Sabtu, 15 Agustus 2026

Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia (15-30)

 016. Asti Musman


Meminang Harapan


Jika harapan itu tinggi

Akankah kau turunkan, Tuan?

Rakyat tak butuh janji muluk

Mereka rindu peluk

Tapi bukankah cita-cita harus tinggi?

Tak ada larangan bicara berbusa

Menyantolkan harapan setinggi angkasa

Tapi lihatlah ratapan rakyat sengsara

Tampaknya kita beda langkah, beda citra, Tuan!

Kau kata pembangunan untuk rakyat semesta

Namun kau buka sawah

Kau buka kebun, kaugali tambang untuk siapa?

Untuk segelintir manusia?

Bisakah kami pinang harapan itu tuan?

Bukankah kuasa bijaksana jelma rakyat sejahtera?

Mungkin kau lupa caranya

Ataukah kau memang menulikan telinga, butakan mata?

Sudahi pesta poramu, Tuan

Rakyat lelah memanjat pinang

Kau gantung tinggi angan-angan

Hidup jadi serupa beban

Bilakah kau buka pintu sukma

Merajakan sejahtera untuk semasa

Moga kau ingat janji

Janji cuma kau simpan dalam peti

Bahkan mungkin sampai kau mati


Madiun, 7 Agustus 2026



Asti Musman *adalah nama pena Estiningdyah, SP. Perempuan yang lahir di Tuban,jawa Timur 24 Juni 1968 ini merupakan pegiat Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya) serta aktif mendukung kegiatan Lumbung Puisi. Ia telah menulis sekitar 40 karya baik fiksi maupun nonfiksi dengan tema utama motivasi atau pengembangan diri dan budaya Jawa. Buku terbaru yang ia tulis : “Jangan Mengejar Hidup Senang Tapi Kejarlah Hidup Tenang” (Araska, 2026). Ibu dua anak ini juga menjadi bagian dari antologi MBGendam (Buana Grafika, 2026). *

























017. Rumah Tani /Ujang Saepudin


Panjat Pinang di Atas Tanah Leluhur


Berdiri kami

di bawah tiang licin penuh oli

bukan untuk hadiah

yang telah lama menggantung nasib

tapi, untuk melarungkan sehimpun tanya

yang telah lama mengakar di tanah leluhur

Mengapa puncak selalu jauh

mengapa tangan kami harus saling injak

demi selembar bendera dan sekantung gula

Mengapa?

tertawa di bawah riuh sorak

sedang keringat kami bercampur tilas tapak perjuangan

tak masuk hitungan

yang di atas bersorak menonton

sedang yang di bawah bahu-membahu rebah meraih janji tak bertepi

Panjatlah! Teriak mereka.

siapa yang melumuri tiang ini begitu licin

siapa yang menggantungkan hadiah di puncak

dan mengatakan: keadilan

dengan suara remang

Kami penonton yang lelah

berjibaku jadi penentu arah

turunkan pinang itu!

turunkan pinang itu!

jangan suruh kami memanjat di atas punggung saudara kami

Adakah kemerdekaan

bukan soal siapa

yang paling cepat sampai ke puncak,

adakah kemerdekaan itu, saudaraku?

tapi, semua dapat berdiri di tapak tilas tanah leluhur ini

tanpa harus terpeleset oli


Cianjur, 7 Agustus 2026


Ujang Saepudin, penyair asal Cianjur beraktifitas sebagai pendidik dan petani. Beberapa puisinya pernah dimuat di koran cetak maupun media digital; Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Radar Kediri, Balipolitika, Kurungbuka, Riau post, dan beberapa puisi lainnya terhimpun dalam beberapa antologi bersama; karyanya masuk 30 besar Payakumbuh Poetry Festival 2022, dan terakhir puisinya masuk antologi Ramu-Ramu Warteg yang digagas DKKT Tegal.






















018. Fajri Hamzah, 


PANJAT PINANG


Di alun-alun yang meriah itu,

didirikan lagi sebuah tiang licin.

Diolesi minyak dan tawa,

diberi nama: kemerdekaan.

Lalu kita disuruh naik.

Bertelanjang dada. Berdesak-desakan.

Yang paling bawah menahan beban,

pundaknya retak, lututnya berdarah.

Yang di tengah menginjak kepala kawannya,

sambil berteriak: "demi kebersamaan!"

Dan yang paling atas —

yang paling ringan,

yang paling licik mencari pijakan —

dialah yang sampai.

Mengambil kulkas, sepeda, dan televisi,

yang tak pernah ia butuhkan.

Di bawah, kita bersorak untuknya.

Seolah-olah kemenangan satu orang adalah kemenangan kita semua.

Padahal tiangnya masih sama.

Licin.

Tegak.

Menertawakan kita yang mengira ini lomba.

Kita memanjat bukan untuk naik,

tapi agar lupa siapa yang melumuri tiang itu dengan minyak.


Fajri Hamjah adalah guru juga kadang ke sawah

*Tinggal d cianjur *



019. Ahmad Maliki Mashar


KE PUNCAK MERAH PUTIH


Kumendongak

tinggi ke puncak

ke pucuk Merah Putih berkibar

Hadiah bak bintang digantung

bergemerlapan

hanya ompreng yang belum digantung

Otot-otot keringku menggeliat

hitam mengkilat

Bukan sebab kuat

tapi panas mentari terlalu hangat

Riuh tepuk tangan menjadi tambul

semangat pun muncul seperti bisul

Tak hirau kepala dipijak

harapan terus menggelegak

Tulang kering menggeletar

oh, anak negeri sudah begitu lapar

Lapar mengunyah selain pidato-pidato menggelegar

kocak melompati nalar

Kumendongak

tinggi ke puncak

Hadiah bak bintang digantung

berpucuk Merah Putih berkibar

Tanganku menggapai

Tercapai

merah putih ka-de-em-pe yang tak segar.


*Sekara, 7 Agustus 2026. *






020. Heru Patria.  


BATANG BATANG PINANG USANG


kemerdekaan sejati letaknya di dalam hati

bukan pada kibar bendera di puncak tiang tertinggi

kemakmuran telah raib dari negeri ini

keadilan cuma sebatas mimpi

teronggok di kantong kantong baju safari

menggantung di ujung dasi

tikus tikus oligarkhi

batang batang pinang telah lapuk

di antara aneka barang tambang yang rakus dikeruk

di dalam hutan yang digunduli secara maruk

oleh badut badut serakah bertubuh gemuk

menguras kekayaan negara dari kursi empuk

saat sidang mata mengantuk

kebanyakan timbun harta hingga menumpuk

batang batang pinang telah usang

terhempas dalam kas negara tanpa uang

negeri kaya sumber daya alam tapi terjerat hutang

sebab kepentingan rakyat tak dibuang

jelata tercekik pajak tak dipandang

kebijakan dibuat hanya untuk segelintir orang

kroni para pecundang

batang batang pinang menjadi saksi

ketika pemilu hanya sebatas parodi berbagi kursi

politik hanya sederet omong kosong yang dilegalkan atas nama demokrasi

pemerintah jadi tukang palak kejar pajak tinggi

persetan orang susah karena birokrasi

yang penting pejabat senang berkolusi

kelak jika batang batang pinang telah bertunas

rakyat akan serentak mengambil langkah tegas

menggugat pemerintah yang menjadi pemeras

hingga anggaran habis terkuras

untuk laksanakan program yang tak jelas

ladang koruptor paling culas

nanti jika batang batang pinang bersemi kembali

rakyat sebagai pemilik syah negeri ini

akan menuntut haknya sesuai konstitusi

bahwa tugas pokok negara membuat hidup damai

bukan membuat rakyat sebagai

tikus yang pantas mati di lumbung padi

suara rakyat adalah suara tuhan

penentu arah kebijakan yang harus dijalankan

selurus batang batang pinang

yang dibuat licin oleh segelintir orang

bertopeng malaikat berhati setan

tunggu saja saatnya

batang batang pinang bakal menyumpal mulut durjana

Blitar, 7 Agustus 2026


Heru Patria adalah novelis asal Blitar yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya sudah dimuat diberbagai media cetak maupun online. Adapun buku puisinya yang sudah terbit adalah : Berita dari Kolong Tol (2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (2022), Orasi Anak Negeri (2023), Rhapsodi Dua Hati (2024). Selain itu ia juga menulis puisi dan cerpen berbahasa Jawa dan meraih Anugerah Sutasoma pada tahun 2024.










021. Reis Ersyad M


Bersorak di panjat pinang


( catatan pinggir teruntuk mas dalang Seno Nugroho

juga teruntuk perupa gambar mas Nasirun: tolong nanti disampaikan


jika ketemu para pejuang kemerdekaan --saya baru bisa kirim serantang


patahan surat al-fatihah sedang nonton lomba panjat pinang hari kemerdekaan)


Oii! adakah kau tak bersorak satir --ini pesta sedang digelar

: meriam tembak kanak-kanak di tanah semak lapang rerumputan,

 ini pesta rakyat panjat pinang sedang ditancapkan teruslah bersorak


sedang dikobar,

di ujung atas paling ujung lingkaran bendera tanah airku berkibarkibar

merdeka dari perlondo-londoan yang menggantung macam-rupa hadiah


barang kegembiraan

mrosot bersedekap licin oli permulaan akhir kegembiraan

yang dipercumakan wajahwajah tawa keringat oli setahun sekali

: ini pestaku di rakyat dalam rangka ulang tahun kemerdekaan,

( padahal yang kutahu itu kawanku jika kesampaian hadiahnya akan dibagi


dibelikan seliter beras premium setengah liter minyak sepotong ikan bawal


: anaknya yang tertahan lapar di iring-iringan kapital persembunyian kongsi


korupsi --Tuhan, izinkanlah terus bersorak di ini pesta kerakyatan: merdeka!)


Jatiwaringin - Bekasi 08.08.2026


Reis Ersyad M*,kelahiran Labuhan Bilik 10 Desember 1972: pernah menulis cerita pendek dan puisi di Suara Merdeka,Tabloid Mingguan Cempaka dan Koran Wawasan --Bekerja sebagai praktisi Konstruksi




















022. Diana Tustam, 


Angin Bertanya, Kau Menjawab


Angin yang meliuk pelan di atap gubukmu bertanya:

Apa yang tersisa dari dompetmu,

selain kartu tanda penduduk

yang mengakui kau warga negara Republik ini

yang kabarnya memelihara orang miskin

dan anak-anak terlantar?

Kau menjawab:

Tak ada kecuali karcis retribusi yang menodong

karena saya meletakkan sebakul daun pisang di pasar.

Tak ada selain janji-janji kampanye yang saya catat

dalam secarik kertas seperti sebuah azimat.

Tak ada selain sisa koyo yang menawar sakit kepala

ketika perut anak-anak menagih hari ini makan apa.

Angin tercenung.

Dengan derunya yang perkasa

ia menerbangkan suaramu

ke gedung dewan rakyat.

Rupa-rupanya,

suaramu kalah lantang

dari denting angka-angka

yang tidak pernah sungguh-sungguh

menimbang nasibmu.


Makassar, Agustus 2026.


Diana Rustam, *tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Menulis puisi dan cerita-cerita pendek di media digital. *




023. Bambang Widiatmoko, 


Negeri Luka



Siang menyambut kedatanganku dengan rasa gagap

Menaiki tangga dari tempat parkir kedatangan

yang terasa dingin dan sunyi

Terkagum ketika melihat hamparan lautan di atasnya

Bergumam dalam hati:

“Inilah negara kecil di bawah permukaan air laut

Namun mampu menjajah tanah air sekian ratus tahun lamanya?”

