itu tak juga pergi

menunggu saat mematuk biji-biji matamu.

Lalu ruh angin datang

menerbangkan

ruhmu ke peniupnya

Dan kau pun tahu

Mata yang padam

Tak menyimpan cahaya


*Tan Lioe Ie (lahir di Denpasar, Bali, 1 Juni 1958; umur 58 tahun) adalah seorang penyair Indonesia terkenal asal Bali. Ia merupakan penyair pertama Indonesia yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa dalam puisi bahasa Indonesia. Walaupun bernuansa etnik kental, puisi-puisinya tetap mempunyai daya pikat bagi kalangan luas. Hasil karyanya pernah dimuat di berbagai media massa seperti; Bali Post, Horison, Berita Buana, Suara Merdeka, Kompas, Media Indonesia, CAK, Coast Lines (Australia), dan Bali The Morning (Indonesia–Inggris). Kumpulan puisinya yang lain adalah Kita Bersaudara (diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dr. Thomas Hunter Jr, We Are All One)


 (Rg Bagus Warsono,Kurator sastra di HMGM)



7. Dialektika Cinta

 Dialektika Cinta


   Cinta adalah puja-puja , pria atau sebaliknya. Cerita-cerita cinta memang segudang buku dari seribu pujangga seakan tiada habisnya digali dari sumur yang kering sekalipun. Puja-puja adalah hal yang wajar dari pemilik cinta. Tetapi kadang nyaris tiada diabai karena tidak mendapat kesamaan pandang.


   Puisi-puisi itu seakan warna dari sejenis yang diungkapkan berbeda namun tetap memiliki kekhasan dari penyair ini. Dia potret semua perilaku perempuan dengan kekaguman dari kodratnya yang lemah namun tangguh dan slalu menjadi pelajaran bagi perempuan dan cermin bagi laki-laki.


   Puisi ini seperi rindu yang tercecer namun sangat apik kemasannya. Penyair yang memiliki kepiawaian olah pilihan kata. Sehingga rindu yang tercecer itu mampu dijadikan sebuah syair tersendiri yang mampu mengajak dialektika pada pembacanya.


   Bicara cinta tanyalah pada Ratna Ayu Budhiarti, penyair yang dapat memberi rasa cinta dengan segala problema yang ada:

Berikut karya penyair cantik ini :

Ratna Ayu Budhiarti dalam :


Matilah Kau di Dadaku

Ratna Ayu Budhiarti


matilah kau!

oleh kerinduan yang kuoleskan pada pisau

yang bersarang di dadamu

matilah kau!

oleh kehangatan yang terlambat kau tambat

tanpa sempat menuju dermaga

tempat kita bermain-main dan bertukar kisah

sambil mengulum manis kembang gula bersamaan

matilah kau!

di sudut kerling pecintamu yang kau sembunyikan

pada jarak yang berabad

matilah kau!

ditikam sepi dan rindu berkali-kali.

2012


 (Rg Bagus Warsono,Kurator sastra di HMGM)










6. Memotret Peristiwa Sejarah

 Memotret Peristiwa Sejarah


   Puisi ibarat rekaman masa lalu. Potret penyair akan peristiwa yang dilihatnya, dialaminya, dimata kepala sendiri. Tangan-tangan penyair mencatat semua itu dengan bahasanya yang penuh pesan. Peristiwa menjadi diingat karna puisi itu dan puisi menjadi prasasti sejarah dari kesaksian penyair.


   Anak-anak tidak akan tahu mayat bergelimpangan di jalan antara Kerawang dan Bekasi demi kemerdekaan bangsa ini andai Chairil Anwar tak menulis puisi.


   Begitu juga peristiwa lainnya banyak dicatat penyair dalam puisi. Puisi sejarah ini terkadang menjadi terkenal dikarenakan peristiwa yang dilukiskan dalam puisi itu menggugah apresiasi pembaca. Karena itulah puisi menjadi bernilai sejarah.


