016. Asti Musman
Meminang Harapan
Jika harapan itu tinggi
Akankah kau turunkan, Tuan?
Rakyat tak butuh janji muluk
Mereka rindu peluk
Tapi bukankah cita-cita harus tinggi?
Tak ada larangan bicara berbusa
Menyantolkan harapan setinggi angkasa
Tapi lihatlah ratapan rakyat sengsara
Tampaknya kita beda langkah, beda citra, Tuan!
Kau kata pembangunan untuk rakyat semesta
Namun kau buka sawah
Kau buka kebun, kaugali tambang untuk siapa?
Untuk segelintir manusia?
Bisakah kami pinang harapan itu tuan?
Bukankah kuasa bijaksana jelma rakyat sejahtera?
Mungkin kau lupa caranya
Ataukah kau memang menulikan telinga, butakan mata?
Sudahi pesta poramu, Tuan
Rakyat lelah memanjat pinang
Kau gantung tinggi angan-angan
Hidup jadi serupa beban
Bilakah kau buka pintu sukma
Merajakan sejahtera untuk semasa
Moga kau ingat janji
Janji cuma kau simpan dalam peti
Bahkan mungkin sampai kau mati
Madiun, 7 Agustus 2026
Asti Musman *adalah nama pena Estiningdyah, SP. Perempuan yang lahir di Tuban,jawa Timur 24 Juni 1968 ini merupakan pegiat Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya) serta aktif mendukung kegiatan Lumbung Puisi. Ia telah menulis sekitar 40 karya baik fiksi maupun nonfiksi dengan tema utama motivasi atau pengembangan diri dan budaya Jawa. Buku terbaru yang ia tulis : “Jangan Mengejar Hidup Senang Tapi Kejarlah Hidup Tenang” (Araska, 2026). Ibu dua anak ini juga menjadi bagian dari antologi MBGendam (Buana Grafika, 2026). *
017. Rumah Tani /Ujang Saepudin
Panjat Pinang di Atas Tanah Leluhur
Berdiri kami
di bawah tiang licin penuh oli
bukan untuk hadiah
yang telah lama menggantung nasib
tapi, untuk melarungkan sehimpun tanya
yang telah lama mengakar di tanah leluhur
Mengapa puncak selalu jauh
mengapa tangan kami harus saling injak
demi selembar bendera dan sekantung gula
Mengapa?
tertawa di bawah riuh sorak
sedang keringat kami bercampur tilas tapak perjuangan
tak masuk hitungan
yang di atas bersorak menonton
sedang yang di bawah bahu-membahu rebah meraih janji tak bertepi
Panjatlah! Teriak mereka.
siapa yang melumuri tiang ini begitu licin
siapa yang menggantungkan hadiah di puncak
dan mengatakan: keadilan
dengan suara remang
Kami penonton yang lelah
berjibaku jadi penentu arah
turunkan pinang itu!
turunkan pinang itu!
jangan suruh kami memanjat di atas punggung saudara kami
Adakah kemerdekaan
bukan soal siapa
yang paling cepat sampai ke puncak,
adakah kemerdekaan itu, saudaraku?
tapi, semua dapat berdiri di tapak tilas tanah leluhur ini
tanpa harus terpeleset oli
Cianjur, 7 Agustus 2026
Ujang Saepudin, penyair asal Cianjur beraktifitas sebagai pendidik dan petani. Beberapa puisinya pernah dimuat di koran cetak maupun media digital; Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Radar Kediri, Balipolitika, Kurungbuka, Riau post, dan beberapa puisi lainnya terhimpun dalam beberapa antologi bersama; karyanya masuk 30 besar Payakumbuh Poetry Festival 2022, dan terakhir puisinya masuk antologi Ramu-Ramu Warteg yang digagas DKKT Tegal.
018. Fajri Hamzah,
PANJAT PINANG
Di alun-alun yang meriah itu,
didirikan lagi sebuah tiang licin.
Diolesi minyak dan tawa,
diberi nama: kemerdekaan.
Lalu kita disuruh naik.
Bertelanjang dada. Berdesak-desakan.
Yang paling bawah menahan beban,
pundaknya retak, lututnya berdarah.
Yang di tengah menginjak kepala kawannya,
sambil berteriak: "demi kebersamaan!"