Berkedok dagang dengan bendera VOC

Lalu menciptakan lomba panjat pinang

Dengan hadiah bergelantungan di atasnya

Menertawakan kemiskinan dan kebodohan pribumi

Ratu Wilhelmina pun tertawa dan menyibakkan gerai rambutnya

Menyaksikan yang berlomba memanjat batang pinang

untuk mencoba meraih hadiahnya

Menertawakan tubuh tubuh yang melorot dan bertindihan

Tersebab batang pinang telah dilumuri pelican

Tertawa sinis yang kurasakan bekasnya hingga kini.


Negara di bawah permukaan air laut

Membanjiri dengan penderitaan sepanjang abad

Dalam catatan risalah dan sejarah yang luka.

Lalu mengapa kita mewarisi tradisi lomba panjat pinang

Setiap memperingati hari kemerdekaan

Meski telah berganti sebagai simbol bentuk kerjasama perjuangan

Dengan kerumunan penonton yang riuh rendah menertawakan

Yang jatuh bertumbangan daripada keberhasilan meraih kemenangan?


Gunung Putri, 8 Agustus 2026


Bambang Widiatmoko *adalah penyair kelahiran Yogyakarta yang kini menetap di Bogor. Kumpulan puisinya Tetaplah Tidur Mendengkur terpilih masuk 10 besar buku puisi pilihan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Republik Puitik (2025), Kariyau Hutan (2025), Share (2025), Kitab Omon Omon (2025), Empat Belas Purnama (2025), Zamrud (2025), Layang-Layang Tak Memilih Tangan (2025), Semesta Ingatan (2025), Menjaring Tanah Menghapus Resah (2025), Ramu Ramu Warteg (2026), Mozaik (2026). Ikut menulis esai di buku al. Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL, 2021), Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021), Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021), Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021), Antologi Kritik Sastra dan Esai (KKK. 2021), Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). *








024. Malik, 


Bingkisan Agustus

(segmen: menggugat keadilan hukum)


Hukum adalah Panglima

penguasa timbangan keadilan

tua, berkarat dan lebih sering istirahat tapi neraca nya tetap, di kiri dan kanan.

Frasa manusia purba

menyebutnya; "adil"

Ia tidak kenal nama besar.

Ia tidak kenal rekening tebal.

Hari ini,

hukum diterjemahkan algoritma.

namanya diubah jadi "Rasa Adil".

bisa disetting lentur dan fleksibel

bisa di update sesuai deposit.

Ia tidak lagi menimbang keadilan

ia memindai barcode pembenaran

scanner nya pembaca transfer

kebenaran di pindai sesuai order.

Keadilan jadi pengangguran.

ia di-PHK oleh barcode pembenaran

orang mulai lupa wajah hukum

dan rasa adil jadi gosip zaman.

Merdeka jadi kelihatan pincang

limbung makin condong ke seberang

neraca hukum dijadikan cuan pelindung

keadilan merdeka semakin di pasung.

Medan, 08 Agustus 2026





Malik *adalah nama panggilan kecil dari penulis

kelahiran kota Medan. Pria asli anak Suku Koto dari Maninjau Sumatera Barat ini sudah hobi menulis sejak kecil dan tertarik menulis sastra puisi sejak SMP kala ia menulis puisi pertamanya untuk menyatakan "Cinta Monyet"

Sejak itu lelaki ini terjun bebas ke ranah sastra puisi hingga hari ini banyak tergabung dalam antologi puisi bersama sahabat medsos Facebook. Diantaranya antologi Bukit Tinggi Ambo Disiko, Pelangi Sukma, Indonesia Berbisik, Indonesia Tanah Air Beta, dan sejumlah banyak antologi puisi lainnya.

Penulis dapat di hubungi melalui kontak hp/wa di 082166464355 atau link Facebook *.






















025. Ule Ceny, 


POTRET DI (RI) DALAM PANJAT PINANG


Dalam bingkai jiwa

merah putih menari-nari;

di pucuk-pucuk bambu

di tiang-tiang kota

di pagar-pagar desa, dan

di depan rumahku, bendera terpancang

dikibarkan angin sepoi-sepoi

sambut hari nan merdeka


Di sudut desa

anak-anak tertawa riang

tanpa kasta

bertarung sepak bola, sepak raga, dan tarik tambang

mengema hiruk-pikuk jelata

dalam tradisi panjat pinang

licin dibaluri oli, sabun, dan jelaga

tergambar kehidupan yang layak


Siapa mengira

ada gejolak menikam relung

hidup harus dipertahankan

sepeda plastik dan setali uang

menjanjikan di atas sana?

"panjatlah! panjatlah! "

sorak suara dari balik meja berpita

bahu-bahu kusam bapak tempat berpijak


tanpa sadar

jangan ajari kami,

bagaimana licinnya oli di batang pinang

pundak lawan jadi penopang

kaki-kaki tegap melingkari pinang

pekatnya oli merusak kulit

demi sekotak mimpi di ujung pohon

yang digantungkan elit negeri


bukan rasa manis kemenangan

menetes di dahi

melainkan peluh air mata

kami yang memanjat

kami yang memar

kami yang jatuh berulang kali

lalu siapa bertepuk tangan

‎di kursi empuk ber-AC itu, hai?


Pesta ini pesta kami!

tapi aturan permainan ini milik kalian

kemerdekaan dibaluri hadiah murah

direbut dengan luka

menjual gelak tawa

atas nama tradisi dan kebersamaan

dibiarkan saling menjatuhkan

sampai kapan drama ini usai?


baiklah!

kini kami bingkai gugatan ini;

di kertas segel berstempel luka

di pungung-pungung mengelupas nanah

bahwa batang pinang ini:

bukan simbol perjuangan suci

melainkan potret di(RI) dalam panjat pinang.

rakyat dimobilisasi, dibaluri oli jelaga, dan dijatuhkan berkali-kali.


Sumbawa, 08082026


Uleceny, dilahirkan di Sumbawa, 5 Juli. Aktif menulis puisi.

026. Megi Maradhonata, 


Seorang bocah tak berbaju


Seorang bocah tak berbaju,

bertelanjang kaki,

mencengkeram lumpur,

mendekap erat harapan yang licin,

yang ia titipkan pada teman-temannya.

Merelakan pundaknya,

kram oleh kata keihklasan.

Berat,

namun harus tetap kuat,

dan tak boleh patah semangat.

Para penonton riuh,

tepuk tangan bergemuruh,

memberi yel-yel kepada bocah berkaos partai,

yang tegak di paling atas.

Di atas sana,

sejumlah hadiah hasil iuran siap diraih,

oleh tangan yang siap-siap untuk ditagih.

Ada bendera di puncak,

yang seolah ingin digenggam erat.

Namun setelah di puncak,

yang pertama-tama di lirik,

justru hadiah yang paling menarik.

Lalu sambil membusungkan dada,

ia melemparkan sebungkus mie instan, kopi pahit dan gula,

kepada tangan yang menengadah,

dibawah.

Namanya juga bocah,

selalu ada saja tingkahnya,

membuat lelucon di tengah perlombaan,

yang tentu saja menggemaskan.

Menjadi hiburan bagi penonton,

yang sedang merayakan pesta kemerdekaan.

Sebab panjat pinang,

adalah hasil dari demo_kreasi...


































027. S. Ratman Suras, 


Adil Makmur Kumur-kumur.


katanya adil makmur

tapi kami rakyat kecil cuma bisa kumur-kumur

dengan air comberan basi

sisa-sisa cuci tangan kalian

di cafe yang serba mewah

kami selalu dijanji-janjikan untuk maju

sebagai peserta lomba antar bangsa

agar dunia tahu, kegigihan kami, kesabaran kami, dicekoki janji-janji

kami sudah tanam, apa yang kalian

inginkan

sorgum, jagung, ubi jalar, singkong, talas, pengganti beras

sebab sawah kami, kalian sulap jadi ladang batu

itulah sebabnya wajah kalian hitam

mengeras, tapi tetap merasa sok waras

katanya adil makmur

tapi kami tetap dikibuli

sedikitpun tak boleh cakap

hukum tetap dipajang di lemari kaca

maling ayam dipermak hingga remuk

para koruptor berleha-leha tetap gemuk

kalian semua ada dibarisannya

sesekali popor dan moncong senjata

diarahkan ke jidat-jidat yang mengkilat

agar diam tak usah ikut-ikutan bicara

katanya adil makmur

untuk dapat segenggam beras

kami harus belepotan oli bekas

yang kalian lumuri pada sebatang pohon pinang

kalian kupas biar licin, lalu ditancapkan

menjulang ke langit angkuh

dii tanah lapang yang kerontang

tega kalian melebihi kompeni

tubuh-tubuh belepotan oli miskin

jadi tontonan, jadi candaan

tawa pun menggema

di antara derai-derai luka

yang terus menganga


Tanjung Anom 080826


S. Ratman Suras, kelahiran Cilacap pada 8 Oktober 1965. Gugur Gunung (1997) Suluk Sunyi (2015) adalah antologi puisi tunggalnya. Kini tinggal di desa Tanjung Anom, Deli Serdang, Sumut.
























028. Muhibbsh Rohmah


 PENJAJAH BERKEDOK PAHLAWAN


Kata nya untuk negri

Kata nya untuk bangsa ini

Program demi program diluncurkan

Menelan anggaran triliyunan

PKH, KIP, BLT, sampai MBG

yang dapat, yang dekat dengan pak RT

Sekolah Rakyat, koprasi merah putih

Kami hanya bisa melihat, tapi tak bisa menikmati

Coba sini lihat pak...

kami mengontrak rumah petak

Kami tidur diatas becak

Apa kami diberi hak?

Ah, Tentu saja tidak

Sementara harga bahan pokok terus melambung

Sementara harga bahan bakar kian menanjak

Bagaimana kami menghadapinya?

Pak..Kami hanya rakyat

Bukanlah pejabat

Kami hanya bisa mengeluh

Tanpa ada tempat mengadu

Sudahi saja pak...

Jangan ada lagi program baru

Semakin banyak program

Semakin banyak pula pendusta

Penjajah berkedok pahlawan

Ngakunya menolong

Nyatanya menodong






Muhibbah Rohmah

Nama pena: Muhie eL-tadzor

TTL: Indramayu, 08 Januari 1992

Alamat: jln.Talang tembaga, kelurahan Lemah abang, kecamatan/kabupaten Indramayu

Pekerjaan: guru ngaji






























029. Sari Baniwati, 


Meraih janji


batang pinang dilumuri minyak

di negri yang kaya minyak

licin tandas berjelaga

peserta lomba telanjang dada

saling berebut saling sikut

saling injak menginjak

saling tindih

seperti pertarungan meraih jabatan

di atas batang pinang bergantungan hadiah hadiah

seperti mimpi mimpi

seperti janji janji

penonton lomba tegang berteriak

ada yang terbahak bahak

mentertawakan kelucuan

menyesalkan kebodohan

berdecak karena ada yang bisa meraih kaos kaki

yang sebelahnya jatuh entah ke mana

gapura tujuh belas Agustus berhias manja

bertanya apa arti kemerdekaan

burung yang terlepas dari sarang tahu menganyam sangkar di pohon tinggi

biar dikejar juga cuma kicaunya yang mengelabui

pekik merdeka bergema bergetar diantara genderang upacara diantara derap langkah pembawa bendera

Indonesia jaya

Indonesia raya

membahana di dunia

batang pinang tumbang

hadiah yang tersisa bergantungan

jadi rebutan



Sari Banowati Lahir di Bandung 5 Mei 1956

Suka menari dan menggambar hingga terinspirasi menulis puisi dan cerpen. Kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga membuat jeda. Tertarik kembali untuk menulis ketika memiliki hp android. Masuk group di FB tak menyangka dapat lencana kontributor populer. Kontributor naik daun dengan kalimat terbata bata.





