   Mungkin saja berpendapat puisi diperuntukan untuk hadiah seseorang, bingkisan moment tertentu, atau mencatat peristiwa sejarah. Seperti puisi 'Kerawang Bekasi' karya Chairil Anwar itu boleh jadi puisi dengan kandungan nilai sejarah bangsa ini.


   Bahasa Chairil tentu beda dengan bahasa Zubidah Djohar, penyair ini juga mencatat sejarah lewat puisi.  Apa yang dilihat dan dicatat Chairil dialami oleh Zubaidah Djohar dalam waktu yang berbeda.  Ia menyaksikan tragedi dengan menulis puisi yang menjadi terkenal seperti halnya Chairil Anwar.  Berikut cuplikan puisinya:


Cerobong Yang Terkabar

Zubaidah Djohar*


Entah cerobong mana

Yang mengabarkan

Periukku mengenyangkan

Kaum pemberontak

Cawanku menghilangkan

Dahaga yang sesak.


Aku diambil paksa

Dibawa ke Meunasah

Dibawa ke Kompi.


Dua hari dua malam

Ragaku perih

Perih dalam lumpur luka

Yang bercuka


Tak puas dengan jawabku

Kodim pun menunggu nyata


Tiga belas hari lamanya, tubuhku

Lebur dalam sejarah

Hitam pekat!

 (2008)


*Zubaidah Djohar yang akrab disapa Penyair Zhu (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat) adalah seorang aktivis kemanusiaan, peneliti dan penyair Indonesia dari Aceh. Ia banyak menyuarakan masalah kekerasan di Aceh dalam syair-syair puisinya, terutama keberpihakan terhadap kaum perempuan korban kekerasan.


 (Rg Bagus Warsono,Kurator sastra di HMGM)





5. Membawa Puisi Menjadi Hidup

 Membawa Puisi Menjadi Hidup


   Mari kita telaah bahasa puisi , seringkali kita membaca dua baris kalimat puisi sama arti atau dua bait puisi memiliki arti yang sama. Sajian yang berlebihan tentunya, pengulangan yang sebetulnya tak perlu. Tetapi itu juga dimaklumi andai menyuguhkan kata baru yang memberi kesan seakan bukan pengulangan. Penyair menemukan pilihan kata yang indah untuk dituangkan pada baris kedua padahal sama arti pada bari pertama, atau penyair menemukan pilihan kata baru pada bait yang akan ditulisnya setelah bait pertama seakan memberi puisi itu panjang. Padahal panjang dan pendek puisi belum tentu memberikan kesamaan bahwa puisi panjang memberi pesan panjang juga. Boleh jadi puisi pendek malah memberi pesan yang luas. 'Bulan purnama jatuh di danau malam hari apa beda dengan 'Purnama jatuh di danau . ? Tampa menyebut kata 'bulan , kata 'purnama sudah memberikan arti bahasa puisi yang menyatakan bulan purnama. Kata 'malam hari dalam kalimat itu adalah keterangan subjek yang tak perlu. Karena kata purnama telah memberi pengertian bulan penuh di waktu malam. 

   

    Bahasa puisi merupakan bahasa bagaimana menyimpan makna luas dalam pilihan kata indah. Jika mau panjang katakan dalam cerpen , puisi esai atau novel. Tetapi semuanya itu sah-sah saja karena hak cipta ada pada Anda. Mari kita lihat puisi berjudul 'Undangan ini:


 “Undangan”


'Deretan depan undangan istimewa

 kursi dengan baju putih berwiru indah.

Tertulis nama-nama yang beruntung di pernikahan putri milyader.

 Berdebar aku duduk tanpa pasangan istri

 kemana pacar aku tak punya

kanan kiri dudukku manusia sempurna

terjepit di kemewahan acara Tuan dan nyonya, Mas dan Mbak

serasi harmonis, klop dan pas kata terdengar mc mengenalkan.

