Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia (15-30)

 016. Asti Musman


Meminang Harapan


Jika harapan itu tinggi

Akankah kau turunkan, Tuan?

Rakyat tak butuh janji muluk

Mereka rindu peluk

Tapi bukankah cita-cita harus tinggi?

Tak ada larangan bicara berbusa

Menyantolkan harapan setinggi angkasa

Tapi lihatlah ratapan rakyat sengsara

Tampaknya kita beda langkah, beda citra, Tuan!

Kau kata pembangunan untuk rakyat semesta

Namun kau buka sawah

Kau buka kebun, kaugali tambang untuk siapa?

Untuk segelintir manusia?

Bisakah kami pinang harapan itu tuan?

Bukankah kuasa bijaksana jelma rakyat sejahtera?

Mungkin kau lupa caranya

Ataukah kau memang menulikan telinga, butakan mata?

Sudahi pesta poramu, Tuan

Rakyat lelah memanjat pinang

Kau gantung tinggi angan-angan

Hidup jadi serupa beban

Bilakah kau buka pintu sukma

Merajakan sejahtera untuk semasa

Moga kau ingat janji

Janji cuma kau simpan dalam peti

Bahkan mungkin sampai kau mati


Madiun, 7 Agustus 2026



Asti Musman *adalah nama pena Estiningdyah, SP. Perempuan yang lahir di Tuban,jawa Timur 24 Juni 1968 ini merupakan pegiat Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya) serta aktif mendukung kegiatan Lumbung Puisi. Ia telah menulis sekitar 40 karya baik fiksi maupun nonfiksi dengan tema utama motivasi atau pengembangan diri dan budaya Jawa. Buku terbaru yang ia tulis : “Jangan Mengejar Hidup Senang Tapi Kejarlah Hidup Tenang” (Araska, 2026). Ibu dua anak ini juga menjadi bagian dari antologi MBGendam (Buana Grafika, 2026). *

























017. Rumah Tani /Ujang Saepudin


Panjat Pinang di Atas Tanah Leluhur


Berdiri kami

di bawah tiang licin penuh oli

bukan untuk hadiah

yang telah lama menggantung nasib

tapi, untuk melarungkan sehimpun tanya

yang telah lama mengakar di tanah leluhur

Mengapa puncak selalu jauh

mengapa tangan kami harus saling injak

demi selembar bendera dan sekantung gula

Mengapa?

tertawa di bawah riuh sorak

sedang keringat kami bercampur tilas tapak perjuangan

tak masuk hitungan

yang di atas bersorak menonton

sedang yang di bawah bahu-membahu rebah meraih janji tak bertepi

Panjatlah! Teriak mereka.

siapa yang melumuri tiang ini begitu licin

siapa yang menggantungkan hadiah di puncak

dan mengatakan: keadilan

dengan suara remang

Kami penonton yang lelah

berjibaku jadi penentu arah

turunkan pinang itu!

turunkan pinang itu!

jangan suruh kami memanjat di atas punggung saudara kami

Adakah kemerdekaan

bukan soal siapa

yang paling cepat sampai ke puncak,

adakah kemerdekaan itu, saudaraku?

tapi, semua dapat berdiri di tapak tilas tanah leluhur ini

tanpa harus terpeleset oli


Cianjur, 7 Agustus 2026


Ujang Saepudin, penyair asal Cianjur beraktifitas sebagai pendidik dan petani. Beberapa puisinya pernah dimuat di koran cetak maupun media digital; Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Radar Kediri, Balipolitika, Kurungbuka, Riau post, dan beberapa puisi lainnya terhimpun dalam beberapa antologi bersama; karyanya masuk 30 besar Payakumbuh Poetry Festival 2022, dan terakhir puisinya masuk antologi Ramu-Ramu Warteg yang digagas DKKT Tegal.






















018. Fajri Hamzah, 


PANJAT PINANG


Di alun-alun yang meriah itu,

didirikan lagi sebuah tiang licin.

Diolesi minyak dan tawa,

diberi nama: kemerdekaan.

Lalu kita disuruh naik.

Bertelanjang dada. Berdesak-desakan.

Yang paling bawah menahan beban,

pundaknya retak, lututnya berdarah.

Yang di tengah menginjak kepala kawannya,

sambil berteriak: "demi kebersamaan!"