030. Sartikah, 


BATANG PINANG YANG TERPURUK


Pagi cerah arunika tetap setia menerangi keluh

Sepasang kaki berjalan tergesa gesa

menuju halaman balai desa

orang orang mulai berkumpul

untuk memeriahkan hari kemerdekan

kemerdekaan dalam perayaan

Di halaman balai desa terpancang batang pinang rebutan

dengan berbagai hadiah hiburan sebagai tanda kemenangan.

satu persatu maju untuk berebut

saling menginjak saling tindih saling menekan untuk mencapai ketinggian tak jauh beda dengan berebut jabatan pangkat dan kedudukan

yang paling bawah paling berat beban, terinjak

seluruh tubuh sampai kepala

menahan sakit dan perih sebagai tanda setia

Lalu mereka tertawa dalam derita

berjuang terus sampai napas penghabisan

tanpa sebuah penghargaan

penonton berteriak dengan lantang

tertawa terbahak melihat kebodohan

Genderang terius berdentang dengan lagu maju tak gentar

Maju tak gentar membela yang benar

kata kata itu terasa asing di benak

karena yang benar belum tentu di bela

belum tentu menang karena kebenaran bisa tersamarkan kekuasaan

kebenaran terinjak kekuasaan

keadilan hanyalah simbol dengan neraca tak lagi seimbang

hukum mati suri kehabisan napas di meja pelelangan

kebebasan terkurung jeruji tirani

panjat pinang simbol di Negeri ini

yang tertawa yang menangis

yang kuat bisa memanjat

yang lemah hanya jadi pijakan

kebodohan terus jadi tontonan

akhir dipanjat batang pinang pun terpuruk

di pingir lapangan terhina dan terlupakan.


Garut, 090826


Sartikah seorang penikmat puisi yang lahir dan di besarkan di kota Cimahi, bertugas sebagi guru sekolah dasar di kecamatan Cibiuk kab. Garut.

Puisi dijadikanya sebagai ajang silaturahmi, persabatan dan persaudaraan.










Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia (1-15)

 001. Wandi Julhandi


Panjat Pinang Kita Bukan Lomba


Bukan sekadar batang licin yang digosok oli,

bukan sekadar hadiah di puncak: kompor, sepeda, sembako.

Hari ini kita panjat lagi.

Tapi bukan untuk hadiah.

Kita panjat karena tanah di bawah kaki sudah terlalu lama becek,

karena harga beras naik lebih cepat daripada gaji,

karena sekolah anak harus bayar, tetapi jalan di depan rumah masih berlubang.

Lihat!

Yang di bawah berdesakan, bahu menahan bahu.

Yang di atas saling injak demi sampai lebih dahulu.

Itu bukan kita.

Itu cermin.

Rakyat menggugat bukan dengan teriak.

Rakyat menggugat dengan keringat yang menetes di batang pinang,

dengan tangan kapalan yang tetap meraih,

meski licin, meski jatuh, meski disoraki.

Kami bukan penonton upacara.

Kami yang tiap pagi berdiri di antrean.

Kami yang disuruh "sabar",

sementara piring di dapur makin kosong.

Hari ini bendera Merah Putih naik,

tetapi kami juga ingin bertanya:

Kapan keadilan ikut naik?

Kapan janji-janji tidak hanya berkibar lalu turun lagi?

Panjat pinang ini hadiahnya kecil,

tetapi semangatnya besar.

Karena di setiap jatuh dan bangun,

kami belajar satu hal:

Kalau tidak bergotong royong, tidak akan ada yang sampai ke puncak.

Jadi biarlah batang itu licin.

Biarlah banyak yang tertawa melihat kami jatuh.

Kami tetap akan naik,

bukan untuk merebut kompor,

tetapi untuk mengingatkan

bahwa negeri ini milik yang berani memanjat,

bukan milik yang hanya duduk memberi perintah dari bawah.

Agustus ini

kami tidak hanya merayakan kemerdekaan,

kami menagihnya.

Turunkan hadiahnya,

tetapi juga turunkan harga.

Turunkan bantuannya,

tetapi juga turunkan arogansi.

Karena panjat pinang yang sesungguhnya

adalah saat rakyat dan pemimpin

sama-sama memanjat

ke arah yang sama:

Indonesia yang merdeka, lahir dan batin.


Makassar, 6 Agustus 2026


Julhandi/Wandi kelahiran Makassar 16-1-1987 Seni bagiku adalah kehidupan dalam setetes sejarah. Karya tulis adalah obat jikalau merangkai dengan hati akan menjadi rangkaian kata yang indah. Namun jikalau mengukir dalam kegelapan, akan menjadi penyakit, untuk diri dan orang lain. 





002.Silivester Kiik 


Kidung-Kidung Sunyi Kaum Tertindas


Dari punggung bukit

berjalanlah mereka

menuju sunyinya sabana

sementara matahari

menggantungkan salib emasnya

di bahu pohon-pohon cendana yang renta.

Angin menggembalakan debu

seperti seorang ibu

yang menggendong

bakul anyaman lontar

berisikan sebait sembahyang

dan sejumlah tetesan air mata.

Lihatlah: anak-anak mereka

sibuk mengisap senja

dari batang-batang jagung

dan menjadikannya sebagai kisah

yang tak mampu diterjemahkan

dalam amsal para leluhur.

Mereka adalah pejuang kemenangan

yang nama-namanya ditulis hujan

lalu dihapus kemarau

meminta kebenaran

tetapi yang diberi ialah janji

dan hukuman.

Siapakah yang seharusnya

dijadikan sebagai benih pertolongan?

Lihatlah: mereka memanen batu

menanak lapar

memerah keringat

hingga berubah menjadi anggur

yang tak pernah diminum.

Di lopo, lelaki-lelaki tua

mengunyah sunyi lebih lama

daripada memamah sirih-pinang.

Di tenda-tenda kecil—beratapkan daun kelapa

perempuan-perempuan menenun bulan dan bintang

ke dalam helaian Tais-Bete

namun malam membelinya

dengan harga air mata.

Kata langit kepada mereka: “jadilah terang.”

Dengarlah: burung-burung

masih menyebut nama mereka

dengan bahasa embun

yang berkilau di setiap dedaunan

tetapi negeriku—tanah air dan darahku

lebih petah lidah dalam menghitung angka

hingga ayat-ayat yang tak mampu

diilhami oleh jiwa-raga

daripada denyut nadi di ladang

yang sedia mendengarkan

dan menjawab setiap permohonan.

Oh, mama bumi Timor

angkatlah wajahmu

walau dipenuhi gurat batu kapur

pintaku, berbisiklah kepada matahari:

“Ingatlah, bahwa setiap akar

tak pernah iri kepada bunga.”

Waktu demi waktu berlalu

penderitaan tak henti-hentinya dikisahkan

ketika lonceng subuh

dibunyikan oleh ayam hutan

kesunyian itu tak lagi menjadi luka

melainkan madah yang tumbuh

dari celah-celah batu

mengalir bersama embun

lalu terbang di sayap elang Timor

menuju langit tua

tempat Tuhan menyimpan nama-nama leluhur

yang tak pernah ditulis dalam kitab sejarah

tetapi diabadikan oleh harum cendana, sabana, lontar

dan nyanyian sunyi kaum tertindas

yang lahir dan mati dari penderitaan.


Atambua-NTT, 6 Agustus 2026


Silivester Kiik, adalah seorang guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan penggiat literasi perbatasan. Karyanya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); Inovasi Pembelajaran Geografi Zaman Now (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan beberapa buku lainnya dalam proses penerbitan. Sejumlah puisi lainnya turut mengisi berbagai antologi bersama baik regional, nasional, maupun internasional. Tinggal di Atambua-Timor-NTT.











003. A. Zaenuddin KR


LORONG WAKTU


Seperti Agustus di tahun tahun lalu, umbul umbul dipasang dipajang di sepanjang jalan. Di lorong lorong hingga di ujung gang. Di kiri dan di kanan tepi aspal di cat warna putih atas swadaya orang orang yang kurang lebih kurang berdaya.

Lampion warna warni bertebaran hampir disetiap pekarangan rumah, perkantoran, gedung pemerintah, dan pos pos ronda jaga malam. Ya, seperti orang orang yang sedang berpesta saja kita begitu pongah dan, wah.

Ini kali juga begitu. Agustus ke delapan puluh satu, sejak kita menobatkan diri sebagai bangsa bangsa yang merdeka, di lorong lorong, disetiap gang, hingga di sudut sudut kampung, ingar bingar dan gelora jiwa yang penuh gebu. Menyala.

"Menyala, ndasmu!" Tiba tiba kita sebagai butiran butiran debu sisa pembakaran sampah yang kemarin menyala itu ~ yang dikiranya ia masih api hari ini.

: Hitam dan kusam!

Ya, kita terus kibarkan merah putih. Tak boleh berhenti dan terus bergerak agar kemerdekaan sungguh teraih.


Pekalongan, 6 Agustus 2026.


A. ZAINUDDIN KR. Di akun pesbuknya sebagai Kang Zayy. Lahir dan besar di Pekalongan, Jateng. Setelah berpuluh tahun merantau di pinggiran Ibukota yang kemudian "tersesat" di jagad sastra ~ lalang buana ~ pada ahirnya kini menikmati masa setengah tua menuju senja di kampung dimana ia berasal, sambil chattingan sama beberapa kerabat dan para sahabat.

Dan, menunggu inbok bagi yang ngefans (hahaha)


































004. Biolen Fernando Sinaga, 


Hari Jemerdekaan Akan Tiba Lagi.

.

Lomba Memanjat Pohon Pinang yang Sudah Ditebang, Dikuliti, Diperlicin, dan Dihiasi Bermacam Hadiah di Puncaknya

.

Hari kemerdekaan akan tiba lagi

Akan ada lagi upacara

Akan ada lagi banyak perlombaan

Termasuk Lomba memanjat pohon pinang yang sudah ditebang, dikuliti, Diperlicin dan Dihiasi banyak Hadian di puncaknya

Semua orang boleh ikut memanjat

Asalkan rela bekerjasama dengan orang lain

Sebab mustahil bisa memanjat sendiri pohon itu

Karena tinggi dan licinnya

Lagipula dia dirancang untuk dipanjat beramai ramai

Bergotong royong

Baku dapa

Marsitungkol tungkolan

Tepo seliro

Dan nanti hadiahnya dibagi bersama

Adil dan merata

.

Lomba panjat pinang adalah drama

Si ambisius akan berusaha ngotot

Si sabar akan berusaha tenang

Si malas akan teriak menyemangati

Si takut hanya bisa berdoa

Si apatis menonton dengan sinis

.

