Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2026

Geguritan Rg Bagus Warsono: Bocah-bocah Mbuangi Sega

 Geguritan Rg Bagus Warsono

Bocah-bocah Mbuangi Sega 



Masih ingit zaman semana

Ibu ngandika aja mbuangi sega 

Dewi Sri ora nrima pamali ya

Sega saka beras inget bapa tani 

Ngrekasa nyambut gawe awit ngolah siti sampe nutu beras. 

Diajari ngarti ngormati beras 

Sega sing dipangan ben dina

Sapa sing ngarti ngormati sega

Bakal ora susah nemoni sega 

Urip bakale mulya 

Ora payah nemu pegawean 

Beras dadi cedak awak 

Saiki pemerentah nganani MBG 

Mangan awan jarene bergizi 

Nyatane embuh 

Bocah sekolah kebagian kabeh 

Wiwit SD sampe SMA

Pak lan Bu guru ngongkon mangan awan 

Ora mbayar ning sekolah 

Ayo dipangan ekeh gizine 

Bocah bocah nyekel omprengan mangan awan 

Nanging ora manjing ning cangkem 

Jalaran ora seneng 

Embuh apa sebabe

Becoh wedi karo gurune 

Sega dibuang ora katon guru 

Saben dina ember sampah akeh semut 

Sega lawuan dibuang 

Saben dina

Dewi Sri nangis nguguk 

Esih bocah diajari ora ngormati pangan 

Sega dibuangi ben dina. 

Januari 2026.



Langit Nusantaraku Oh, Rg Bagus Warsono

 Langit Nusantaraku Oh

Layang-layang anak-abak desa 

Dengan ekor menari warna warni 

Berkibar terbang gagah 

Langit diatas penatang sawah pasca panen

Mata memandang sejauh senar layang layang 

Teriak bangau 

Ribuan walet 

Merpati 

Bahana nusantara 

Lalu senja pun tiba 

Semburat merah dibarat mematul langit diair laut 

Malam bintang pun gemerlap tak beraturan yang kadang tertutup awan lewat. 

Langit Nusantara 

Milikmu anak-anak desa

Biru membungkus rumah dan perahu 

Bebas teriak di lapang rumput

Bangga punya langit Nusantara

Langit Nusantara apa tak kenal lagi 

Layang-layang 

Kini deru pesawat jet tempur asing 

Asap bergulung mengikuti rute

Mendung tercemar 

Hujau berbau tailpipe

Jet tempur pesawat 

asing bagi langit nusantara 

Dan burung hantu malam 

Menatap tajam 

Tak puaskan menjual bumi kita?

Langit pun kau relakan. 

Indramayu, 23 April 2026



Keranda Listrik , Rg Bagus Warsono

 Keranda Listrik 


Rg Bagus Warsono 


Di zaman serba listrik

Pasir batu naik Truk listrik 

dijajakan hujan dan panas

Ibu-ibu menunggu di halte

Bus listrik 

mencari pembeli 

Anak-anak sekolah merengek minta sepeda listrik 

Sepeda motor listrik menunggu bapak pulang dari ladang

Setahun berjalan anak-anak sekolah berjalan bergandengan tangan 

Bapak di ladang pulang sebelum kiriman datang 

Ibu-ibu terhalang mobil listrik 

parkir depan rumah 

Abang  becak listrik tersenyum di perempatan jalan 

Suara klakson menyuruh telinga 

Menepi becak listrik mengalah. 

Terlalu berat dipanggul 

Menginspirasi keranda listrik 

untuk kampung kita

Tak merepotkan yang ditinggalkan 

Sewaktu-waktu 

Bila lebai membutuhkan

Keranda listrik libih nyaman



Sabtu, 24 Januari 2026

 "Ada Wajah Gus Dur di Imlek" adalah sebuah puisi karya sastrawan Rg Bagus Warsono yang menggambarkan sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai simbol pluralisme dan toleransi, terutama dalam perayaan Imlek. Puisi ini menekankan nilai persaudaraan dan kebersamaan lintas budaya yang diperjuangkan Gus Dur, menggabungkan elemen budaya Tionghoa dengan semangat inklusivitas, yang dipublikasikan pada Januari 2022. 