Dan yang paling atas —

yang paling ringan,

yang paling licik mencari pijakan —

dialah yang sampai.

Mengambil kulkas, sepeda, dan televisi,

yang tak pernah ia butuhkan.

Di bawah, kita bersorak untuknya.

Seolah-olah kemenangan satu orang adalah kemenangan kita semua.

Padahal tiangnya masih sama.

Licin.

Tegak.

Menertawakan kita yang mengira ini lomba.

Kita memanjat bukan untuk naik,

tapi agar lupa siapa yang melumuri tiang itu dengan minyak.


Fajri Hamjah adalah guru juga kadang ke sawah

*Tinggal d cianjur *



019. Ahmad Maliki Mashar


KE PUNCAK MERAH PUTIH


Kumendongak

tinggi ke puncak

ke pucuk Merah Putih berkibar

Hadiah bak bintang digantung

bergemerlapan

hanya ompreng yang belum digantung

Otot-otot keringku menggeliat

hitam mengkilat

Bukan sebab kuat

tapi panas mentari terlalu hangat

Riuh tepuk tangan menjadi tambul

semangat pun muncul seperti bisul

Tak hirau kepala dipijak

harapan terus menggelegak

Tulang kering menggeletar

oh, anak negeri sudah begitu lapar

Lapar mengunyah selain pidato-pidato menggelegar

kocak melompati nalar

Kumendongak

tinggi ke puncak

Hadiah bak bintang digantung

berpucuk Merah Putih berkibar

Tanganku menggapai

Tercapai

merah putih ka-de-em-pe yang tak segar.


*Sekara, 7 Agustus 2026. *






020. Heru Patria.  


BATANG BATANG PINANG USANG


kemerdekaan sejati letaknya di dalam hati

bukan pada kibar bendera di puncak tiang tertinggi

kemakmuran telah raib dari negeri ini

keadilan cuma sebatas mimpi

teronggok di kantong kantong baju safari

menggantung di ujung dasi

tikus tikus oligarkhi

batang batang pinang telah lapuk

di antara aneka barang tambang yang rakus dikeruk

di dalam hutan yang digunduli secara maruk

oleh badut badut serakah bertubuh gemuk

menguras kekayaan negara dari kursi empuk

saat sidang mata mengantuk

kebanyakan timbun harta hingga menumpuk

batang batang pinang telah usang

terhempas dalam kas negara tanpa uang

negeri kaya sumber daya alam tapi terjerat hutang

sebab kepentingan rakyat tak dibuang

jelata tercekik pajak tak dipandang

kebijakan dibuat hanya untuk segelintir orang

kroni para pecundang

batang batang pinang menjadi saksi

ketika pemilu hanya sebatas parodi berbagi kursi

politik hanya sederet omong kosong yang dilegalkan atas nama demokrasi

pemerintah jadi tukang palak kejar pajak tinggi

persetan orang susah karena birokrasi

yang penting pejabat senang berkolusi

kelak jika batang batang pinang telah bertunas

rakyat akan serentak mengambil langkah tegas

menggugat pemerintah yang menjadi pemeras

hingga anggaran habis terkuras

untuk laksanakan program yang tak jelas

ladang koruptor paling culas

nanti jika batang batang pinang bersemi kembali

rakyat sebagai pemilik syah negeri ini

akan menuntut haknya sesuai konstitusi

bahwa tugas pokok negara membuat hidup damai

bukan membuat rakyat sebagai

tikus yang pantas mati di lumbung padi

suara rakyat adalah suara tuhan

penentu arah kebijakan yang harus dijalankan

selurus batang batang pinang

yang dibuat licin oleh segelintir orang

bertopeng malaikat berhati setan

tunggu saja saatnya

batang batang pinang bakal menyumpal mulut durjana

Blitar, 7 Agustus 2026


Heru Patria adalah novelis asal Blitar yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya sudah dimuat diberbagai media cetak maupun online. Adapun buku puisinya yang sudah terbit adalah : Berita dari Kolong Tol (2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (2022), Orasi Anak Negeri (2023), Rhapsodi Dua Hati (2024). Selain itu ia juga menulis puisi dan cerpen berbahasa Jawa dan meraih Anugerah Sutasoma pada tahun 2024.