Jangan aku jangan disebut sudah pasti orang tak laku .....//

(rg Bagus Warsono)


    Pandai nian pujangga bersyair, sedikit pesan banyak berurai kata, tetapi suka pembaca budiman membaca berulang, seakan puisi punggugah jiwa, pengalaman yang tak terkira. Bahasa puisi aneh tapi nyata panjang puisi sedikit pesan enak dibaca. Kenapa. Karena ada hal baru dan pegalaman baru. Tahapan yang paling tidak disukai sekaligus diharapkan penulis adalah kritik orang lain. Selama ini tabu rasanya memberi kritik pada puisi seseorang apalagi dalam segi tata bahasa. padahal kesalahan dapat dijadikan promosi di masa modern ini. Contohnya celana blu jean ada yang bagian lututnya sengaja disobek-sobek bahkan bolong, ada juga blu jean yang utuh malah dipotong, celana itu tetap di pakai dan katanya malah menambah keren bagi pemakainya. Lalu ada juga baju tambalan, kini malah tambah ngetrend, baju batik tambalan, baju batik dengan perpaduan kain polos warna-warni yang membuat batik pada baju itu semakin menyala.

   

   Keberanian menoreh kata yang jarang disentuh orang sangat perlu agar menjadi yang pertama dan utama. Doeloe pada masa pujangga sampai angkatan '66 penyair kita piawai menggunakan bahasa nusantara indah seperti 'bak (seperti) , 'nan (yang), 'duhai , 'adinda, 'laksana , dsb. Penyair modern kadang merindukan masa lalu, sedangkan bahasa terus berkembang, khasanah bahasa Indonesia semakin menebalkan kamus bahasa.

 

   Sangat penting artinya untuk mengikuti perkembangan puisi kita. Karena itu kritikus tidak harus melihat segi isi pesan muatan puisi, tetapi bagaimana penyair membawa puisi menjadi hidup. Tentu ini akan banyak dibantah, manakala justru sekarang puisi yang enak didengar (ketika pembacaan puisi) adalah puisi -puisi dengan bahasa yang dapat dicerna pendengar dengan mudah, contohnya dalam puisi-puisi yang dibacakan di roadshow PMK justru puisi yang cepat dipahami pemirsa yang mendapat apresiasi tinggi. 


 (Rg Bagus Warsono,Kurator sastra di HMGM)





4. Buat Gadis yang Datang Pagi Ini, dari Handrawan Nadesul

 Buat Gadis yang Datang Pagi Ini, dari Handrawan Nadesul


   Baru sampulnya saja sudah menjadi buah bibir pengguna facebook pecinta sastra Indonesia. Itulah antologi “Pergi Berjalan Jauh” karya Handrawan Nadesul. Penulis mengatakan ini buku bagus, bukan karena telah diiyakan oleh para kritikus dan tokoh sastra tetapi juga dari profesi lain seperti wartawan, dramawan, psikolog, dosen seperti  Taufiq Ismail, Alfons Taryadi, Dharnoto, Oei Sien Tjwan, Hamsad Rangkuti, Yudhistira ANM Massardi, Dharmadi, Eka Budianta, Prijono Tjiptoherijanto, Felix Aryadi Joelimar, Adri Darmadji Woko, Radhar Panca Dahana, Ang Tek Khun dan Noorca M Massardi telah memberikan apresiasi luar biasa terhadap antologi bersejarah ini. 


   Bagi penulis, Pergi Berjalan Jauh adalah lambaian perjalanan perjalanan seorang penyair dalam mengisi hidup penulisnya yang tertuang dalam puisi, bedanya adalah sajian untaian kata-kata yang memiliki ke-khas-an tersendiri yang menjadi ciri penulisnya yakni Handrawan Nadesul. Dari mulai Sehelai Kenangan Kepadamu, Kepada AM, Buat Sebuah Memori , Senja di Kota Kecil sebuah perjalanan hidup yang tidak saja menjadi sejarah kehidupan tetapi juga telah menjadi keinginan public untuk membacanya karena tulisan (puisi) yang menggoda untuk dibaca. Bahkan Dalam Sepi dan Angan-angan serta Kepadamu seolah persembahan Buat Gadis yang Datang Pagi Ini.