Inti Puisi: Rg Bagus Warsono mengaitkan sosok Gus Dur dengan semangat perayaan Tahun Baru Imlek, menonjolkan peran Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang merangkul keberagaman, seperti dilansir oleh Kompasiana.com.

Simbolisme: Puisi ini menarasikan bagaimana wajah dan pemikiran Gus Dur hadir dalam suasana Imlek, melambangkan kebebasan dan pengakuan terhadap budaya Tionghoa di Indonesia.

Penulis: Rg Bagus Warsono adalah seorang sastrawan Indonesia asal Tegal yang aktif menulis puisi, seperti yang dicatat dalam Literanesia. 

Puisi ini bukan narasi fisik, melainkan penghormatan sastra terhadap warisan pemikiran Gus Dur tentang kesetaraan, tulis Literanesia. 

Berikut Puisinya : 




Rg Bagus Warsono



Ada wajah Gus Dur di Imlek

Gus-Dur


Ada wajahmu di setiap hari Imlek,

Di ucapan selamat dan salam mereka

Kau yang membuat senyum

pengikutmu dan gembira umat Konghucu

Membuka hati

Membuka kunci berkarat

Yang tlah lama menindih toleransi

Tak peduli siapa menghalang.

Kunci dibuka

Ada wajahmu di imlek

Dikala tuan kuasa.

Bagi yang lama menunggu, terbuka

Kau lepas belenggu merdeka.

Kini wajahmu di Imlek Indonesia.

Memberi hormat Gus Dur yang sanggup membongkar kebisuan Tionghoa

lama gembok yang 32 tahun berkarat.

Bahwa kita sama berjuang merdeka.

Kini wajahmu di Imlek

Sepaduk dan cinderamata untuk pahlawan hati merdeka.

Kau bijaksana

Melawan arus menyamakan siapa.

Sebab memahami arti merdeka Pancasila.

Seperti kau berdiri melindungi

anak-anak dan pengantin Konghucu.

Dan lampion merah bergoyang di talang-talang rumah

Lalu Barongsai menari

Menyalami hormat Gus Durmu dan Gus Durku.


Rg Bagus Warsono, (18-01-22)

Senin, 26 Desember 2022

Terjebak Hujan Tidur di Rumah Janda

 Terjebak Hujan Tidur di Rumah Janda

Semakin dingin kenapa semakin dag dig dug

Hujan kulihat di kaca jendela dari dalam rumah janda,

gelisahku bercapur harap

tawaran menginap janda manis

kunanti harap guntur menggelegar

rokok disulut sekedar hambar

tiada kata sepi berpandangan

Kutatap langit kamar tamu 

dan lampu 20watt 

yang remang oleh cat tembok ungu

Ketika jandaku menyuguhkan kopi panas

untuk yang kedua

tampak jalan sepi nyenyap

hanya gemericik di genangan jalan berlubang

Mas, kau boleh tidur di kursi .......

hah....

aku boleh menginap?

                                   (Rg Bagus Warsono).

pictur: Lukisan Modigliani 1917



Salera, karya Rg Bagus Warsono

 Salera

Salera adalah namamu

sekarang tetap Salera

Kau tak pernah tua

Dengan pahamu yang tak pernah keriput

Dan payudaramu yang tak peot

Tubuhmu Salera mahal

Muda aku merindu

Aku tua kau tetap Salera

Hidup menelan ludah

Dunia cuma lamunan

Kau tak pernah tahu Salera

Ada laki-laki

diantara paha dan payudaramu

(rg bagus warsono) 

picture: Lukisan Modigliani tahun 1917.




Selasa, 18 Oktober 2022

Pagi Yang tak ada di buku sejarah , Zaeni Boli

 Pagi Yang tak ada di buku sejarah 

Seperti  suara tangis bayi yang resah saat dimandikan ibunya , anak perempuan  yang manja pada ayahnya . 