021. Reis Ersyad M


Bersorak di panjat pinang


( catatan pinggir teruntuk mas dalang Seno Nugroho

juga teruntuk perupa gambar mas Nasirun: tolong nanti disampaikan


jika ketemu para pejuang kemerdekaan --saya baru bisa kirim serantang


patahan surat al-fatihah sedang nonton lomba panjat pinang hari kemerdekaan)


Oii! adakah kau tak bersorak satir --ini pesta sedang digelar

: meriam tembak kanak-kanak di tanah semak lapang rerumputan,

 ini pesta rakyat panjat pinang sedang ditancapkan teruslah bersorak


sedang dikobar,

di ujung atas paling ujung lingkaran bendera tanah airku berkibarkibar

merdeka dari perlondo-londoan yang menggantung macam-rupa hadiah


barang kegembiraan

mrosot bersedekap licin oli permulaan akhir kegembiraan

yang dipercumakan wajahwajah tawa keringat oli setahun sekali

: ini pestaku di rakyat dalam rangka ulang tahun kemerdekaan,

( padahal yang kutahu itu kawanku jika kesampaian hadiahnya akan dibagi


dibelikan seliter beras premium setengah liter minyak sepotong ikan bawal


: anaknya yang tertahan lapar di iring-iringan kapital persembunyian kongsi


korupsi --Tuhan, izinkanlah terus bersorak di ini pesta kerakyatan: merdeka!)


Jatiwaringin - Bekasi 08.08.2026


Reis Ersyad M*,kelahiran Labuhan Bilik 10 Desember 1972: pernah menulis cerita pendek dan puisi di Suara Merdeka,Tabloid Mingguan Cempaka dan Koran Wawasan --Bekerja sebagai praktisi Konstruksi




















022. Diana Tustam, 


Angin Bertanya, Kau Menjawab


Angin yang meliuk pelan di atap gubukmu bertanya:

Apa yang tersisa dari dompetmu,

selain kartu tanda penduduk

yang mengakui kau warga negara Republik ini

yang kabarnya memelihara orang miskin

dan anak-anak terlantar?

Kau menjawab:

Tak ada kecuali karcis retribusi yang menodong

karena saya meletakkan sebakul daun pisang di pasar.

Tak ada selain janji-janji kampanye yang saya catat

dalam secarik kertas seperti sebuah azimat.

Tak ada selain sisa koyo yang menawar sakit kepala

ketika perut anak-anak menagih hari ini makan apa.

Angin tercenung.

Dengan derunya yang perkasa

ia menerbangkan suaramu

ke gedung dewan rakyat.

Rupa-rupanya,

suaramu kalah lantang

dari denting angka-angka

yang tidak pernah sungguh-sungguh

menimbang nasibmu.


Makassar, Agustus 2026.


Diana Rustam, *tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Menulis puisi dan cerita-cerita pendek di media digital. *




023. Bambang Widiatmoko, 


Negeri Luka



Siang menyambut kedatanganku dengan rasa gagap

Menaiki tangga dari tempat parkir kedatangan

yang terasa dingin dan sunyi

Terkagum ketika melihat hamparan lautan di atasnya

Bergumam dalam hati:

“Inilah negara kecil di bawah permukaan air laut

Namun mampu menjajah tanah air sekian ratus tahun lamanya?”

Berkedok dagang dengan bendera VOC

Lalu menciptakan lomba panjat pinang

Dengan hadiah bergelantungan di atasnya

Menertawakan kemiskinan dan kebodohan pribumi

Ratu Wilhelmina pun tertawa dan menyibakkan gerai rambutnya

Menyaksikan yang berlomba memanjat batang pinang

untuk mencoba meraih hadiahnya

Menertawakan tubuh tubuh yang melorot dan bertindihan

Tersebab batang pinang telah dilumuri pelican

Tertawa sinis yang kurasakan bekasnya hingga kini.


Negara di bawah permukaan air laut

Membanjiri dengan penderitaan sepanjang abad

Dalam catatan risalah dan sejarah yang luka.

Lalu mengapa kita mewarisi tradisi lomba panjat pinang

Setiap memperingati hari kemerdekaan

Meski telah berganti sebagai simbol bentuk kerjasama perjuangan

Dengan kerumunan penonton yang riuh rendah menertawakan

Yang jatuh bertumbangan daripada keberhasilan meraih kemenangan?