Lomba panjat pinang

Adalah kesempatan melupakan sejenak

Mahalnya sembako

Langkanya BBM

Sulitnya gas

Tingginya dolar

Langkanya lapangan kerja

Kontroversinya mbg

Bisingnya pidato pejabat

.

Lomba panjat pinang adalah

Perlambang perjuangan rakyat

Yang harus terus bersemangat dari awal hingga akhir

Rela menerima dorongan, sokongan, pijakan, teriakan

Demi sesuatu yang masih hnya dalam bayangan

Yang nilainya belum ketahuan

Dan yang pasti takkan dinikmati sendiri

Bersiap siap menerima ketidakadilan dari panitia

Protes jika masih bisa

Legowo jika terpaksa

Asalkan jangan sampai mati sia sia.

.

*Dairi, Agustus 2026 *
















005. Mas Ruscitadewi 


Panjat Pinang


Siapa memanjat?

Siapa meminang?

Apa dipanjat?

Apa dipinang?

Penyair memanjat rasa dalam suara menjadi kata dan cerita

Raga mengecap, bibir mengucap

Adakah jiwa suci murni merasai?

Raga mengalami

Jiwa meyakini, memaknai

Sang Kawi meminang rasa suci murni wangi gusti


(Kesiman, Bali, 06/08/2026)


Mas Ruscitadewi adalah pengarang kelahiran Kesiman, Denpasar Bali, buku kumpulan puisinya berjudul Hana Bira (bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang) sempat menjadi salah satu pemenang puisi Attlanta Revew, karya puisinya juga masuk dalam kumpulan puisi sastrawan Indonesia, puisi terbarunya berjudul Kidung Lodha (bahasa Bali) dan Perjalanan " Perjalanan" (Bahasa Indonesia) aktif sebagai pengajar sastra dan teater, membuat berbagai festival.









006. Masruswian 


Delapan Puluh Satu Tahun Memanjat.


Kemerdekaan digantung pagi itu

pada tiang yang berkeringatkan minyak.

Di pucuknya ada nasi

untuk meja seorang ibu,

buku milik anaknya,

dan secarik resep

yang semalam dilipat sang ayah

di bawah bantal.

Mereka datang membawa tubuh.

Telapak berbau lumpur,

bahu menyimpan dengung mesin,

punggung mengeringkan garam laut,

jemari berkapur

yang terbiasa mengeja masa depan

di papan hampir hitam.

Semua tubuh itu disusun.

Yang kuat menjadi dasar,

yang lemah belajar menguatkan,

yang jatuh segera digantikan,

sebab selama delapan puluh satu tahun

mereka diajari bahwa luka

adalah harga sebuah sorak.

Seseorang terus naik.

Ia menginjak lumpur di kuku,

debu di bahu,

garam di punggung,

kapur di jemari.

Ketika mencapai puncak,

ia menendang tangan terakhir

yang masih mencoba mengangkatnya.

Di bawah,

deretan sepatu yang tak mengenal tanah

berjalan menuju panggung,

menggunting pita,

menghitung tepuk tangan,

lalu membingkai tubuh yang jatuh

sebagai pesta rakyat.

Seorang anak menerobos kerumunan,

memungut kancing baju ayahnya

dari rumput yang terinjak.

Sorak mendadak kehilangan mulut.

Seluruh bahu itu pun bergerak.

Bukan ke atas.

Kini kami datang bukan untuk memanjat.

Kami datang untuk bertanya,

siapa yang mengubah hak menjadi hadiah?

Siapa yang melumuri jalan ke puncak,

lalu menyalahkan telapak kami

setiap kali tergelincir?

Mengapa nyala di dapur,

huruf-huruf di mata seorang anak,

dan tidur yang terbebas dari nyeri

harus digantung begitu tinggi,

sementara tangan yang tak pernah memanjat

dapat meraihnya tanpa keringat?

Satu demi satu kami turun,

membawa pulang punggung,

kepala, serta telapak kami

dari susunan yang meninggikan seseorang.

Kami berhenti

menyusun tubuh sendiri

menjadi tangga.

Di puncak, seseorang memeluk tiang.

Segala hadiah masih bergoyang,

tali berderit,

minyak menetes

ke tanah yang telah kami tinggalkan.

Dari kejauhan kami mendengar

sesuatu patah.

Lalu sebuah bayang-bayang panjang

rebah melintasi panggung

sebelum tepuk tangan

menemukan kembali

kedua telapaknya.


7 Desember 1982. 


Masruswian, lahir di Barabai, Kalimantan Selatan, puisinya, Mozaik Hening (2026), menjadi salah satu jejak kepenyairannya. Ia beberapa kali meraih Juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional, serta remaja dan karyanya termuat dalam berbagai antologi puisi tingkat daerah maupun nasional. 






















007. Anas Bachtiar Arief


NOMOR GILIRAN


Pagi itu

nomor giliran

dibagikan.

Orang-orang

menerimanya,

seperti menerima

nasib.

Di tengah lapangan

sebatang pinang

berdiri.

Terlalu tegak

untuk disebut

permainan.

Di puncaknya

bergantung

sebuah sepeda mini

yang tak pernah

mengayuh

ke mana pun.

Sebuah kompor

yang tak pernah

menghangatkan

siapa pun.

Sebuah dispenser

yang tak pernah

menghilangkan

haus.

Ketiganya diam.

Tetapi setiap tahun

tubuh-tubuh datang,

mengulurkan tangan,

kehilangan genggaman,

lalu jatuh.

Sementara

sepeda mini,

kompor,

dan dispenser

tetap bergantung.

Seseorang membuka jeriken.

Minyak dituangkan

perlahan.

Batang itu berkilau.

Licin.

Setiap telapak tangan

mencari pegangan.

Setiap genggaman

kehilangan tempat berpijak.

Peluit berbunyi.

Nomor pertama.

Melorot.

Nomor kedua.

Jatuh.

Nomor ketiga.

Duduk di bawah tiang,

mengusap lutut,

menunggu napasnya

kembali.

Pengeras suara

mengulang

nomor berikutnya.

Anak-anak bersorak.

Telepon genggam terangkat.

Beberapa orang mencari

sudut terbaik.

Tak seorang pun

mencari denyut nadi.

Suara pengeras itu

terdengar begitu akrab.

Seperti pernah kudengar

di lorong berkursi plastik.

Lampunya sama-sama putih.

Lantainya sama-sama licin.

Yang satu karena minyak.

Yang satu lagi karena waktu.

Di sana

tak ada tiang pinang.

Tak ada jeriken.

Tak ada peluit.

Tetapi leher-leher

tetap mendongak.

Tangan-tangan

tetap menggenggam

nomor giliran.

Dan pengeras suara

tetap mengulang

nomor berikutnya.

Di lapangan

orang melorot

karena minyak.

Di lorong itu

orang melorot

karena waktu.

Yang satu

memegang lutut.

Yang satu lagi

memegang nomor giliran.

Tak ada

yang benar-benar menang.

Sebab yang dibawa pulang

tak selalu sepeda mini.

Tak selalu kompor.

Tak selalu dispenser.

Kadang yang dibawa pulang

hanyalah

lutut yang retak,

waktu yang habis,

dan nomor-nomor

yang tak sempat dipanggil,

berakhir di ruang jenazah.


Anas Bachtiar Arief

Lahir di Surabaya Sekadar suka bikin puisi





























008. Tarigan Ose Damianus



Panjat Pinang, Tiang Agustus


Tujuh belas Agustus

mengibarkan matahari

di ujung tiang bendera,

sementara sebatang pinang

berdiri tegak

menjadi cermin perjuangan.

Batangnya licin

oleh peluh sejarah,

oleh darah

yang pernah jatuh

demi selembar merah putih.

Anak-anak tertawa,

orang tua bersorak,

namun di balik riuh itu

para pahlawan

diam-diam hadir

mengajarkan arti bertahan.

Satu tubuh memanggul tubuh lain,

satu tangan menggenggam tangan lain.

Tak ada puncak

yang dapat disentuh

oleh kesombongan.

Di negeri ini

kemerdekaan lahir

dari bahu yang rela dipijak,

dari hati

yang tak pernah lelah

menopang sesama.

Ketika hadiah

akhirnya berhasil diraih,

kami tahu

yang kami menangkan

bukan sekadar bingkisan,

melainkan keyakinan

bahwa Indonesia

akan tetap berdiri

selama persatuan

lebih tinggi

daripada kepentingan.

Maka setiap Agustus,

biarkan pinang itu

terus menjulang

di tengah kampung,

agar anak-anak

tak hanya belajar tertawa,

tetapi juga mengerti

bahwa kemerdekaan

selalu dimulai

dari keberanian

untuk mendaki bersama.


*Baopukang, 6 Agustus 2026 *
















009. AS. Darsa


NEGERI YANG MEMELUK BARA


negeri yang terlalu lama memuja bara

akhirnya lupa cara menyalakan matahari

delapan puluh satu tahun

api tetap menyala

kami masih mengira

ia sedang memurnikan emas

gunung-gunung pulang di punggung truk

hutan tinggal bunyi gergaji

dan laut mulai mengenal

nama-nama pemiliknya

api yang dulu dinyalakan kemerdekaan

terus bekerja

siang dan malam

pertanyaannya,

apa yang sedang dimurnikan

emas

atau

keserakahan?


— a.s darsa skbm 07082026


AS Darsa lahir di Kuningan dan kini menetap di Sukabumi.

seorang pegiat media sosial yang merawat puisi tentang kopi, kesunyian, dan luka-luka kecil manusia.

bukan siapa-siapa, hanya malaikat yang sedang magang.

kalau kebetulan ketemu di jalan tanya saja, sambil senyum juga gapapa...



010. Ence Sumirat


TANAH YANG MASIH BERSAJAK


Di pendopo gamelan

ditabuh tanpa jeda

Agar derit lumbung tak

terdengar sampai serambi

Batik-batik menjadi

seragam kuasa

Sementara canting berpuasa

di meja biasa

Bengawan mengalir

membawa lumpur ke hilir

Namun yang keruh

selalu disebut mata air

Keris disarungkan dengan

doa paling khusyuk

Sayang yang diasah justru

mata angin

Cengkih gugur sebelum sempat mengharumkan dapur

Pala berlayar tanpa pernah

kembali sebagai milik

Di pematang orang-orangan

sawah tetap setia berjaga

Barangkali manusialah yang

lebih pandai menjadi burung

Gunung-gunung masih

hafal nama kemerdekaan

Hanya lembah mulai

lupa suara rakyatnya

Indonesia --- barangkali bukan

negeri yang renta

Melainkan tangan- tangan yang terlalu

sering menyebutnya warisan


Cianjur 7 Agustus 2026


Ence Sumirat lahir di Cianjur tahun 1971

Menulis puisi secara otodidak.Antologi puisi tunggalnya, Ode Untuk Mak Erot (Adab, 2023).Puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama baik nasional maupun internasional.Dan puisinya juga dimuat di media cetak Malaysia dan Bangladesh



