Dan yang paling atas —
yang paling ringan,
yang paling licik mencari pijakan —
dialah yang sampai.
Mengambil kulkas, sepeda, dan televisi,
yang tak pernah ia butuhkan.
Di bawah, kita bersorak untuknya.
Seolah-olah kemenangan satu orang adalah kemenangan kita semua.
Padahal tiangnya masih sama.
Licin.
Tegak.
Menertawakan kita yang mengira ini lomba.
Kita memanjat bukan untuk naik,
tapi agar lupa siapa yang melumuri tiang itu dengan minyak.
Fajri Hamjah adalah guru juga kadang ke sawah
*Tinggal d cianjur *
019. Ahmad Maliki Mashar
KE PUNCAK MERAH PUTIH
Kumendongak
tinggi ke puncak
ke pucuk Merah Putih berkibar
Hadiah bak bintang digantung
bergemerlapan
hanya ompreng yang belum digantung
Otot-otot keringku menggeliat
hitam mengkilat
Bukan sebab kuat
tapi panas mentari terlalu hangat
Riuh tepuk tangan menjadi tambul
semangat pun muncul seperti bisul
Tak hirau kepala dipijak
harapan terus menggelegak
Tulang kering menggeletar
oh, anak negeri sudah begitu lapar
Lapar mengunyah selain pidato-pidato menggelegar
kocak melompati nalar
Kumendongak
tinggi ke puncak
Hadiah bak bintang digantung
berpucuk Merah Putih berkibar
Tanganku menggapai
Tercapai
merah putih ka-de-em-pe yang tak segar.
*Sekara, 7 Agustus 2026. *
020. Heru Patria.
BATANG BATANG PINANG USANG
kemerdekaan sejati letaknya di dalam hati
bukan pada kibar bendera di puncak tiang tertinggi
kemakmuran telah raib dari negeri ini
keadilan cuma sebatas mimpi
teronggok di kantong kantong baju safari
menggantung di ujung dasi
tikus tikus oligarkhi
batang batang pinang telah lapuk
di antara aneka barang tambang yang rakus dikeruk
di dalam hutan yang digunduli secara maruk
oleh badut badut serakah bertubuh gemuk
menguras kekayaan negara dari kursi empuk
saat sidang mata mengantuk
kebanyakan timbun harta hingga menumpuk
batang batang pinang telah usang
terhempas dalam kas negara tanpa uang
negeri kaya sumber daya alam tapi terjerat hutang
sebab kepentingan rakyat tak dibuang
jelata tercekik pajak tak dipandang
kebijakan dibuat hanya untuk segelintir orang
kroni para pecundang
batang batang pinang menjadi saksi
ketika pemilu hanya sebatas parodi berbagi kursi
politik hanya sederet omong kosong yang dilegalkan atas nama demokrasi
pemerintah jadi tukang palak kejar pajak tinggi
persetan orang susah karena birokrasi
yang penting pejabat senang berkolusi
kelak jika batang batang pinang telah bertunas
rakyat akan serentak mengambil langkah tegas
menggugat pemerintah yang menjadi pemeras
hingga anggaran habis terkuras
untuk laksanakan program yang tak jelas
ladang koruptor paling culas
nanti jika batang batang pinang bersemi kembali
rakyat sebagai pemilik syah negeri ini
akan menuntut haknya sesuai konstitusi
bahwa tugas pokok negara membuat hidup damai
bukan membuat rakyat sebagai
tikus yang pantas mati di lumbung padi
suara rakyat adalah suara tuhan
penentu arah kebijakan yang harus dijalankan
selurus batang batang pinang
yang dibuat licin oleh segelintir orang
bertopeng malaikat berhati setan
tunggu saja saatnya
batang batang pinang bakal menyumpal mulut durjana
Blitar, 7 Agustus 2026
Heru Patria adalah novelis asal Blitar yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya sudah dimuat diberbagai media cetak maupun online. Adapun buku puisinya yang sudah terbit adalah : Berita dari Kolong Tol (2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (2022), Orasi Anak Negeri (2023), Rhapsodi Dua Hati (2024). Selain itu ia juga menulis puisi dan cerpen berbahasa Jawa dan meraih Anugerah Sutasoma pada tahun 2024.