Gunung Putri, 8 Agustus 2026


Bambang Widiatmoko *adalah penyair kelahiran Yogyakarta yang kini menetap di Bogor. Kumpulan puisinya Tetaplah Tidur Mendengkur terpilih masuk 10 besar buku puisi pilihan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Republik Puitik (2025), Kariyau Hutan (2025), Share (2025), Kitab Omon Omon (2025), Empat Belas Purnama (2025), Zamrud (2025), Layang-Layang Tak Memilih Tangan (2025), Semesta Ingatan (2025), Menjaring Tanah Menghapus Resah (2025), Ramu Ramu Warteg (2026), Mozaik (2026). Ikut menulis esai di buku al. Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL, 2021), Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021), Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021), Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021), Antologi Kritik Sastra dan Esai (KKK. 2021), Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). *








024. Malik, 


Bingkisan Agustus

(segmen: menggugat keadilan hukum)


Hukum adalah Panglima

penguasa timbangan keadilan

tua, berkarat dan lebih sering istirahat tapi neraca nya tetap, di kiri dan kanan.

Frasa manusia purba

menyebutnya; "adil"

Ia tidak kenal nama besar.

Ia tidak kenal rekening tebal.

Hari ini,

hukum diterjemahkan algoritma.

namanya diubah jadi "Rasa Adil".

bisa disetting lentur dan fleksibel

bisa di update sesuai deposit.

Ia tidak lagi menimbang keadilan

ia memindai barcode pembenaran

scanner nya pembaca transfer

kebenaran di pindai sesuai order.

Keadilan jadi pengangguran.

ia di-PHK oleh barcode pembenaran

orang mulai lupa wajah hukum

dan rasa adil jadi gosip zaman.

Merdeka jadi kelihatan pincang

limbung makin condong ke seberang

neraca hukum dijadikan cuan pelindung

keadilan merdeka semakin di pasung.

Medan, 08 Agustus 2026





Malik *adalah nama panggilan kecil dari penulis

kelahiran kota Medan. Pria asli anak Suku Koto dari Maninjau Sumatera Barat ini sudah hobi menulis sejak kecil dan tertarik menulis sastra puisi sejak SMP kala ia menulis puisi pertamanya untuk menyatakan "Cinta Monyet"

Sejak itu lelaki ini terjun bebas ke ranah sastra puisi hingga hari ini banyak tergabung dalam antologi puisi bersama sahabat medsos Facebook. Diantaranya antologi Bukit Tinggi Ambo Disiko, Pelangi Sukma, Indonesia Berbisik, Indonesia Tanah Air Beta, dan sejumlah banyak antologi puisi lainnya.

Penulis dapat di hubungi melalui kontak hp/wa di 082166464355 atau link Facebook *.






















025. Ule Ceny, 


POTRET DI (RI) DALAM PANJAT PINANG


Dalam bingkai jiwa

merah putih menari-nari;

di pucuk-pucuk bambu

di tiang-tiang kota

di pagar-pagar desa, dan

di depan rumahku, bendera terpancang

dikibarkan angin sepoi-sepoi

sambut hari nan merdeka


Di sudut desa

anak-anak tertawa riang

tanpa kasta

bertarung sepak bola, sepak raga, dan tarik tambang

mengema hiruk-pikuk jelata

dalam tradisi panjat pinang

licin dibaluri oli, sabun, dan jelaga

tergambar kehidupan yang layak


Siapa mengira

ada gejolak menikam relung

hidup harus dipertahankan

sepeda plastik dan setali uang

menjanjikan di atas sana?

"panjatlah! panjatlah! "

sorak suara dari balik meja berpita

bahu-bahu kusam bapak tempat berpijak


tanpa sadar

jangan ajari kami,

bagaimana licinnya oli di batang pinang

pundak lawan jadi penopang

kaki-kaki tegap melingkari pinang

pekatnya oli merusak kulit

demi sekotak mimpi di ujung pohon

yang digantungkan elit negeri


bukan rasa manis kemenangan

menetes di dahi

melainkan peluh air mata

kami yang memanjat

kami yang memar

kami yang jatuh berulang kali

lalu siapa bertepuk tangan

‎di kursi empuk ber-AC itu, hai?