011. Winar Ramelan

AGUSTUS, MEMOAR UNTUK KONTEMPLASI


Agustus, selalu seperti pagi yang cerah

Matahari yang hangat

Dengan sesekali ditimpali hujan yang jernih

Yang mampu menyeka mimpi mimpi buruk

Melunturkan jarum jarum cemas

Oleh realita yang ditampakkan

Di rumah yang di sebut Indonesia ini

Rumah yang pilarnya dibangun dengan perjuangan

Darah, air mata dan nyawa sebagai tumbal

Agar rumah merdeka berdiri kokoh

Menjadi tempat naung kami

Anak cucunya

Kini, perlahan namun pasti

Pilar pilar penyangganya digerogoti

Oleh tikus tikus pengerat, bajing bajing loncat, buaya buaya keparat

Pengkhianat, penjilat

Yang berdandan pejabat

Rumah pun seakan terasa goyah

Bukan oleh gempa atau badai

Tetapi karena keropos di setiap sendi

"ini bikin ngilu, seperti ketika sakit gigi yang tak terobati"

Bapak ibu yang kami cintai

Kami bukanlah kantong plastik organik sekali pakai

Dicampahkan setelah dibutuhkan

Usai mendulang suara kami

Lantas diperas lagi dengan pajak dan pajak lagi

Bapak ibu yang kami cintai

Haruskah kami mati bunuh diri

Tersebab patah hati dan cemas tak henti

Menyaksikan mu mengumbar maksiat juga syahwat

Tanpa malu apalagi merasa berdosa

Insaf lah insaf lah insaf lah, bapak ibu yang kami cintai

Jadikan agustus sebagai cermin diri

Agar darah yang pernah tumpah di masa lampau di bumi persada ini sebagai darah perjuangan

Tak terulang lagi sebagai darah perlawanan

Karena muak atas tingkah bapak ibu yang terhormat

Mari sama sama kita jaga rumah ini

Agar pilar pilarnya tetap kokoh berdiri

Di bawah naung langit biru yang berdasarkan Pancasila

Dan pijak pada tanah subur makmur dan damai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika


Denpasar. Agustus 2026


*Winar Ramelan, lahir di Malang, juni 1972 kini tinggal di Denpasar Bali

Puisi puisinya terangkum dalam antologi tunggalnya, Narasi Sepasang Kaos Kaki(2017), Mengening(2020), Dongeng Lathisa(2023)

Juga dimuat diberbagai media cetak dan Online, serta lebih dari 60 antologi bersama, kadang kadang ia juga menulis cerpen, cernak juga artikel *













012. Dien Djusni


WASIAT PETANI


Dulu, di lahan subur ini kugantung seluruhnya

pun pesan leluhur sebagai tiang utama

tempat bersandar, anak cucunya:

"Jangan berhenti, terus bertani"

Tetapi, ....

Beban di pundak seakan tak tertahan,

danau-danau baru bermunculan,

pucuk sawit menutup matahari

lalu, apakah harus pergi:

"Seperti penghuni sungai itu?"

Sekarang, lahan subur ini sering direndam air

sementara kuat inginku 'tuk terus bertani

tak mau seperti padi yang terpinggir

atau jadi buruh di tanah sendiri:

"Aku ingin merdeka...."

Tetapi, ....

pundak ini ada batasnya, suatu ketika

kedua kaki tak akan tegak berdiri

dan kalau aku rebah nanti:

"Anakku, jangan menyerah!"


Tarakan, 07-08-2026


Dien Djusni Lahir dan domisili di pulau Tarakan, Kalimantan Utara. Mengenal puisi di FB. Baginya, seperti juga melukis maka menulis puisi itu bisa membuat hati bahagia.






013. Rahim Eltara 


KETIKA JERITAN TAK LAGI DIDENGAR


Suara-suara kami mati perlahan,

ditelan janji-janji di atas mimbar kayu.

Di bawah, anak-anak riang menerbangkan layang-layang,

merah-putih menari di angkasa,

diiringi lagu Indonesia Raya.

Tangan legam mendekap lumpur,

perut lapar memeluk cangkul.

Lelaki beruban menjunjung terik matahari,

memikul beban yang kian sarat.

"Berapa harga sebuah suara?" bisik mereka di ujung pematang.

"Jika padi yang ditanam hanya melahirkan utang,

dan lahan kami terus tergerus

digilas bunga tunggakan yang berlipat-lipat."

Hari ini, anak-anak belajar lapar.

Air mata mereka mengetuk pintu kaca gedung jawatan,

bukan meminta sesuap nasi,

tapi menggugat janji yang dulu bergema di langit.

Tangan tak lagi mampu menengadah,

sebab doa-doa telah kehilangan lafaz,

dijarah janji-janji dari pengeras suara.

Di bawah bendera yang berkibar,

anak-anak berlatih memanjat pinang,

lelaki beruban itu pun belajar merawat diam.

Sebab diam adalah senjata paling sunyi

yang tak lagi bisa mereka rampas.


Sumbawa, 6 Agustus 2026


A.Rahim Eltara, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Gemar menulis puisi sejak tahun 1980. Kini telah menerbitkan antologi tunggal: Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta ( 2024), 66 Sajak Menguak Jejak (2026), Baguru (2026), dan 101 antologi bersama.

Penerima Anugrah Bahasa dan Sastra Tahun 2018. Pemenang Puisi Pilihan Gerakan Akbar 1000 Guru Menulis se Asean Tahun 2018, Juara 3 Lomba Menulis Puisi Hyang Pustaka Tahun 2024, Peringkat 10 Lomba Menulis Puisi 3 Negara Serumpun Tahun 2024, Juara 2 Lomba Menulis Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Tahun 2025.






















014. Gunawan Ashadi 


Merdeka... Kah?


Masih kah merdeka

Entah... buktinya masih ada air mata

Rumornya masih nestapa kaum papa

Dupa demokrasi telah padam lama

Erang nya masih menggema

Kirab bangga seremonial belaka

Anjang sana berebut kuasa

Kartini bersolek hilang norma

Anak Nusantara teradu domba


Hanya bisa diam dan berkata...(Merdeka...dengan suara pilu).


Bjm 7 Agustus 2026


Ashadi Gunawan (awan) lahir di Banjarmasin tahun 1981. Pernah aktif di Seni Teater, Lukis, dan Sastra sebagai ekspresi atas nikmat Tuhan yg Maha Seni. Perjalanan berkesenian: Banjarmasin-Jawa Timur-Joja-Banjarmasin.

Sekarang tinggal di Batola Kalimantan Selatan sebagai penikmat seni.











015. Sunawi 


SULUK KEMERDEKAAN


Sudah menjadi kepastian merdeka

Suluk kemerdekaan menyebar di Nusantara

Pada suka gembira raut wajah

Dari titiknya hati memantapkan puji

Sampai saat ini tetaplah merdeka

Kemerdekaan sudah menjadi puncaknya

Waktunya bulan Agustus menjadi sarana perlu

Menjalankan olah raga maupun seni

Sayembara untuk mengolah pikiran

Selanjutnya kian berguna

Meskipun ada menjerat hati sedih

Ingatlah para pahlawan kusuma bangsa

Meninggalkan bumi pertiwi

Surem surem giwangkara kingkin ler manguswa kang layon

Raga ilang dennyo memanise

Ong ong ongg

Rasa menjerat hati sedih kingkin

Para pahlawan kusuma bangsa mengorbankan jiwa raga

Harumnya semerbak nan wangi

Rasa sedih mengkalbu air mata jatuh berderai menyibak suasana

Menghadapi keadaan yang tak terduga gugur di medan laga

Kesedihan dipupus sudah

Yang terjadi sudahlah terjadi

Menatap hari esok yang lebih baik

Sekarang mengisi kemerdekaan dengan nyata

Janganlah keadaan lebih berat dari yang dahulu

Mencari ilmu untuk meraih cita cita

Kerja nyata menurut bisanya

Dengan doa dan usaha

Pada saatnya tercapai

Yang belum tercapai atau samar janganlah patah semangat

Lihat bendera merah putih sana sini terpasang

Merah semangat dalam mencapai keinginan

Putih kesucian masuk dalam pikiran

Merah putih sarana untuk mencapai tujuan

Dengan jiwa merah putih semboyan selalu didengungkan

Terosepsi mimpi mimpi malam

Wajib pada memiliki

Mengukir dengan pahat keutamaan

Supaya yang di lukis bisa nyata

Sinar Surya yang terang benderang

Umpama ada sakit segara teratasi

Supaya apa yang jadi keinginan tercapai


Bantul Yogyakarta Agustus dalam kenangan









Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia

 Sastra dan Kemerdekaan


Sebagaimana dalam sejarah sastra kita, sastrawan-sastrawan Indonesia turut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka ada yang terlibat dalam perjuangan fisik melawan penjajahan dan tulisannya yang sangat besar dalam membangun banyak yang melalui tulisan- mental perjuangan kemerdekaan

Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. atau yang lebih dikenal dengan Mohammad Yamin merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Mohammad Yamin merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus dan juga ahli hukum. Mohammad Yamin lahir pada 24 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Mohammad Yamin merupakan salah satu perintis Indonesia dan juga pelopor Sumpah Pemuda.

Pada 1920-an Mohammad Yamin memulai kariernya di bidang kesusastraan dengan menjadi penulis. Karya pertama yang ditulis yamin mengunaan bahasa melayu yang ia tulis dalam jurnal Jong Sumatera dan karya awalnya yang lainnya masih terikat dalam bentuk bahas melayu klasik.

Pada tahun 1922, Yamin muncul sebagai penyair dengan karya puisinya yang berjudul Tanah Air. Tanah air merupakan himpunan puisi modern pertama yang pernah diterbitkan. Pada 28 Oktober 1928, himpunan kedua milik yamin yang berjudul Tumpah Darahku muncul. Pada tahun yang sama karyanya dalam bentuk drama dengan judul Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa juga muncul.

Dalam bidang kesusastraan, Yamin telah menerbitkan banyak karya dalam bentuk drama, esei, novel sejarah, dan puisi. Yamin juga menerjemahkan karya-karya William Shakespeare (drama Julius Caesar) dan Rabindranath Tagore.