021. Reis Ersyad M
Bersorak di panjat pinang
( catatan pinggir teruntuk mas dalang Seno Nugroho
juga teruntuk perupa gambar mas Nasirun: tolong nanti disampaikan
jika ketemu para pejuang kemerdekaan --saya baru bisa kirim serantang
patahan surat al-fatihah sedang nonton lomba panjat pinang hari kemerdekaan)
Oii! adakah kau tak bersorak satir --ini pesta sedang digelar
: meriam tembak kanak-kanak di tanah semak lapang rerumputan,
ini pesta rakyat panjat pinang sedang ditancapkan teruslah bersorak
sedang dikobar,
di ujung atas paling ujung lingkaran bendera tanah airku berkibarkibar
merdeka dari perlondo-londoan yang menggantung macam-rupa hadiah
barang kegembiraan
mrosot bersedekap licin oli permulaan akhir kegembiraan
yang dipercumakan wajahwajah tawa keringat oli setahun sekali
: ini pestaku di rakyat dalam rangka ulang tahun kemerdekaan,
( padahal yang kutahu itu kawanku jika kesampaian hadiahnya akan dibagi
dibelikan seliter beras premium setengah liter minyak sepotong ikan bawal
: anaknya yang tertahan lapar di iring-iringan kapital persembunyian kongsi
korupsi --Tuhan, izinkanlah terus bersorak di ini pesta kerakyatan: merdeka!)
Jatiwaringin - Bekasi 08.08.2026
Reis Ersyad M*,kelahiran Labuhan Bilik 10 Desember 1972: pernah menulis cerita pendek dan puisi di Suara Merdeka,Tabloid Mingguan Cempaka dan Koran Wawasan --Bekerja sebagai praktisi Konstruksi
022. Diana Tustam,
Angin Bertanya, Kau Menjawab
Angin yang meliuk pelan di atap gubukmu bertanya:
Apa yang tersisa dari dompetmu,
selain kartu tanda penduduk
yang mengakui kau warga negara Republik ini
yang kabarnya memelihara orang miskin
dan anak-anak terlantar?
Kau menjawab:
Tak ada kecuali karcis retribusi yang menodong
karena saya meletakkan sebakul daun pisang di pasar.
Tak ada selain janji-janji kampanye yang saya catat
dalam secarik kertas seperti sebuah azimat.
Tak ada selain sisa koyo yang menawar sakit kepala
ketika perut anak-anak menagih hari ini makan apa.
Angin tercenung.
Dengan derunya yang perkasa
ia menerbangkan suaramu
ke gedung dewan rakyat.
Rupa-rupanya,
suaramu kalah lantang
dari denting angka-angka
yang tidak pernah sungguh-sungguh
menimbang nasibmu.
Makassar, Agustus 2026.
Diana Rustam, *tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Menulis puisi dan cerita-cerita pendek di media digital. *
023. Bambang Widiatmoko,
Negeri Luka
Siang menyambut kedatanganku dengan rasa gagap
Menaiki tangga dari tempat parkir kedatangan
yang terasa dingin dan sunyi
Terkagum ketika melihat hamparan lautan di atasnya
Bergumam dalam hati:
“Inilah negara kecil di bawah permukaan air laut
Namun mampu menjajah tanah air sekian ratus tahun lamanya?”
Berkedok dagang dengan bendera VOC
Lalu menciptakan lomba panjat pinang
Dengan hadiah bergelantungan di atasnya
Menertawakan kemiskinan dan kebodohan pribumi
Ratu Wilhelmina pun tertawa dan menyibakkan gerai rambutnya
Menyaksikan yang berlomba memanjat batang pinang
untuk mencoba meraih hadiahnya
Menertawakan tubuh tubuh yang melorot dan bertindihan
Tersebab batang pinang telah dilumuri pelican
Tertawa sinis yang kurasakan bekasnya hingga kini.
Negara di bawah permukaan air laut
Membanjiri dengan penderitaan sepanjang abad
Dalam catatan risalah dan sejarah yang luka.
Lalu mengapa kita mewarisi tradisi lomba panjat pinang
Setiap memperingati hari kemerdekaan
Meski telah berganti sebagai simbol bentuk kerjasama perjuangan
Dengan kerumunan penonton yang riuh rendah menertawakan
Yang jatuh bertumbangan daripada keberhasilan meraih kemenangan?