Pesta ini pesta kami!

tapi aturan permainan ini milik kalian

kemerdekaan dibaluri hadiah murah

direbut dengan luka

menjual gelak tawa

atas nama tradisi dan kebersamaan

dibiarkan saling menjatuhkan

sampai kapan drama ini usai?


baiklah!

kini kami bingkai gugatan ini;

di kertas segel berstempel luka

di pungung-pungung mengelupas nanah

bahwa batang pinang ini:

bukan simbol perjuangan suci

melainkan potret di(RI) dalam panjat pinang.

rakyat dimobilisasi, dibaluri oli jelaga, dan dijatuhkan berkali-kali.


Sumbawa, 08082026


Uleceny, dilahirkan di Sumbawa, 5 Juli. Aktif menulis puisi.

026. Megi Maradhonata, 


Seorang bocah tak berbaju


Seorang bocah tak berbaju,

bertelanjang kaki,

mencengkeram lumpur,

mendekap erat harapan yang licin,

yang ia titipkan pada teman-temannya.

Merelakan pundaknya,

kram oleh kata keihklasan.

Berat,

namun harus tetap kuat,

dan tak boleh patah semangat.

Para penonton riuh,

tepuk tangan bergemuruh,

memberi yel-yel kepada bocah berkaos partai,

yang tegak di paling atas.

Di atas sana,

sejumlah hadiah hasil iuran siap diraih,

oleh tangan yang siap-siap untuk ditagih.

Ada bendera di puncak,

yang seolah ingin digenggam erat.

Namun setelah di puncak,

yang pertama-tama di lirik,

justru hadiah yang paling menarik.

Lalu sambil membusungkan dada,

ia melemparkan sebungkus mie instan, kopi pahit dan gula,

kepada tangan yang menengadah,

dibawah.

Namanya juga bocah,

selalu ada saja tingkahnya,

membuat lelucon di tengah perlombaan,

yang tentu saja menggemaskan.

Menjadi hiburan bagi penonton,

yang sedang merayakan pesta kemerdekaan.

Sebab panjat pinang,

adalah hasil dari demo_kreasi...


































027. S. Ratman Suras, 


Adil Makmur Kumur-kumur.


katanya adil makmur

tapi kami rakyat kecil cuma bisa kumur-kumur

dengan air comberan basi

sisa-sisa cuci tangan kalian

di cafe yang serba mewah

kami selalu dijanji-janjikan untuk maju

sebagai peserta lomba antar bangsa

agar dunia tahu, kegigihan kami, kesabaran kami, dicekoki janji-janji

kami sudah tanam, apa yang kalian

inginkan

sorgum, jagung, ubi jalar, singkong, talas, pengganti beras

sebab sawah kami, kalian sulap jadi ladang batu

itulah sebabnya wajah kalian hitam

mengeras, tapi tetap merasa sok waras

katanya adil makmur

tapi kami tetap dikibuli

sedikitpun tak boleh cakap

hukum tetap dipajang di lemari kaca

maling ayam dipermak hingga remuk

para koruptor berleha-leha tetap gemuk

kalian semua ada dibarisannya

sesekali popor dan moncong senjata

diarahkan ke jidat-jidat yang mengkilat

agar diam tak usah ikut-ikutan bicara

katanya adil makmur

untuk dapat segenggam beras

kami harus belepotan oli bekas

yang kalian lumuri pada sebatang pohon pinang

kalian kupas biar licin, lalu ditancapkan

menjulang ke langit angkuh

dii tanah lapang yang kerontang

tega kalian melebihi kompeni

tubuh-tubuh belepotan oli miskin

jadi tontonan, jadi candaan

tawa pun menggema

di antara derai-derai luka

yang terus menganga


Tanjung Anom 080826


S. Ratman Suras, kelahiran Cilacap pada 8 Oktober 1965. Gugur Gunung (1997) Suluk Sunyi (2015) adalah antologi puisi tunggalnya. Kini tinggal di desa Tanjung Anom, Deli Serdang, Sumut.
























028. Muhibbsh Rohmah


 PENJAJAH BERKEDOK PAHLAWAN


Kata nya untuk negri

Kata nya untuk bangsa ini

Program demi program diluncurkan

Menelan anggaran triliyunan

PKH, KIP, BLT, sampai MBG

yang dapat, yang dekat dengan pak RT

Sekolah Rakyat, koprasi merah putih

Kami hanya bisa melihat, tapi tak bisa menikmati

Coba sini lihat pak...

kami mengontrak rumah petak

Kami tidur diatas becak

Apa kami diberi hak?