Berikut karya Muhammad Yamin yang sangat terkenal : Ken Arok dan Ken Dedes: 

Ken Arok dan Ken Dedes (1951) Karya Sastra Ken Arok dan Ken Dedes merupakan nama raja dan permaisuri di Kerajaan Singosari yang diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1951, dengan tiras sebanyak tiga ribu eksemplar dan jumlah halaman sebanyak 68 lembar lengkap dengan halaman kata pengantar. Diangkat menjadi judul drama Muhammad Yamin dan pertama kali dipentaskan pada puncak acara Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda), 28 Oktober 1928. Enam tahun kemudian, drama tersebut dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe (1934) pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana. Drama ini mengangkat masalah perjuangan dan kehidupan Kerajaan Singosari yang pernah jaya pada masa lalu. Temanya adalah rasa keadilan harus ditegakkan. Dalam drama itu, antara lain, diperlihatkan keadaan suatu sidang kerajaan menanggapi situasi negeri. Pada suatu hari di Bangsal Witana, Kerajaan Singasari, sedang digelar rapat pengangkatan seorang putra mahkota. Rajasa-nama lain Ken Arok setelah menjadi Raja Singasari-bersikukuh hendak memilih Mahisa Wong Ateleng untuk menjadi putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukannya di singgasana Kerajaan Singasari. Namun, para pembesar istana yang lain seperti Mahamenteri Rakian Hino, Mahamenteri Sirikan, dan Mahamenteri Hulu lebih cenderung memilih Anusapati Panji Anengah. Alasan para pembesar kerajaan itu hanya Anusapatilah yang pantas menjadi putra mahkota karena anak sulung. Ken Arok tetap memilih Mahisa Wong Ateleng, adik Anusapati, sebagai putra mahkota tanpa memerinci lebih lanjut alasan yang menjadi dasar pemilihannya itu. Anusapati kecewa atas keputusan ayahandanya itu. Suatu hari ketika Anusapati sedang merenungkan hal itu, datanglah ibunya, Ken Dedes. Ken Dedes memberi tahu kepada Anusapati tentang siapa sebenarnya dirinya itu dan siapa pula ayahnya itu. Atas pemberitahuan ibunya itu, Anusapati baru mengetahui bahwa Ken Arok bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya adalah Tunggul Ametung yang telah dibunuh oleh Ken Arok dengan sebilah keris Empu Gandring. Akhirnya, Anusapati menuntut balas atas kematian ayahnya. Di Bangsal Witana kembali digelar rapat penobatan putra mahkota yang akan segera menggantikan Ken Arok. Dalam rapat itu terjadi perdebatan yang sengit dan tajam. Brahmana Lohgawe, penasihat kerajaan, ikut serta dalam rapat penobatan putra mahkota tersebut. Atas desakan Brahmana, akhirnya Ken Arok menyadari bahwa apa yang pernah dilakukannya pada masa lampau merupakan kesalahan. Sebagai seorang ksatria, ia harus berani mengakui semua kesalahan yang pernah diperbuatnya. Oleh karena itu, Ken Arok pun berani mati di ujung keris Empu Gandring setelah Singasari berhasil dipersatukan. Ken Arok menerima hukuman mati sesuai dengan kesalahan yang pernah diperbuatnya. Namun, sebelum menjalani hukuman mati itu, Ken Arok lebih dahulu telah memikirkan kelangsungan hidup negerinya. Hal itu terbukti dengan adanya pengangkatan putra mahkota, Anusapati, menjadi Raja Singasari yang menggantikan dirinya. Sepeninggal Ken Arok, Ken Dedes pun ikut bunuh diri sebagai tanda kesetiaan istri kepada suaminya. Peneliti dan kritikus sastra menggolongkan drama ini sebagai karya Angkatan Pra-Pujangga Baru. Buku Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920-1960 (Santosa, 1993) dalam pokok bahasan "Hubungan Manusia dan Masyarakat" menyatakan bahwa drama ini merupakan perwujudan citra manusia yang berusaha menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. (Sumber Enklopedia Sastra Indonesia Badan Bahasa)








Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia

  Daftar Isi



     I. Sastra dan Kemerdekaan


01. Wandi Julhandi, Panjat Pinang Kita Bukan

Lomba

002.Silivester Kiik , Kidung-kidung Dunyi Kaum

         Tertindas 

003. Kang Zay , Lorong Waktu 

004. Biolen Fernando Sinaga, Hari Kemerdekaan

          Akan Tiba Lagi. 

005. Mas Ruscitadewi , Panjat Pinang. 

006. Masruswian , Delapan Puluh Satu Tahun

         Memanjat. 

007. Anas Bachtiar Arif, Nomor Giliran 

008. Tarigan Ose Damianus, Panjat Pinang Tiang

          Agustus.

009. AS. Darsa, Negeri yang Memeluk Bara.

010. Ence Sumirat, Tanah yang Masih Bersajak.

011. Winar Ramelan.Agustus Memoar untuk

         Kontemplasi. 

012. Dien Djusni, Wasiat Petani. 

013. Rahim Eltara, Ketika Jeritan Tak Lagi Didengar. 

014. Gunawan Ashafi, Merdeka-kah? 

015. Sunawi, Suluk Kemerdekaan .

016. Asti Musman, Meminang Harapan.

017. Rumah Tani, Panjat Pinang di Atas Tanah

         Leluhur.

018. Fajri Hamzah, Panjat Pinang

019. Ahmaf Maliki, Ke Puncak Merah Putih 

020. Heru Patria.  Batang'-batang Pinang Usang

021. Reis Ersyad M, Bersorak di Panjat Pibang

022. Diana Tustam, Angin Bertanya Kau Menjawab

023. Bambang Widiatmoko, Negeri Luka

024. Malik, Bingkisan Agustus

025. Ule Ceny, Potret di (RI) Dalam Panjat Pinang

026. Megi Maradhonata, Seorang Bicah Tak Berbaju

027. S. Ratman Suras, Adil Makmur Kumur-kumur. 

028.mihibbsh Rohmah, Penjajah Berkedok Pahlawan 

029. Sari Baniwati, Meraih Janji

030. Sartikah, Batang Pinang yg Terpuruk 

031. Sutarso, Protes Sungsang dari Atas Pohon

         Pinang

032. Agus Yuwantoro, Saham dan Sumber Alam 

033. Maulana, Nama Kami Rakyat

034. Sugeng joko utomo, Merdeka? Kata Siapa.

035.Suriar Amazi, Merdeka Bukan Sekedar Sorak

036. Zabidi Yakub, Panjat Tangga Kekuasaan

037. Apito Lahire, CERITA KEHILANGAN

038. Rosmita, Mas, Negeri Ini Sebenarnya Punya

         Siapa?

039. Mbah Sur, SECANGKIR KOPI

040. Muhammad Amir Fajar Shidiq, Gurat Gugat

          Rakyat: Siapa Yang Merdeka?

041. Naim Emel Prahana, GEMURUH TEPUK 

         TANGAN

042. AULIA ROBANI, EPITAF DEMOKRASI

043. Iin Rofiqoh Artami, MERDEKA ITU ADA

          DIMANA?

044. Hadijah Karim, DIA YANG TERLUPAKAN

045. Sulistyo ,Kepada Tuan Besar 

046. Dwi Indriani M, MERDEKA ITU LOMBA, YA

047. Christya Dewi Eka, PAK BAYAN GUGAT

048. Romö Jatí, MIMPI PARA JELATA

049. ERYANTHO KAMIS, AMPLOP TEBAL TERIKAT DI PUNCAKNYA

050. Mimi Marvill, UPACARA SENYUM DI TIANG PINANG

051. Budiyanah, PANJAT PINANG

052. Imron Bintang, AKULAH YANG TERBAWAH

053. Handh Yanies, RAKYAT MENGGUGAT

054. Imansyah Firman, Merdeka Tak Merdeka

055.Dyah Nkusuma, SESAAT RASA

056.Mustofa Khilmi PANJATAN PINANGAN

057.Akhmad Sekhu, Mencari Indonesiaku

058.Siti Suci Winarni, HAJAT KEMENANGAN DI PELOSOK NEGERI

059.Che Aldo Kelana, MERAIH BENDERA

060.Warsono Abi Azzam, PANJAT PINANG RAKYAT

061.Satria Rizal, MANTAN AKTIVIS ITU HIDUPNYA KINI TERLUNTA-LUNTA

062.Sri Wahyu Wardani, Jelaga hitam






Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia

 Panjat Pinang

Penyair : 

001. Wandi Julhandi (Makasar)

002.Silivester Kiik (Atambua)

003. Kang Zay (Pekalongan) 

004. Biolen Fernando Sinaga (Dairi)

005. Mas Ruscitadewi (Denpasar)

006. Masruswian (Barabai, KalSel)

007. Anas Bachtiar Arif (Surabaya)

008. Tarigan Ose Damianus (Lembata  NTT)

009. AS. Darsa (Sukabumi)

010. Ence Sumirat (Cianjur)

011. Winar Ramelan (Denpasar)

012. Dien Djusni (Tarakan)

013. Rahim Eltara (Sumbawa)

014. Gunawan Ashafi, Merdeka-kah? (Banjarmasin)

015. Sunawi (Bantul)

016. Asti Musman (Madiun) 

017. Ujang Saepudin/Rumah Tani (Cianjur)

018. Fajri Hamzah, (Cianjur)

019. Ahmaf Maliki (Indragir Hilir)

020. Heru Patria (Blitar)  

021. Reis Ersyad M (Bekasi) 

022. Diana Tustam (Makasar)

023. Bambang  Widiatmoko (Jogyakarta)

024. Malik (Aceh)

025. Ule Ceny (Sumbawa)

026. Megi Maradhonata, 

027. S. Ratman Suras (Medan)

028. Muhibbah Rohmah, (Indramayu)

029. Sari Banowati (Karawang)

030. Sartikah, (Garut)

031.  Sutarso (Sorong)

032. Agus Yuwantoro (Wonosobo)

033. Maulana (Banjarmasin)

034. Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya)

035. Suriar Amazi (Barito Kuala)

036. Zabidi Yakub (Lampung)

037.  Apito Lahire (Tegal)

038. Rosmita (Jambi)

039. Mbah Sur (Kulon Progo)

040. Muhammad Amir Fajar Shidiq (Purwodadi)

041. Naim Emel Prahana (Bandar Lampung)

042. Aulia Robani (Cianjur)

043. Iin Rofiqoh Artami (Kebumen)

044. Hadijah Karim (Sumbawa Besar)

045. Sulistyo , (Jakarta)

046. Dwi Indriani M (Banyuwangi)

047. Christya Dewi Eka (semarang) 

048. Romö Jatí (Tanjungpiang)

049. ERYANTHO KAMIS, 

050. Mimi Marvill, (Temangung)

051. Budiyanah, (Temangung)

052. Imron Bintang (Kendal)

053. Handh Yanies (Malang)

054. Imansyah Firman (Bandung)

055.Dyah Nkusuma, (Sampit)

056.Mustofa Khilmi  (Lumajang)

057.Akhmad Sekhu (Jakarta)

058.Siti Suci Winarni (Bandung)

059.Che Aldo Kelana (Atambua)

060.Warsono Abi Azzam (Cilacap)

061.Satria Rizal (Bengkulu)

062.Sri Wahyu Wardani (

 



Minggu, 07 Juni 2026

PESERTA PAMERAN NASIONAL ANTOLOGI 2026 LUMBUNG PUISI 27-28 Juni 2026

PESERTA  PAMERAN NASIONAL ANTOLOGI 2026 LUMBUNG PUISI 27-28 Juni 2026



1. Cinta Dilarokan Ninja karya Budi Riyoko (Banyuasin) 

2. Sangkolan karya Sugik Muhammad Sahar 

3. Hujan Tak Datang di Pesta Api karya Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya) 

4. Di Bawah Bayang-bayang Tuhan karya Sthiraprana Duarsa (Denpasar)

5. Oasestra karya Mochammad Syu'aib 

6. Taman Manusia karya Eko Tunas (Semarang)

7. Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham karya Annisa Resmana

8. Bunga-bunga Semak karya Barokah (Purworejo)

9. Prasasti Lereng Sindoro karya Barokah (Purworejo)

10. Suara-suara Sehimpun Sajak tahun 1982-1985 karya Nanang Ribut Supriyatin (Jakarta) 

11. 65 Sajak karya Nanang Ribut Supriatin (Jakarta) 

12. Ratnakanika Serbuk Permata karya Siti Suci Winarni (Subang) 

13. Akulah Darah yang Mengalir di Nadimu karya Endut Ahadiat (Padang) 

14. Sirip Angin karya Enthieh Mudakir (Tegal) 

15. Rahasia Tanda karya Enthieh Mudakir (Tegal)

16. Pelangi Imajinasi karya Bunergis Muryono (Klungkung Bali) 

17. Hujan Senjakala Senandung Lirih Sisi sisi karya Imansyah Firman (Bandung)

18. Kemilsu Cinta di Langit Jingga karya Budianah (Temanggung) 

19. Sastra Politik karya Eko Tunas (Semarang) 

20. Raung karya K. Kasdi W.A (Kasdi Kelanis), (Sragen) 

21.Mengambah Lembah Lelah karya K.Kasdi W.A (Kasdi Kelanis), (Sragen) 