    Seperti juga yang lain Handrawan Nadesul mengalami apa itu yang dinamakan peristiwa yang menimpa getaran hati , mungkin cinta. Ia bicara Hidup ini , dalam Kamar , Dalam Kesunyian , tak hanya sebuah Imajenasi tetapi juga keyakinan akan datangnya sesuatu tak hanya sebuah Ilusi. Dan semakin Transparan ketika puisi Apa yang Patut Kuberikan Lebih Bagi Ibuku , Sementara Aku belum lagi Tahu Siapa Ibu Anak-anakku. Dia (Handrawan Nadesul) akhirnya membuat Sketsa Kebahagiaan sampai menghayal Ketika Duduk di Stasiun Ruang Angkasa.


//”…….Dari loteng galaksi, kuhitung-hitung umurku. Segaris nisbi belaka/ Berselonjor di samudra angkasa bagai atom tak  bermata. Dalam tepekur tenggelam aku di batin paling kuyup, saat kedua tangan kerdilku , masih salah mengukur jarak rumah-Mu. …”

//

(Handrawan Nadesul)




   Benar kata Yudisthira ANM Massardi, Handrawan adalah seorang penyair yang lembut, melankoli, dan teraniyaya oleh kerinduan pribadinya pada segala sesuatu yang dicintainya. Agaknya Buat Gadis yang Datang Pagi Ini dalam sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh telah diberikan Sekuntum Bunga Kecil yang Mungil , itulah sebagian judul sajak-sajak Handrawan Nadesul , penyair muda terpelajar kala itu yang humanis dan slalu dengan hati nurani.


 (rg bagus warsono 16-11-16)





3. Kekecewaan, Penyesalan dan Keyakinan Jiwa Kebhinnekaan

 Kekecewaan, Penyesalan dan Keyakinan Jiwa Kebhinnekaan


   Ali Syamsudin Arsi seorang penyair asal Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan seakan mebuka antologi ini dengan kekhawatiran terhadap negeri dengan terlulis lewat  “Daun-daun di Jendela Perpustakaan Gerimis”  


//… -ada libasan bayang-bayang ketika orang-orang berduyun di belakang berebut saling mencengkeram denga jari-jari tajam – kami hilang catatan – negeri ini semakin menuju arah ke curam-curam ketika tebing dengan setia menelentangkan tubuhnya atas keluh dan semua macam resahnya retak-retak embun sampai pecah-pecah cuaca,..// 


(Daun-daun di Jendela Perpustakaan Gerimis) bahwa perlunya dokumentasi sejarah di masa sekarang (dibuat januari 2014) dan perlunya pengokohan fundamental anak bangsa yang tidak saja menipis tetapi juga mengkhawatirkan dan bahkan mebahayakan keselamatan bangsa.


    Lalu Aloeth Pathi dari Sekarjalak-Pati meberikan pembuka jalan agar sedikit optimisme melalui rasa (Tanah Tumpah Darahku II: Daun Kami)


//…bangga apa yang telah diperbuat,

Biarkan yang rontok bercerita

Bahwa kami pernah bersatu menciptakan hijau

Meski kini kering tak memberi sejuk

Tapi pernah menggores catatan

pada batangmu yang mulai rapuh

benih-benih yang aku sebarkan

mulai tumbuh menjadi tunas-tunas

siap menerjang pilar-pilar yang menghadang

biarkan akar itu menjalar

di sisi ruas-ruas jalan….// 


Aloet Pathi meyakinkan Ada suatu optimisme walau dalam keadaan dan bahkan rintangan, seakan kelak berjalan dengan sendirinya, seakan ia berkata nanti juga aka nada penyelesaian.

apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan.