Gunung Putri, 8 Agustus 2026
Bambang Widiatmoko *adalah penyair kelahiran Yogyakarta yang kini menetap di Bogor. Kumpulan puisinya Tetaplah Tidur Mendengkur terpilih masuk 10 besar buku puisi pilihan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Republik Puitik (2025), Kariyau Hutan (2025), Share (2025), Kitab Omon Omon (2025), Empat Belas Purnama (2025), Zamrud (2025), Layang-Layang Tak Memilih Tangan (2025), Semesta Ingatan (2025), Menjaring Tanah Menghapus Resah (2025), Ramu Ramu Warteg (2026), Mozaik (2026). Ikut menulis esai di buku al. Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL, 2021), Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021), Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021), Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021), Antologi Kritik Sastra dan Esai (KKK. 2021), Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). *
024. Malik,
Bingkisan Agustus
(segmen: menggugat keadilan hukum)
Hukum adalah Panglima
penguasa timbangan keadilan
tua, berkarat dan lebih sering istirahat tapi neraca nya tetap, di kiri dan kanan.
Frasa manusia purba
menyebutnya; "adil"
Ia tidak kenal nama besar.
Ia tidak kenal rekening tebal.
Hari ini,
hukum diterjemahkan algoritma.
namanya diubah jadi "Rasa Adil".
bisa disetting lentur dan fleksibel
bisa di update sesuai deposit.
Ia tidak lagi menimbang keadilan
ia memindai barcode pembenaran
scanner nya pembaca transfer
kebenaran di pindai sesuai order.
Keadilan jadi pengangguran.
ia di-PHK oleh barcode pembenaran
orang mulai lupa wajah hukum
dan rasa adil jadi gosip zaman.
Merdeka jadi kelihatan pincang
limbung makin condong ke seberang
neraca hukum dijadikan cuan pelindung
keadilan merdeka semakin di pasung.
Medan, 08 Agustus 2026
Malik *adalah nama panggilan kecil dari penulis
kelahiran kota Medan. Pria asli anak Suku Koto dari Maninjau Sumatera Barat ini sudah hobi menulis sejak kecil dan tertarik menulis sastra puisi sejak SMP kala ia menulis puisi pertamanya untuk menyatakan "Cinta Monyet"
Sejak itu lelaki ini terjun bebas ke ranah sastra puisi hingga hari ini banyak tergabung dalam antologi puisi bersama sahabat medsos Facebook. Diantaranya antologi Bukit Tinggi Ambo Disiko, Pelangi Sukma, Indonesia Berbisik, Indonesia Tanah Air Beta, dan sejumlah banyak antologi puisi lainnya.
Penulis dapat di hubungi melalui kontak hp/wa di 082166464355 atau link Facebook *.
025. Ule Ceny,
POTRET DI (RI) DALAM PANJAT PINANG
Dalam bingkai jiwa
merah putih menari-nari;
di pucuk-pucuk bambu
di tiang-tiang kota
di pagar-pagar desa, dan
di depan rumahku, bendera terpancang
dikibarkan angin sepoi-sepoi
sambut hari nan merdeka
Di sudut desa
anak-anak tertawa riang
tanpa kasta
bertarung sepak bola, sepak raga, dan tarik tambang
mengema hiruk-pikuk jelata
dalam tradisi panjat pinang
licin dibaluri oli, sabun, dan jelaga
tergambar kehidupan yang layak
Siapa mengira
ada gejolak menikam relung
hidup harus dipertahankan
sepeda plastik dan setali uang
menjanjikan di atas sana?
"panjatlah! panjatlah! "
sorak suara dari balik meja berpita
bahu-bahu kusam bapak tempat berpijak
tanpa sadar
jangan ajari kami,
bagaimana licinnya oli di batang pinang
pundak lawan jadi penopang
kaki-kaki tegap melingkari pinang
pekatnya oli merusak kulit
demi sekotak mimpi di ujung pohon
yang digantungkan elit negeri
bukan rasa manis kemenangan
menetes di dahi
melainkan peluh air mata
kami yang memanjat
kami yang memar
kami yang jatuh berulang kali
lalu siapa bertepuk tangan
di kursi empuk ber-AC itu, hai?