22. Puisi Medium Komunikasi dalam Pembelajaran karya Wardjito Soeharso (Semarang)

23. Perjalanan Berkarat karya Wawan Hamzah Arfan (Cirebon) 

24. Berangkatlah Kata-kata karya Asmariah Supriyadi (Jogyakarta) 

25. Perempuan Penabuh Subuh karya Asmariah Supriadi  (Jogyakarta)

26. Jejak Perempuan Puisi karya Ami Budi Arsih (Cirebon)

27. Yang Tercecer dan yang Terbaca karya Ani Budi Arsih (Cirebon)

28. Secarik Kertas Antara Rita dan H.B Jassin karya Ritawati Jassin (Jakarta)

29. Surga untuk Ringin Contong karya Yustinus Harris (Jombang)

30. Panduan Minum Kopi karya Yustinus Harris (Jombang) 

31. Menungguku Tiba karya Isbedy Stiawan ZS (Lampung )

32. Kenduri Sumatera karya Isbedy Stiawan ZS ( Lampung)

33. Pedang Keheningan karya Ari Basuki (Jogyakarta) 

34. Buku Hujan Iriani karya Iriani R Tandi, 

(Jambi) 

35. Titik Beku karya Umi Ami Kemuning (Cirebon)

36. Titik Cahaya karys Umi Ami Kemuning (Cirebon) 

37. Kesibukan Membuat Sejarah 100 Sajak (1987-2025) karya Udo Z Karji (Bandar Lampung) 

38. Gemuruh Suara Hati dalam Kesunyian Kelam karya Slamet Suryadi ( Indramayu) 

39. Perjalanan "Perjalanan" karya Mas Ruscitadewi (Denpasar) 

40. Suara Pagi karya Sri Sunarti,  (Indramayu) 

41. Tarian Bunga Rumput Senandung Doa dan Harapan karya Imansyah Firman (Bandung) 

42. Rempah Rindu Soto Ibu karya Setio Bardono (Depok) 

43. Saat Doa Menjadi Air Mata karya Rosmita (Jambi) 

44. Memo Kemanusiaan, Akhmad Sekhu, (Jakarta) 

45. Tanah, karya Mita Katoyo ( Bekasi) 

46. Pesan Tersembunyi karya Asti Musman (Madiun)

47. Debi Putik Belajar Biologi Melalui Puisi Akrostik karya Handayani Mutmainah , (Cilacap) 

48. Dua Menyatu Jiwa karya Warsono , (Cilacap) 

49. Belajar Jadi Manusia karya Budi Waluyo, (Tegal) 

50. Lunar karya Sartikah, (Garut) 

51. Menggores Kata Memaknai Realita karya Ade Sunarna, ( Garut) 

52. Diam-diam Aku Jatuh Cinta karya Sartikah (Garut) 

53. Mereka di Mataku karya Siswa SDN 3 Lingkungpasir Cibiuk Garut, ( Garut) 

54. Koor Zaman karya Enthieh Mudakir,  (Tegal) 

55. Situs Kata karya Enthieh Mudakir,  (Tegal) 

56. Teraplah Tidur Mendekur karya Bambang Widiatmoko, (Jogyakarta) 

57. Jalinan Kisah di Rentang Waktu karya Sriyanti S. Sastroprayitno , ( Semarang) 

58. Ungkapan Pena Seribu Bait Cerita karya Slamet Suryadi ( Indramayu) 

59. Buku Puisi Rumah c 19 karya Sindu Putra (Nusa Tenggara Barat) 

60. Lullaby Hotel Di Mana Pintu Diketuk karya Irawan Sandhya Wiraatmaja,  (Tangerang) 

61. Suluk Waktu karya Irawan D

Sandhya Wiraatmaja  (Tangerang) 

62. Bukan Fatamorgana karya Wardjito Soeharso , (Semarang) 

63. Yo Mung karya Samsudin Adlawi, (Banyuwangi) 

64. Kanata karya Rini Intama (Tangerang)

65. Cio Tao karya Rini Intama (Tangerang) 

66. Mata Biru Safir karya Juniarso Ridwan (Bandung) 

67. Lekaki Setengah Malam karya Erwantho Kamis ( Bekasi) 

68. Maklumat Cinta karya Marwanto (Jogyakarta).

69. Pembelah Bumi karya Bunergis Muryono ( Klungkung) 

70. Bayang Firdaus karya Halimah Munawir (Jakarta) 

71. Titik Nadir karya Halimah Munawir 

(Jakarta) 

72. Seni Sastra Jawa Geguritan karya Sarwo Darmono (Lumajang) 

73. Seni Sastra Jawa Macapat karya Perkumpulan Sabdaaji (Lumajang) 

74. Ibu Doa dan Cinta karya A Rahim Eltara (Sumbawa) 

75. 66 Sajak Menguak Jejak karya A Rahim ARahim Eltara  ( Sumbawa) 

76. Laila karya Iwan Setiawan (Lubuk Begalung Padang) 

77. Sang Pencari Cinta karya Iwan Setiawan ( Lubuk Begalung Padang) 

78. Wakilku Koplak karya Dingu Rilesta  (Gunung Kidul) +

79. Bunga, Kupu-kupu, Mimpi dan Kerinduan karya Wirja Taufan (Medan) 

80. Keagungan Kota Suci karya Halimah Munawir Anwar  (Jakarta)

81. Kamus Cinta karya Kartika Ika  (Bantul) 

82. Semesta Berkata karya Dalle Doel  Dalminto (Bantul) 

83. Rumah yang Kubangun karya Edy Samudra Kertagama  (Lampung) 

84. Perjuangan Cinta dan Harapan karya Sari Banowati/Penyair Senja (Karawang) 

85. Bisik (manuskrip) karya Sari Banowati  /Penyair Senja (Karawang) 

86. Berburu Sajak di Pasar Loak karya Sulistyo  (Jakarta) 

87. Kepada Perempuan Kerras karya Aufa Al Hana ( Batang) 

88. Karamah Billah Karamah Istikamah karya Surasono Rashar (Lumajang) 

89. Taman Cahaya Nabi karya Surasono Rashar  (Lumajang) 

90. Kirab karya Bambang Widiatmoko  (Jogyakarta) 

91. Pisau Ilusi karya Ari Basuki     

 (Jogyakarta) 

92.Kupu-kupu Bersayap Biru karya Husnul Khuluqi (Banyumas) 

93. Semi di Musim Semu karya Yusuf Susilo Hartono (Jakarta) 

94. Merdeka atau Mimpi karya Sri Wahyu Wardani ( Senarang) 

95.Larung Murung karya Rissa Churria  ( Bekasi) 

96. Setabah Waktu Sepatah Cemburu karya Hana Sania   ( Bekasi) 

97. Ibu Tali Pusat Kami karya Udi Utama  Depok) 

98. ...Yang Diam Tiga Kumpulan Sajak karya Bambang Kempling (Lamongan) 

99. Menjaring Waktu, Yoffie Cahya (Majalengka) 

100. Orasi Anak Negeri karya Heru Patria (Blitar) 

101. Rindu fi Ruang Tungku, karya Nurhayati , (Bekasi) 




Sabtu, 30 Mei 2026

98. Kupu-kupu Singgah di Cermin dari ...Yang Diam Tiga Kumpulan Sajak karya Bambang Kempling (Lamongan)

 98. ...Yang Diam Tiga Kumpulan Sajak karya Bambang Kempling (Lamongan) 

Bambang Kempling 

Kupu-kupu Singgah di Cermin


Laut sunyi bergaris langit 

Pupus dalam diam 

Jarum waktu yang percuma 

Bercumbu bersama wajah 

Yang tertingal dalam cermin 

   Adalah keheningan yang terkubur 


Pernah suatu saat ia bercerita kepadamu 

Wajah itu 

   Tetes-tetes kesedihan 

   Melata dari ibir ke bibir 


…sendiri. 


1 Agustus 2005




98. Bambang Kempling adalah sastrawan Indonesia,  lahir Lamongan 1967, di tinggal di Lamongan. Karyanya berjudul ...Yang Diam, Tiga Kumpulan Sajak dipamerkan dalam Pameran Nasional Antologi 2026 Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia .






Pameran Nasional Antologi 2026 Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 17-28 Juni 2026 Kurator: Rg Bagus Warsono

Puisi-puisi Pilihan

Di 

Pameran Nasional Antologi 2026

 




Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 

17-28 Juni 2026


Kurator: Rg Bagus Warsono


Penulis: 

1. Budi Riyoko (Banyuasin) 

2. Sugik Muhammad Sahar (Pamekasan)

3. Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya) 

4. Sthiraprana Duarsa (Denpasar)

5. Mochammad Syu'aib (Batang)

6. Eko Tunas (Semarang)

7. Annisa Resmana (Bandung)

8. Barokah (Purworejo)

9. Barokah (Purworejo)

10.Nanang Ribut Supriyatin (Jakarta) 

11. Nanang Ribut Supriatin (Jakarta) 

12. Siti Suci Winarni (Subang) 

13. Endut Ahadiat (Padang) 

14. Enthieh Mudakir (Tegal) 

15. Enthieh Mudakir (Tegal)

16. Bunergis Muryono (Klungkung Bali) 

17. Imansyah Firman (Bandung)

18. Budianah (Temanggung) 

19. Eko Tunas (Semarang) 

20. K. Kasdi W.A , (Sragen) 

21. K. Kasdi W.A , (Sragen) 

22. Wardjito Soeharso (Semarang)

23. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon) 