Kehidupan  di bawah langit yang mendung 

Tak semendung nasib para gelandang  yang terbiasa bermukim dibawah jembatan  saat air  meluap di kali Bekasi .

Cerita ini mungkin  tak ada dalam puisi puisi para Penyair kota yang masih mencari diksi mencari tenar mencari  indah mencari pengakuan  . 

Jalan di kampung  kami masih becek jika hujan turun , sepatu kami masih penuh dengan tanah . 

Jalan yang kemarin baru selesai  dibuat kini larut bersama hujan yang turun tak seberapa  . 

Ini tidak seperti  doorprize yang kau rayakan di Taman Kota,  ini tentang  nasib yang panjang selama 5 tahun berjalan . 

Di sini tak ada suara dari stasiun  kereta  tempat orang orang berkejaran  sampai sendal tertinggal , perjalanan  yang melelahkan  terkadang  tak manusiawi  tapi sudah lupa kapan jadi manusia merdeka di nikmati  sebagai kebiasaan  yang biasa saja . 

Di sini  pisang,  singkong dan kelapa sudah lebih dari cukup bisa di nikmati  satu keluarga  . 

Di pagi yang  tak ada dalam buku sejarah. 

Zaeni  Boli  

Larantuka 2022


BIBIRMU, IJAH! Sulistyo

 BIBIRMU,  IJAH! 

Tok tok tok!

selamat pagi, Ijah!

lekas buka pintu rumahmu 

semalam bibirmu tertinggal dalam mimpiku 

terselip di sela-sela gigiku 

kau memang keterlaluan, bergegas berlari saat kukuruyuk ayam jantan bernyanyi 

mimpi belum tuntas benar 

"takut keburu ketahuan majikan," katamu 

seperti dikejar setan kau ngacir tungganglanggang melompat tanpa sehelaipun benang 

Sebelum kuantar ke sini 

bibirmu kucelupkan dulu di gelas kopi 

agar bau pete dan jengkol tak mengundang pagi ikut mencicipi bibirmu yang tebal dan buntal 

Tok tok tok!

Lekas buka pintu, Jah!

aku tak tahan melihat bibirmu meronta-ronta dalam kantung celana kolorku 

Mulya Asri,  16.10.2022


Kamis, 13 Oktober 2022

Malala Yousafzay, (Rg Bagus Warsono,29-08-13)

 Malala Yousafzay

Gadis belia pemberani

Seperti Kartini

Anak-anak perempuan bersekolah

Tidak minta gaji sepertimu yang baru bisa mengajar

Malu aku melihat Malala

Gadis pemberani

Melawan diskriminasi perempuan tak boleh sekolah

Perjuangan melawan kebodohan, penindasan

Kesewenang-wensngan

Dibayar dengan kepalanya

Ditembak

Tetapi Allah menyelamatkan

Malala guru lima belas tahun.

(Rg Bagus Warsono,29-08-13)


 Malala Yousafzay

Malala Yousafzay, oleh Rg Bagus Warsono

 Brave young girl

Like Kartini

Girls go to school

Don't ask for a salary like you who can only teach

Shame I see Malala

Brave girl

Fighting discrimination, women can't go to school

The struggle against ignorance, oppression

arbitrariness

Paid with his head

Shot

But God saves

Malala is a fifteen year old teacher.