Pesta ini pesta kami!
tapi aturan permainan ini milik kalian
kemerdekaan dibaluri hadiah murah
direbut dengan luka
menjual gelak tawa
atas nama tradisi dan kebersamaan
dibiarkan saling menjatuhkan
sampai kapan drama ini usai?
baiklah!
kini kami bingkai gugatan ini;
di kertas segel berstempel luka
di pungung-pungung mengelupas nanah
bahwa batang pinang ini:
bukan simbol perjuangan suci
melainkan potret di(RI) dalam panjat pinang.
rakyat dimobilisasi, dibaluri oli jelaga, dan dijatuhkan berkali-kali.
Sumbawa, 08082026
Uleceny, dilahirkan di Sumbawa, 5 Juli. Aktif menulis puisi.
026. Megi Maradhonata,
Seorang bocah tak berbaju
Seorang bocah tak berbaju,
bertelanjang kaki,
mencengkeram lumpur,
mendekap erat harapan yang licin,
yang ia titipkan pada teman-temannya.
Merelakan pundaknya,
kram oleh kata keihklasan.
Berat,
namun harus tetap kuat,
dan tak boleh patah semangat.
Para penonton riuh,
tepuk tangan bergemuruh,
memberi yel-yel kepada bocah berkaos partai,
yang tegak di paling atas.
Di atas sana,
sejumlah hadiah hasil iuran siap diraih,
oleh tangan yang siap-siap untuk ditagih.
Ada bendera di puncak,
yang seolah ingin digenggam erat.
Namun setelah di puncak,
yang pertama-tama di lirik,
justru hadiah yang paling menarik.
Lalu sambil membusungkan dada,
ia melemparkan sebungkus mie instan, kopi pahit dan gula,
kepada tangan yang menengadah,
dibawah.
Namanya juga bocah,
selalu ada saja tingkahnya,
membuat lelucon di tengah perlombaan,
yang tentu saja menggemaskan.
Menjadi hiburan bagi penonton,
yang sedang merayakan pesta kemerdekaan.
Sebab panjat pinang,
adalah hasil dari demo_kreasi...
027. S. Ratman Suras,
Adil Makmur Kumur-kumur.
katanya adil makmur
tapi kami rakyat kecil cuma bisa kumur-kumur
dengan air comberan basi
sisa-sisa cuci tangan kalian
di cafe yang serba mewah
kami selalu dijanji-janjikan untuk maju
sebagai peserta lomba antar bangsa
agar dunia tahu, kegigihan kami, kesabaran kami, dicekoki janji-janji
kami sudah tanam, apa yang kalian
inginkan
sorgum, jagung, ubi jalar, singkong, talas, pengganti beras
sebab sawah kami, kalian sulap jadi ladang batu
itulah sebabnya wajah kalian hitam
mengeras, tapi tetap merasa sok waras
katanya adil makmur
tapi kami tetap dikibuli
sedikitpun tak boleh cakap
hukum tetap dipajang di lemari kaca
maling ayam dipermak hingga remuk
para koruptor berleha-leha tetap gemuk
kalian semua ada dibarisannya
sesekali popor dan moncong senjata
diarahkan ke jidat-jidat yang mengkilat
agar diam tak usah ikut-ikutan bicara
katanya adil makmur
untuk dapat segenggam beras
kami harus belepotan oli bekas
yang kalian lumuri pada sebatang pohon pinang
kalian kupas biar licin, lalu ditancapkan
menjulang ke langit angkuh
dii tanah lapang yang kerontang
tega kalian melebihi kompeni
tubuh-tubuh belepotan oli miskin
jadi tontonan, jadi candaan
tawa pun menggema
di antara derai-derai luka
yang terus menganga
Tanjung Anom 080826
S. Ratman Suras, kelahiran Cilacap pada 8 Oktober 1965. Gugur Gunung (1997) Suluk Sunyi (2015) adalah antologi puisi tunggalnya. Kini tinggal di desa Tanjung Anom, Deli Serdang, Sumut.
028. Muhibbsh Rohmah
PENJAJAH BERKEDOK PAHLAWAN
Kata nya untuk negri
Kata nya untuk bangsa ini
Program demi program diluncurkan
Menelan anggaran triliyunan
PKH, KIP, BLT, sampai MBG
yang dapat, yang dekat dengan pak RT
Sekolah Rakyat, koprasi merah putih
Kami hanya bisa melihat, tapi tak bisa menikmati
Coba sini lihat pak...
kami mengontrak rumah petak
Kami tidur diatas becak
Apa kami diberi hak?