24. Asmariah Supriyadi (Jogyakarta) 

25. Asmariah Supriadi (Jogyakarta)

26. Ami Budi Arsih (Cirebon)

27. Ami Budi Arsih (Cirebon)

28. Ritawati Jassin (Jakarta)

29. Yustinus Harris (Jombang)

30. Yustinus Harris (Jombang) 

31. Isbedy Stiawan ZS (Lampung ) 

32. Isbedy Stiawan ZS ( Lampung) 

33. Ari Basuki (Jogyakarta) 

34. Iriani R Tandi, (Jambi) 

35. Ami Budi Arsih (Cirebon)

36. Ami Budi Arsih (Cirebon) 

37. Udo Z Karji (Bandar Lampung) 

38. Slamet Suryadi ( Indramayu) 

39. Mas Ruscitadewi (Denpasar) 

40. Sri Sunarti,  (Indramayu) 

41. Imansyah Firman (Bandung) 

42. Setio Bardono (Depok) 

43. Rosmita  (Jambi) 

44. Akhmad Sekhu, (Jakarta) 

45. Mita Katoyo ( Bekasi) 

46. Asti Musman  (Madiun)

47. Handayani Mutmainah , (Cilacap) 

48. Warsono , (Cilacap) 

49. Budi Waluyo , (Tegal)

50. Sartikah, (Garut) 

51. Ade Sumarna , ( Garut) 

52. Sartikah , (Garut) 

53. Siswa SDN 3 Lingkungpasir Cibiuk Garut, ( Garut)

54. M Enthieh Mudakir (Tegal)

55. M Enthieh Mudakir (Tegal)

56. Bambang Widiatmoko, (Jogyakarta)

57. Sriyanti S. Sastroprayitno , ( Semarang) 

58. Slamet Suryadi ( Indramayu) 

59. Gustu Sinduputra Sindu  Putra (Mataram NTB)

60. Irawan Sandhya Wiraatmaja,  (Tangerang) 

61. Irawan Sandhya Wiraatmaja (Tangerang)

62. Wardjito Soeharso , (Semarang) 

63. Samsudin Adlawi , (Banyuwangi)

64. Rini Intama (Tangerang)

65. Rini Intama (Tangerang)

66. Juniarso  Ridwan (Bandung) 

67. Eryantho Kamis  ( Bekasi)

68. Marwanto  (Jogyakarta).

69. Bunergis Muryono ( Klungkung)

70. Bayang Firdaus karya Halimah Munawir (Jakarta) 

71. Halimah Munawir Anwar (Jakarta) 

72. Sarwo Darmono (Lumajang)

73. Perkumpulan Sabdaaji (Lumajang)

74. A Rahim Eltara (Sumbawa)

75. A Rahim (Sumbawa)

76. Iwan Setiawan (Lubuk Begalung Padang) 

77. Iwan Setiawan ( Lubuk Begalung Padang) 

78. Dingu Rilesta  (Gunung Kidul)

79. Wirja Taufan  (Medan) 

80. Halimah Munawir (Jakarta)

81. Kartika ( Bantul ) 

82. Doel Dalminto ( Bantul )

83. Edy Samudra Kertagama (Bandar Lampung)

84. Sari Banowati (Karawang) 

85. Sari Banowati (Karawang)

86. Sulistyo (Jakarta)

87. Aufa Al Hana ( Batang)

88. Surasono Rashar (Lumajang) 

89. Surasono Rashar  (Lumajang) 

90. Bambang Widiatmoko  (Jogyakarta)

91. Basuki  (Jogyakarta)

92. Husnul Khuluqi (Banyumas)

93. Susilo Hartono (Jakarta)

94. Sri Wahyu Wardani (Semarang)

95. Rissa Churria  ( Bekasi) 

96. Hana Sania   ( Bekasi) 

97. Udi Utama  Depok) 

98. Bambang Kempling (Lamongan)





Kamis, 30 April 2026

Dimana Tempatmu Antologi

 Dimana Tempatmu Antologi 

Oleh: Rg Bagus Warsono 

Indonesia Bicara.

Jika ingin mendengar khabar Indonesia selengkapnya terdapat dalam ribuan judul antologi puisi penyair Indonesia. Silahkan dibaca atau minimalnya baca judulnya saja, maka Anda adalah sarjana humaniora 

Indonesia yang tahu betul situasi kondisi  apa saja di Nusantara ini. 

Banyak tokoh pengamat berbagai bidang di Indonesia yang sebetulnya tidak tahu real masyarakat bicara seenaknya seakan malaikat yang sudah hafal betul keadaan Indonesia, padahal mereka belum menyentuh langsung apa yang diucapkannya. Melalui puisi-puisi dari sekian ribu Antologi dari sekian ribu penyair yang di dalamnya terdapat ratusan ribu puisi, inilah gambaran Indonesia sebenarnya saat ini. Yakni apa yang disampaikan oleh penyair berupa penyampaian kejujuran yang dikemas dalam bentuk puisi. 

Siapa-siapa pandai mengurai maksud apa yang tersurat dan tersirat yang ditulis penyair maka dapat dikatakan ia tahu Indonesia sebenarnya. Mengapa demikian? Karena puisi-puisi itu adalah ungkapan kejujuran dari potret masyarakat Indonesia.

Sebab itulah bacaan sastra termasuk puisi dibutuhkan seseorang untuk menambah wawasan dan membawa seseorang yang pada gilirannya  memiliki kepribadian yang matang. Tidak saja mengerti apa yang disampaikan rakyat tetapi juga memahami apa yang dikehendaki rakyat. Jadi bacaan sastra berfaedah untuk mengisi kepribadian seseorang. 

Namun kita sadari banyak para pemimpin kita seakan buta sastra atau sengaja untuk menghindar membaca sastra, padahal sastra itu menberikan manfaat masukan yang diberikan oleh kejujuran. 

Disamping itu mungkin pula seseorang hanya pandai membaca teks tanpa bisa memahami maksud yang tersurat dalam bacaan puisi. Maka tapak kurang simpatik terhadap bacaan sastra. Sehingga tampak  bahasa yang diucapkan keluar dari mulutnya asal, apalagi diucapkan spontan. Jadi bacaan puisi sebetulnya melatih untuk berfikir ilmiah dan melatih menemukan jawaban dari pertanyaan. 

Itulah sebabnya banyak tokoh tokoh besar menbaca dan memiliki Antologi. Tak sekedar koleksi hiasan lemari kaca tetapi juga bacaan favoriete tokoh itu bahkan sempat mengidolakan penyairnya. Disinilah pencarian tempatmu Antologi didapat. 

April 2026




Senin, 27 April 2026

Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)

 Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)


Entah mengapa setelah Bung Karno turun dan berganti presiden negara kita (kehidupan bernegara)  menjadi awut-awutan tidak menghargai aturan, hukum maupun adat. Salah apa Indonesia ini hingga para pemimpinnya banyak yang tidak ideal bahkan gonta-ganti presiden kita mendapatkan pimpinan yang tidak membuat kita hormat. Kita semakin tak karuan dan tidak memelihara budi luhur bangsa. Salah apa bangsa ini, salah apa negeri ini? 


Dicontohkan oleh Bung Karno untuk menjadi besar itu bukan menyombongkan diri menepuk dada aku presiden, aku kaya, aku hebat atau aku berkuasa, tetapi bagaimana seorang yang memiliki jabatan tinggi, seorang yang memiliki ilmu tinggi (ilmuwan) , seorang kaya yang mempunyai banyak perusahaan, seorang olahragawan yang punya prestasi atau tentara bersenjata dengan bintang di pundak mau menghargai orang tua dan mau menghargai jasa-jasa pendahulunya. 


Demikian Bung Karno sebagai founder of the nation (pendiri bangsa) mengingatkan untuk slalu memberi hormat kepada orang tua pejuang pendahulu negeri sebab tanpa perjuangan mereka tak mungkin dirinya bisa mencapai ini semua.


Hanya Bung Karno yang suka rakyatnya pinter dan cerdas, setelahnya Bung Karno presiden memilih lebih suka rakyatnya bodoh. 


Setelah membaca teks Proklamasi bersama Bung Hatta, keesokan harinya PPKI melantik Bung Karno menjadi Presiden. Di usia sangat muda 44 tahun . Setelah menjadi presiden Bung Karno tidak menunjukan darah mudanya tetapi lebih menunjukan kedewasan. Sebagai seorang kutu buku Bung Karno tidak melepas membaca buku walau jadi presiden. 


Biografi orang orang terkenal dibacanya sehingga ia sadar ia telah menjadi Bapak Bangsa , orang yang dituakan di negri ini. Karena itu sifat sebagai orang tua melekat. Terutama pada generasi muda penerus bangsa.

Ia sangat perhatian kepada generasi muda yang cerdas. Banyak putra Indonesia dari berbagai daerah  cerdas dikirim untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa.

Terhadap pendidikan Bung Karni sangat perhatian selalu. Termasuk mendirikan beberapa universitas di kota besar. Baginya generasi muda harus cerdas. Dan penulis amati hanya Bung Karno-lah yang senang rakyatnya cerdas. Sedang presiden presiden selanjutnya seperti dengan tidak menyukai rakyatnya pinter dan cerdas. Mereka presiden-presiden setelah Bung Karno termasuk Megawati, semua menunjukan lebih suka rakyatnya untuk tetap bodoh.

 (rg bagus warsono)


Kamis, 23 April 2026

Geguritan Rg Bagus Warsono: Bocah-bocah Mbuangi Sega

 Geguritan Rg Bagus Warsono

Bocah-bocah Mbuangi Sega 



Masih ingit zaman semana

Ibu ngandika aja mbuangi sega 

Dewi Sri ora nrima pamali ya

Sega saka beras inget bapa tani 

Ngrekasa nyambut gawe awit ngolah siti sampe nutu beras. 

Diajari ngarti ngormati beras 

Sega sing dipangan ben dina

Sapa sing ngarti ngormati sega

Bakal ora susah nemoni sega 

Urip bakale mulya 

Ora payah nemu pegawean 

Beras dadi cedak awak 

Saiki pemerentah nganani MBG 

Mangan awan jarene bergizi 

Nyatane embuh 

Bocah sekolah kebagian kabeh 

Wiwit SD sampe SMA

Pak lan Bu guru ngongkon mangan awan 

Ora mbayar ning sekolah 

Ayo dipangan ekeh gizine 

Bocah bocah nyekel omprengan mangan awan 

Nanging ora manjing ning cangkem 

Jalaran ora seneng 

Embuh apa sebabe

Becoh wedi karo gurune 

Sega dibuang ora katon guru 

Saben dina ember sampah akeh semut 

Sega lawuan dibuang 

Saben dina

Dewi Sri nangis nguguk 

Esih bocah diajari ora ngormati pangan 

Sega dibuangi ben dina. 

Januari 2026.



Langit Nusantaraku Oh, Rg Bagus Warsono

 Langit Nusantaraku Oh

Layang-layang anak-abak desa 

Dengan ekor menari warna warni 

Berkibar terbang gagah 

Langit diatas penatang sawah pasca panen

Mata memandang sejauh senar layang layang 

Teriak bangau 

Ribuan walet 

Merpati 

Bahana nusantara 

Lalu senja pun tiba 

Semburat merah dibarat mematul langit diair laut 

Malam bintang pun gemerlap tak beraturan yang kadang tertutup awan lewat. 

Langit Nusantara 

Milikmu anak-anak desa

Biru membungkus rumah dan perahu 

Bebas teriak di lapang rumput

Bangga punya langit Nusantara

Langit Nusantara apa tak kenal lagi 

Layang-layang 

Kini deru pesawat jet tempur asing 

Asap bergulung mengikuti rute

Mendung tercemar 

Hujau berbau tailpipe

Jet tempur pesawat 

asing bagi langit nusantara 

Dan burung hantu malam 

Menatap tajam 

Tak puaskan menjual bumi kita?

Langit pun kau relakan. 

Indramayu, 23 April 2026



Keranda Listrik , Rg Bagus Warsono

 Keranda Listrik 


Rg Bagus Warsono 


Di zaman serba listrik

Pasir batu naik Truk listrik 

dijajakan hujan dan panas

Ibu-ibu menunggu di halte

Bus listrik 

mencari pembeli 

Anak-anak sekolah merengek minta sepeda listrik 

Sepeda motor listrik menunggu bapak pulang dari ladang

Setahun berjalan anak-anak sekolah berjalan bergandengan tangan 

Bapak di ladang pulang sebelum kiriman datang 

Ibu-ibu terhalang mobil listrik 

parkir depan rumah 

Abang  becak listrik tersenyum di perempatan jalan 

Suara klakson menyuruh telinga 

Menepi becak listrik mengalah. 

Terlalu berat dipanggul 

Menginspirasi keranda listrik 

untuk kampung kita

Tak merepotkan yang ditinggalkan 

Sewaktu-waktu 

Bila lebai membutuhkan

Keranda listrik libih nyaman