Ah, Tentu saja tidak

Sementara harga bahan pokok terus melambung

Sementara harga bahan bakar kian menanjak

Bagaimana kami menghadapinya?

Pak..Kami hanya rakyat

Bukanlah pejabat

Kami hanya bisa mengeluh

Tanpa ada tempat mengadu

Sudahi saja pak...

Jangan ada lagi program baru

Semakin banyak program

Semakin banyak pula pendusta

Penjajah berkedok pahlawan

Ngakunya menolong

Nyatanya menodong






Muhibbah Rohmah

Nama pena: Muhie eL-tadzor

TTL: Indramayu, 08 Januari 1992

Alamat: jln.Talang tembaga, kelurahan Lemah abang, kecamatan/kabupaten Indramayu

Pekerjaan: guru ngaji






























029. Sari Baniwati, 


Meraih janji


batang pinang dilumuri minyak

di negri yang kaya minyak

licin tandas berjelaga

peserta lomba telanjang dada

saling berebut saling sikut

saling injak menginjak

saling tindih

seperti pertarungan meraih jabatan

di atas batang pinang bergantungan hadiah hadiah

seperti mimpi mimpi

seperti janji janji

penonton lomba tegang berteriak

ada yang terbahak bahak

mentertawakan kelucuan

menyesalkan kebodohan

berdecak karena ada yang bisa meraih kaos kaki

yang sebelahnya jatuh entah ke mana

gapura tujuh belas Agustus berhias manja

bertanya apa arti kemerdekaan

burung yang terlepas dari sarang tahu menganyam sangkar di pohon tinggi

biar dikejar juga cuma kicaunya yang mengelabui

pekik merdeka bergema bergetar diantara genderang upacara diantara derap langkah pembawa bendera

Indonesia jaya

Indonesia raya

membahana di dunia

batang pinang tumbang

hadiah yang tersisa bergantungan

jadi rebutan



Sari Banowati Lahir di Bandung 5 Mei 1956

Suka menari dan menggambar hingga terinspirasi menulis puisi dan cerpen. Kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga membuat jeda. Tertarik kembali untuk menulis ketika memiliki hp android. Masuk group di FB tak menyangka dapat lencana kontributor populer. Kontributor naik daun dengan kalimat terbata bata.





























030. Sartikah, 


BATANG PINANG YANG TERPURUK


Pagi cerah arunika tetap setia menerangi keluh

Sepasang kaki berjalan tergesa gesa

menuju halaman balai desa

orang orang mulai berkumpul

untuk memeriahkan hari kemerdekan

kemerdekaan dalam perayaan

Di halaman balai desa terpancang batang pinang rebutan

dengan berbagai hadiah hiburan sebagai tanda kemenangan.

satu persatu maju untuk berebut

saling menginjak saling tindih saling menekan untuk mencapai ketinggian tak jauh beda dengan berebut jabatan pangkat dan kedudukan

yang paling bawah paling berat beban, terinjak

seluruh tubuh sampai kepala

menahan sakit dan perih sebagai tanda setia

Lalu mereka tertawa dalam derita

berjuang terus sampai napas penghabisan

tanpa sebuah penghargaan

penonton berteriak dengan lantang

tertawa terbahak melihat kebodohan

Genderang terius berdentang dengan lagu maju tak gentar

Maju tak gentar membela yang benar

kata kata itu terasa asing di benak

karena yang benar belum tentu di bela

belum tentu menang karena kebenaran bisa tersamarkan kekuasaan

kebenaran terinjak kekuasaan

keadilan hanyalah simbol dengan neraca tak lagi seimbang

hukum mati suri kehabisan napas di meja pelelangan

kebebasan terkurung jeruji tirani

panjat pinang simbol di Negeri ini

yang tertawa yang menangis

yang kuat bisa memanjat

yang lemah hanya jadi pijakan

kebodohan terus jadi tontonan

akhir dipanjat batang pinang pun terpuruk

di pingir lapangan terhina dan terlupakan.


Garut, 090826


Sartikah seorang penikmat puisi yang lahir dan di besarkan di kota Cimahi, bertugas sebagi guru sekolah dasar di kecamatan Cibiuk kab. Garut.

Puisi dijadikanya sebagai ajang silaturahmi, persabatan dan persaudaraan.










Komentar