Ah, Tentu saja tidak
Sementara harga bahan pokok terus melambung
Sementara harga bahan bakar kian menanjak
Bagaimana kami menghadapinya?
Pak..Kami hanya rakyat
Bukanlah pejabat
Kami hanya bisa mengeluh
Tanpa ada tempat mengadu
Sudahi saja pak...
Jangan ada lagi program baru
Semakin banyak program
Semakin banyak pula pendusta
Penjajah berkedok pahlawan
Ngakunya menolong
Nyatanya menodong
Muhibbah Rohmah
Nama pena: Muhie eL-tadzor
TTL: Indramayu, 08 Januari 1992
Alamat: jln.Talang tembaga, kelurahan Lemah abang, kecamatan/kabupaten Indramayu
Pekerjaan: guru ngaji
029. Sari Baniwati,
Meraih janji
batang pinang dilumuri minyak
di negri yang kaya minyak
licin tandas berjelaga
peserta lomba telanjang dada
saling berebut saling sikut
saling injak menginjak
saling tindih
seperti pertarungan meraih jabatan
di atas batang pinang bergantungan hadiah hadiah
seperti mimpi mimpi
seperti janji janji
penonton lomba tegang berteriak
ada yang terbahak bahak
mentertawakan kelucuan
menyesalkan kebodohan
berdecak karena ada yang bisa meraih kaos kaki
yang sebelahnya jatuh entah ke mana
gapura tujuh belas Agustus berhias manja
bertanya apa arti kemerdekaan
burung yang terlepas dari sarang tahu menganyam sangkar di pohon tinggi
biar dikejar juga cuma kicaunya yang mengelabui
pekik merdeka bergema bergetar diantara genderang upacara diantara derap langkah pembawa bendera
Indonesia jaya
Indonesia raya
membahana di dunia
batang pinang tumbang
hadiah yang tersisa bergantungan
jadi rebutan
Sari Banowati Lahir di Bandung 5 Mei 1956
Suka menari dan menggambar hingga terinspirasi menulis puisi dan cerpen. Kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga membuat jeda. Tertarik kembali untuk menulis ketika memiliki hp android. Masuk group di FB tak menyangka dapat lencana kontributor populer. Kontributor naik daun dengan kalimat terbata bata.
030. Sartikah,
BATANG PINANG YANG TERPURUK
Pagi cerah arunika tetap setia menerangi keluh
Sepasang kaki berjalan tergesa gesa
menuju halaman balai desa
orang orang mulai berkumpul
untuk memeriahkan hari kemerdekan
kemerdekaan dalam perayaan
Di halaman balai desa terpancang batang pinang rebutan
dengan berbagai hadiah hiburan sebagai tanda kemenangan.
satu persatu maju untuk berebut
saling menginjak saling tindih saling menekan untuk mencapai ketinggian tak jauh beda dengan berebut jabatan pangkat dan kedudukan
yang paling bawah paling berat beban, terinjak
seluruh tubuh sampai kepala
menahan sakit dan perih sebagai tanda setia
Lalu mereka tertawa dalam derita
berjuang terus sampai napas penghabisan
tanpa sebuah penghargaan
penonton berteriak dengan lantang
tertawa terbahak melihat kebodohan
Genderang terius berdentang dengan lagu maju tak gentar
Maju tak gentar membela yang benar
kata kata itu terasa asing di benak
karena yang benar belum tentu di bela
belum tentu menang karena kebenaran bisa tersamarkan kekuasaan
kebenaran terinjak kekuasaan
keadilan hanyalah simbol dengan neraca tak lagi seimbang
hukum mati suri kehabisan napas di meja pelelangan
kebebasan terkurung jeruji tirani
panjat pinang simbol di Negeri ini
yang tertawa yang menangis
yang kuat bisa memanjat
yang lemah hanya jadi pijakan
kebodohan terus jadi tontonan
akhir dipanjat batang pinang pun terpuruk
di pingir lapangan terhina dan terlupakan.
Garut, 090826
Sartikah seorang penikmat puisi yang lahir dan di besarkan di kota Cimahi, bertugas sebagi guru sekolah dasar di kecamatan Cibiuk kab. Garut.
Puisi dijadikanya sebagai ajang silaturahmi, persabatan dan persaudaraan.
Komentar
Posting Komentar