CecepNurbani penyair muda berbakat dar Garut memotret negreri dalam pandangan mudanya yang seakan kecewa,  demikian  syairnya:


//…ditrotoar..,

kaki lima mengadu nasib dengan

memasang badan takut takut petugas datang

seperti maling mengintip tuan rumah

gadis cilik bersaudara bernyanyi sambil menghirup udara segar dari kaleng Lem

pengamen jalanan bernyanyi bermuram durjana sambil melihatkan  taringnya berharap uang kertas yang diterima

suungguh konyol dan menyedihkan  negeri ini….//


(Apapun itu Nama dan Jenisnya Selalu Berserakan)

Ada suatu yang menarik untuk disimak sebagai renungan dalam mengapresiasi buku ini seperti


   Melihat Tanah Air sendiri dari pandangan setiap orang Indonesia adalah warna-warni. Suka dan tak suka, puja dan cerca, senang dan bosan, sanjung dan kritik. Penyair  Dwi Klik Santosa memotret Indonesia dala kepahitannya, seperti tertuang dalam “Berita Para Pemabuk”

“Akukah tak layak hidup.


//…Di bumiku yang kaya

janji-janji seperti nyanyian iblis.

Tak benar aku hendak dibawa ke sana.

Tapi lihat aku kini.

Melulu mengais-ngais sampah

di negeri sendiri.”//


Dwi Klik Santosa ingin mengajak untuk enengok kepahitan itu. Kepahitan  hidup adalah pengalaman kegetiran seseorang agar ditempa menjadi kuat dan tak terulang.


Lalu penyair eL Trip Umiuki menuliskannya dala sebuah syair yang sangat mendalam bahwa keadaan – keadaan Indonesia dengan berbagai problema seperti

“Sumur Tanpa Dasar”, demikian syairnya penutupnya:


//…sarjono namanya

sarjana sains, ekonomi, sekaligus psikologi

sayang pengalaman kerja takpunya

bersimpan bara di kepala minta kerja ia kepada tetangganya

mandor bangunan di kota

mengaduk pasir dan semen ternyata bukan kerja sederhana

dengan dendam membara

mencangkul dia mencangkul

menggali lubang di kebunnya

takpeduli darah berlumur terus mencangkul

menggali sumur

senin selasa rabu kamis jumat sabtu

tak ada minggu dan hari libur ia

terus mencangkul terus//.


   Demikian kebhinnekaan menjadi warna-wani dari sudut pandang sastrawan kita. Seperti Fahmi Wahid mencoba mengingatkan akan Indonesia sesungguhnya sebagai negeri maritime negeri bahari yang pernah Berjaya. Lewat “Tangis Keberagaman”, ia menuturkan :


//…di hunjur kuningnya ladang

pada tebaran kicau kepodang

semasa hembus sejuk angin gunung

melipur musim yang kian gamang

petuah dan petitih enggan dimengerti

dan kebersamaan kini tak punya arti

sebab semua manusia tak lagi punya nurani

menyelamatkan kearifan budaya bahari

yang hampir tak terjamah lagi….//


Penyair Gampang Prawoto juga menulis bahwa merasakan semua itu adalah rasa dan aroma setiap manusia yang kadang tak mengerti hitam dan putihnya apa yang terjadsi. Seua adalah rasa katanya seperti dituturkan dalam syair :


 “Secangkir Rasa”

//…jangan hanya manis di pantai bibir

pahit di pusara hati

lidahku belum kelu

pemanis tak biasa tersuguh di meja rasa

walau tanpa gula

aroma kopimu aku baca tanpa mengeja

panas – hangatnya warna.//.


Di puisi Moh. Ghufron Cholid memberi kekuatan utuk meyakinkan pandangan-pandangan itu bahwa Indonesia itu meiliki kekuatan yang tak akan goyah walau dalam kegetiran papa pun. Seperti tertuang dalam :


 ‘Sebab Indonesia Adalah Kita”

//…tumbuh di tiap mata

mata hari

mata jiwa

mata doa

yang tak kenal purba

Indonesia takkan musnah dalam peta

jika kita tak mengamini ramalan-ramalan asing

yang menanam benih-benih asing

dalam jiwa kerontang….//.


Senada dengan Moh. Ghufron Cholid, penyair Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara mengajak utuk saling menjaga keistimewaan Indonesia itu.