(Rg Bagus Warsono, 29-08-13)

Malala Yousafzay


Rabu, 20 Juli 2022

PLEMBUNGAN, Marlin Dinamikanto

 


Marlin Dinamikanto:

PLEMBUNGAN

plembungan itu bergembira

tubuhnya membesar

dia tidak tahu ada yang menyebul

jumawa terbang

naik ke angkasa

mengintip orang indehoy

penghuni apartemen yang lupa

menutup korden

plembungan itu lelah

tubuhnya mengecil

jatuh di ujung selang nitrogen

merasa jadi Dewa yang kesasar

dikiranya tukang balon itu

derajatnya abdi dalem

maka dia turunkan executive order

seperti Presiden Amerika

ingin disebul lebih besar lagi

supaya semua orang tahu

tubuhnya bisa dilihat

hingga ujung dunia

tukang balon itu kesal

diglenggengnya kran nitrogen

plembungan itu njedot

dunia tertawa membulinya

sudah itu mereka lupa

plembungan itu pernah ada

Bogor, 17 Juli 2021

Selasa, 28 Juni 2022

Lita Miranita, PENYAIR SOSMED

 PENYAIR SOSMED

Aku tulis banyak puisi

Aku tertawa sendiri

Puisiku aneh

Puisiku asal jadi

Aku lelah

Selalu ditandai like

Kenapa harus like?

Kenapa tidak kasih comment?

Aku Penyair Sosmed

Tidak berani tampil di panggung

Jalanku merayap

Mirip cicak

Pasti pada mencela

Ah.. biarlah

Aku merasa nyaman bersyair di Sosmed

Sudah banyak Sertifikat

Sudah banyak Name Art

Semua bagus

Tidak ada yang salah

Sempurna

Aku Penyair Sosmed

Berkelana di dunia maya

Entah mencari siapa

Mencari teman

Mencari musuh

Rancu

Sekarang aku pilih diam

Puisi aku susun rapi

Puisi akan aku cetak rapi

Puisi aku beri foto diri

Puisi milik aku pribadi

Sudah ah

Aku lelah

Jakarta, 28 Juni 2022

Lita Miranita

Achmad Masih, SANGKAN PARANING DUMADI

 SANGKAN PARANING DUMADI

Achmad Masih

.

perjalanan sukma

payung kencana

kereta berkuda

empat warna

.

dari awal menuju awal

putaran tiada berakhir

tanpa  siang, malam

semua wajah sama

.

empat warna watak

berpacu berebut kuasa

saling  menghela  kereta

dikendali sais yang berhak

.

perjalanan akhir

kearah dari mana hadir

kutaran abadi cakramanggilingan

_

®Jogja 2021

Tp M Siddiq. RUMPUN PAPA


tpmsiddiq_

 RUMPUN PAPA

Bila menyimak riwayat mereka miliki kerabat petinggi

Hanya nanar terganga kian merasa rendah diri

Sejak semula sadari bermuasal dari bani papa

Bukan terlahir dari rahim puteri kerani diraja

Pun tidak mewarisi garis bersisian kaum bertakhta

Tumbuh menjalar serupa dari rumpun bersahaja

Bila ditebas kan tercincang berkecai seketika

Takdir sulur hanya mahir menjulur tak menjulang

Bila lekat batang pun merunduk, segan menantang

Bukan melipur, semata ikhlas rayapi bidang terbentang

Kepri, 27 Juni 2022

Teguh Susanta. SUDAHLAH, TUAN

 Teguh Susanta

SUDAHLAH, TUAN



Gerangan apa lagi yang tuan cari

Segalanya telah tuan miliki

Bicara raupan harta

Tujuh turunan tak 'kan merana

Tentang cakupan ladang pencetak uang

Terentang membentang segala bidang

Di antara ribuan raga patuh  peluh bersimbah

Jua cairan otak encer membuncah

Menggapai perseroan tuan kian besar dan tinggi

Pada kursi tertinggi tuan pegang kendali 

Nama besar tuan semakin bersinar 

Bendera tuan pun gagah berkibar

Kini bendera baru tuan tancapkan seantero negeri 

Serupa kendaraan berpacu melaju

Mimpi kursi kemudi arah negeri

Hymne berkoar berkumandang setiap waktu

Dihiasi budi peduli merayu-rayu 

Pada layar-layar luas tersiar tuan miliki

Sudahlah, tuan....

Jangan mencoba-coba

Buat saja tersenyum mereka

Yang patuh bersimpuh peluh meluruh

Di bawah gagah kibar bendera perseroan tuan

Dan bukan kibar bendera kendaraan baru tuan

Biarkan kursi kendali arah negeri diduduki ahlinya

Bangsawan yang benar faham tata negara

Yang bersongkok akhlaq berselimut hati nurani

Bertangan dan kaki ikhlas mengabdi bumi pertiwi

Teguh Susanta

Purwakarta, 15062022.  04:10

Kang Asep KUDA

 Kang Asep 

KUDA



Pecut melecut

Tengkuk melepuh

Waktu memburu

Dengus menderu

Laju ..laju...laju...!

Abaikan jejak tertimbun debu

Laju... laju...laju...!

Menyisir takdir menyambut maut

Laju... laju... laju...!

Jangan memekik karena sakit

Percuma takkan terdengar

Atau bahkan tak pernah didengar

Sebab cucuran peluhmu yang membuat kagum

Dan tetesan darah adalah gempita sorak mereka

Door Deo, Kita pernah bersatu

 Door Deo

Kita pernah bersatu



pada mulanya kita berjalan bersama

mencari sebuah arti yang hakiki

gaung perjalanan menggema dalam sanubari

gaung perjalanan menggema jadi pribadi

banyak yang dilihat

banyak yang didengar

di atas bumi

di bawah langit

kembali biduk berayun laju

atas samudra kehidupan

bila waktu mengajak berhenti

entah kapan tak kita tahu

: begitu sayangnya

waktumu

waktuku

waktu kita berpaling

: waktu Tuhan sang penentu

kukenang rasa syukur

kukenang rasa geram

kukenang rasa sayang

kukenang dalam diam

kusimpan di hati

dalam kedamaian

dalam.cahaya yang menyala

mengiring perjalananmu

:selamat jalan sodaraku

aku berduka

rumah bluesku

aku kehilangan

Sulistyo, HUJAN MINGGU SORE

 Sulistyo,

HUJAN MINGGU SORE 



Sore ini hujan 

payungku dipinjam

belum dikembalikan

kuyup seluruh badan

percuma lari lintang pukang 

hujan sangat geram mengejar 

kakiku oleng terjerembab masuk selokan depan rumah pacar 

Ah, bulan setengah bundar 

andai kau tak pinjam payungku tadi malam

kangenku pasti aman tak kebasahan 

Aku pulang balik badan 

tak jadi ngapelin pacar tersayang yang sudah menunggu tanpa kutang 

26.06.2022

Satria Rizal: CINTA SATU MALAM

 Satria Rizal:

CINTA SATU MALAM

petikan dawai merdu mendayu

melodi paling indah

di malam penuh bunga

seketika irama berganti

hingar bingar menghentak rasa

liukan erotik

bangkitkan gairah

beberapa jenak kemudian

ada jeritan manja melenting di kamar

Aduh.......! 

rasa membuai ke ujung-ujung ragawi

memetik bintang, cumbui rembulan

lenguhan kecil panjang pendek

di antara helaan napas yang saling berpacu

dahulu mendahului

duhai.. 

hasrat yang menggelora

jiwa meronta-ronta

raga melenguh

batin mengeluh

Selanjutnya.. 

bumi hitam jelaga

bintang dan rembulan hilang di gulung awan

jiwa-jiwa sepi di kungkung malam

kemudian lemas terkulai

diam.. bagai nyala api yang padam

Bumi Raflesia, 26 Juni 2022

Selasa, 31 Mei 2022

Rg Bagus Warsono" Aku Menyaksikan

 Rg Bagus Warsono,


Aku Menyaksikan


Potret perjuangan

Dari buku yang kau tulis

Dari foto yang kau kumpulkan

Dan

film yang kau putar

Hanya sekuku

ireng

penderitaan

Aku melihat ribuan kepala berlinang air mata

Aku melihat darah membeku di mayat beku

Aku menyaksikan derita kesakitan menyayat

Sengsara

Lapar

Ketakutan

Kesakitan

Aku menyaksikan.

Rg Bagus Warsono, 1996 dari Si Bung