“Bhinneka Tunggal Ika adalah Aku”

//…di mana lagi kami tanam bulir harapan

bila seluruh kehijauan hutan bunda

telah habis digeser bangunan-bangunan

berbaju kawat, baja, semen dan beton

ke mana jua kami layarkan perahu kebersamaan

sebab semua kolam susu pertiwi

keruh sampah payau berbisa

bagaimana kami menegakkan tugu pertahanan

karena kini tiap jengkal tanah terbongkar

di keteragisan reruntuhan negeri inilah

mari, kita bergenggam dan saling gandeng bersama

mempertahankan hakikat dan keutuhan bangsa…//.


Roni Nugraha Syafroni dalam “Semboyan” di bait terakhir syairnya seakan mengambil keputusan tentang slogan kebangsaan kita agar menjadi semboyan yang tidak saja sebagai slogan tetapi dihayati, seperti dalam syair ini:


//…Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,

tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.

Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,

agar berguna teruntuk generasi mendatang.//.


Ada sebab-sebab pemberian keputusan itu tentu dari pengalaman dan sejarah bangsa. Seakan tak terima juga jika bangsa ini mengalami keretakan dari rantai kebhinnekaan itu. Soekoso DM  menulisnya dalam syair “Sajak Trenyuh Kala Sayap Garuda Nyaris Runtuh”, demikianj bunyi cuplikannya:


//…biarkan beda adat jadi rahmat beda budaya jadi taman bunga                                                                                     sebab Tuhanlah yang telah menanam benihbenihnya

Orangorang bertegursapa                                                                                                                        saling menjabat saling cinta

(Di ruangruang kelas dan di tanah lapang anakanak bernyanyi                                                                                      lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Bagimu Negeri).//


Pujian pun diberikan penyair Syarif Hidayatullah lewat


“Rangkaian ikatan huruf, Indonesiaku” seperti dalam cuplikan ini://…Alif yang tegak mampu jadi hutan esok hariNun tanpa titik menjadi danau yang melegenda. Baa nan mungil tempat transportasi membelah sungai negeriku. Gunung-gunung memperindah goresan Tuhan dalam ikatan satu Ika….//


Bahkan Wadie Maharief  meyakinkan akan kecintaan terhadap bangsa ini, Ia tuliskan lewat syair “Lima Ekor Merpati Menembus Mendung” demikian bunyi cuplikannya dalam bait terakhir :

//…Lima ekor merpati melesat

Lubang ozon mencairkan es di kutub

Tujuh lapis langit terluka

Lima ekor merpati kehilangan sayap

Jatuh di pulau-pulau terbakar

Api cintamu yang berkobar.//


Masih banyak puisi lain yang menarik dan enak dibaca dalam buku ini seperti karya-karya dari : Ridwan Ch. Madris, Sokanindya Pratiwi Wening, Sus S. Hardjono, Abdul Wahid, Andrian Eka Saputra, Dimas Indiana Senja, Eddie MNS Soemanto , Fasha Imani Febrianty, Iwan Kuswandi, Julia Hartini, Mohamad Amrin, Muhammad Hafeedz Amar Riskha, Nieranita, Novy Noorhayati Syahfida, Puji Astuti.


Akhirnya Wardjito Soeharso mengajak kita seua untuk merenungkan seperti judul puisinya 


“Ngudarasa”


//Sadalan dalan

Anane mung gronjalan

Mergo akeh kedokan

Salurung lurung

Anane mung bingung

Mergo adoh gurung

Yen dalan wis kebak kedokan

Lurung wis akeh sing suwung

Gurung wis pedot sakdurunge diulur…//


bahwa banyak tanda-tanda zaman ini untuk dapat tidak saja untuk direnungkan tetapi juga untuk disikapi generasi uda sekarang.


//…Tan ana asile kang mapan

Mula ta tansah elinga

Bebrayan iku tansah sangga sinangga

Abot enteng nora rinasa

Arepa awan panase sumelet

Bengine peteng ndedet lelimengan

Kabeh lumaku kanti rahayu.//.


   Demikian jika sastrawan mengungkapkan apa yang dirasakan pancainderanya memberikan suguhan rasa tersendiri, semoga dapat memberikan penyejuk dan apresiasi mendalam terhadap buku ini.


 (Rg Bagus Warsono,Kurator sastra di HMGM)













2. Taufik Ismail Pandai Menjual Puisi

 Taufik Ismail Pandai Menjual Puisi


   Taufik Ismail pandai menjual puisi. Mari kita perhatikan puisi karya Taufik ini yang berjudul Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini. Judul yang tampak gagah dengan penggunaan kata-kata yang tegas 'Adalah, 'Pemilik, 'Sah dan juga penggunaan kata 'Republik pada saat 1966 itu memang lagi ngetrend.


    Judul ini seakan membuat kita pernah diberi pertayaan, setidaklnya : masihkah kita diaku sebagai pemilik republik ini, atau : apakah yang punya republik ini orang-orang tertentu saja? , yuk kita simak puisinya :


Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Karya Taufik Ismail 1966


Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.


(rg bagus warsono 23-8-2015)



1. Kepiawaian Chairil dalam Mencipta

 Kepiawaian Chairil dalam Mencipta


   Demikian Chairil menjadi Prajurit Jaga Malam, Chairil tak bicara rokok atau kopi penahan kantuk, tak bicara nyamuk , kelelawar ddan embun dini hari. Chairil pandai menjadi puisi, menjadi dirinya seorang prajurit jaga malam, menusuk pikiran si penjaga malam, dan bersembunyi di hati dalam dada prajurit jaga malam. Chairil memang jempolan,berikut puisinya:

Prajurit Jaga malam 

karya Chairil Anwar


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


(rg bagus warsono 23-8-2015)




Apresiasi Puisi Dari Chairil Sampai Penyair Modern

 Kumpulan Esai

Rg Bagus Warsono

Pengantar 

Ternyata puisi itu abadi. Kapan pun dapat menikmatinya, sebagai apresiasi yang juga dapat diungkapkan, seperti dalam buku ini. 

Menikmati puisi dahulu dan sekarang ternyata banyak kesamaan. Bedanya cuma pada objek puisi tersebut. Jika pada masa lalu memilih puisi indah itu hanya terdapat pada buku-buku tertentu atau sastrawan sastrawan yang menerbitkan bukunya di penerbitan nasional seperi balai Pustaka, Pustaka Jaya, Dian Rakyat dan Gramedia, kini telah banyak pusi diterbitkan di berbagai penerbitan nasional atau penerbitan dengan publishing. Ternyata keindahan puisi itu banyak jumlahnya dan semakin tak terpantau. 

Seiring dengan meningkatnya jumlah penyair di Indonesia adalah bukti bahwa peminat sastra kusus puisi semakin banyak bahkan telah memasyarakat. 

Penulis ketegahkan sesuatu yang menarik dan sangat perlu diapresiasi. Bahwa ada di belahan nusantara ini, di pelosok nusantara ini yang mengusung keindahan. Adan penulis berbagi untuk semua. 

Salam Sastra.  





Selasa, 27 Mei 2025

Bangganya Bembawa Sekeranjang Ikan, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Bangganya Bembawa Sekeranjang Ikan


Menyeringai nelayan itu memeluk keranjang 

ikan untukmu duhai istriku manis 

aku buktikan dalam sekeranjang  

ikan dan cinta 

ikan dan rumah 

ikan dan anak-anak 

Tersenyum nelayan melepas ikan 

dengan rokok dibibirnya 

dengan sekarung beras 

dengan segenggam rupiah 

esok aku berangkat lagi 

kau istriku berdoalah 


  Karangsong, Desember 2017





Nelayan Tidak Tidur, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Nelayan Tidak Tidur


Sebab ikan berkerumun 

seperi kawanan bangau 

seperti walet sore hari  

seperti pipit padi 

lalu mereka tebarkan jaring  

menjebak ikan dalam melawan arus  

dan biarkan jaring menunggu  

lalu tidur  

menanti ikan  

Ketika nelayan bangun 

jaring terasa berat tenggelam  

Ikan diangkat 


  Karangsong, Desember 2017