Senin, 27 April 2026

Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)

 Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)


Entah mengapa setelah Bung Karno turun dan berganti presiden negara kita (kehidupan bernegara)  menjadi awut-awutan tidak menghargai aturan, hukum maupun adat. Salah apa Indonesia ini hingga para pemimpinnya banyak yang tidak ideal bahkan gonta-ganti presiden kita mendapatkan pimpinan yang tidak membuat kita hormat. Kita semakin tak karuan dan tidak memelihara budi luhur bangsa. Salah apa bangsa ini, salah apa negeri ini? 


Dicontohkan oleh Bung Karno untuk menjadi besar itu bukan menyombongkan diri menepuk dada aku presiden, aku kaya, aku hebat atau aku berkuasa, tetapi bagaimana seorang yang memiliki jabatan tinggi, seorang yang memiliki ilmu tinggi (ilmuwan) , seorang kaya yang mempunyai banyak perusahaan, seorang olahragawan yang punya prestasi atau tentara bersenjata dengan bintang di pundak mau menghargai orang tua dan mau menghargai jasa-jasa pendahulunya. 


Demikian Bung Karno sebagai founder of the nation (pendiri bangsa) mengingatkan untuk slalu memberi hormat kepada orang tua pejuang pendahulu negeri sebab tanpa perjuangan mereka tak mungkin dirinya bisa mencapai ini semua.


Hanya Bung Karno yang suka rakyatnya pinter dan cerdas, setelahnya Bung Karno presiden memilih lebih suka rakyatnya bodoh. 


Setelah membaca teks Proklamasi bersama Bung Hatta, keesokan harinya PPKI melantik Bung Karno menjadi Presiden. Di usia sangat muda 44 tahun . Setelah menjadi presiden Bung Karno tidak menunjukan darah mudanya tetapi lebih menunjukan kedewasan. Sebagai seorang kutu buku Bung Karno tidak melepas membaca buku walau jadi presiden. 


Biografi orang orang terkenal dibacanya sehingga ia sadar ia telah menjadi Bapak Bangsa , orang yang dituakan di negri ini. Karena itu sifat sebagai orang tua melekat. Terutama pada generasi muda penerus bangsa.

Ia sangat perhatian kepada generasi muda yang cerdas. Banyak putra Indonesia dari berbagai daerah  cerdas dikirim untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa.

Terhadap pendidikan Bung Karni sangat perhatian selalu. Termasuk mendirikan beberapa universitas di kota besar. Baginya generasi muda harus cerdas. Dan penulis amati hanya Bung Karno-lah yang senang rakyatnya cerdas. Sedang presiden presiden selanjutnya seperti dengan tidak menyukai rakyatnya pinter dan cerdas. Mereka presiden-presiden setelah Bung Karno termasuk Megawati, semua menunjukan lebih suka rakyatnya untuk tetap bodoh.

 (rg bagus warsono)


Kamis, 23 April 2026

Geguritan Rg Bagus Warsono: Bocah-bocah Mbuangi Sega

 Geguritan Rg Bagus Warsono

Bocah-bocah Mbuangi Sega 



Masih ingit zaman semana

Ibu ngandika aja mbuangi sega 

Dewi Sri ora nrima pamali ya

Sega saka beras inget bapa tani 

Ngrekasa nyambut gawe awit ngolah siti sampe nutu beras. 

Diajari ngarti ngormati beras 

Sega sing dipangan ben dina

Sapa sing ngarti ngormati sega

Bakal ora susah nemoni sega 

Urip bakale mulya 

Ora payah nemu pegawean 

Beras dadi cedak awak 

Saiki pemerentah nganani MBG 

Mangan awan jarene bergizi 

Nyatane embuh 

Bocah sekolah kebagian kabeh 

Wiwit SD sampe SMA

Pak lan Bu guru ngongkon mangan awan 

Ora mbayar ning sekolah 

Ayo dipangan ekeh gizine 

Bocah bocah nyekel omprengan mangan awan 

Nanging ora manjing ning cangkem 

Jalaran ora seneng 

Embuh apa sebabe

Becoh wedi karo gurune 

Sega dibuang ora katon guru 

Saben dina ember sampah akeh semut 

Sega lawuan dibuang 

Saben dina

Dewi Sri nangis nguguk 

Esih bocah diajari ora ngormati pangan 

Sega dibuangi ben dina. 

Januari 2026.



Langit Nusantaraku Oh, Rg Bagus Warsono

 Langit Nusantaraku Oh

Layang-layang anak-abak desa 

Dengan ekor menari warna warni 

Berkibar terbang gagah 

Langit diatas penatang sawah pasca panen

Mata memandang sejauh senar layang layang 

Teriak bangau 

Ribuan walet 

Merpati 

Bahana nusantara 

Lalu senja pun tiba 

Semburat merah dibarat mematul langit diair laut 

Malam bintang pun gemerlap tak beraturan yang kadang tertutup awan lewat. 

Langit Nusantara 

Milikmu anak-anak desa

Biru membungkus rumah dan perahu 

Bebas teriak di lapang rumput

Bangga punya langit Nusantara

Langit Nusantara apa tak kenal lagi 

Layang-layang 

Kini deru pesawat jet tempur asing 

Asap bergulung mengikuti rute

Mendung tercemar 

Hujau berbau tailpipe

Jet tempur pesawat 

asing bagi langit nusantara 

Dan burung hantu malam 

Menatap tajam 

Tak puaskan menjual bumi kita?

Langit pun kau relakan. 

Indramayu, 23 April 2026



Keranda Listrik , Rg Bagus Warsono

 Keranda Listrik 


Rg Bagus Warsono 


Di zaman serba listrik

Pasir batu naik Truk listrik 

dijajakan hujan dan panas

Ibu-ibu menunggu di halte

Bus listrik 

mencari pembeli 

Anak-anak sekolah merengek minta sepeda listrik 

Sepeda motor listrik menunggu bapak pulang dari ladang

Setahun berjalan anak-anak sekolah berjalan bergandengan tangan 

Bapak di ladang pulang sebelum kiriman datang 

Ibu-ibu terhalang mobil listrik 

parkir depan rumah 

Abang  becak listrik tersenyum di perempatan jalan 

Suara klakson menyuruh telinga 

Menepi becak listrik mengalah. 

Terlalu berat dipanggul 

Menginspirasi keranda listrik 

untuk kampung kita

Tak merepotkan yang ditinggalkan 

Sewaktu-waktu 

Bila lebai membutuhkan

Keranda listrik libih nyaman



Senin, 30 Maret 2026

Sekilas Pameran Nasional Antologi 2026 Lumbung Puisi

 Membaca sekilas suara para penyair dalam buku-buku ini, saya langsung merasakan bobot yang menghujam di setiap baris, betapa pelik dan penuh kesungguhan pekerjaan ini. Sebab di halaman-halamannya tak ada yang kalah, dan memang selayaknya demikian disebut: Mereka semua seharusnya adalah Pemenang.

Sastra kita menyimpan banyak penyair yang berkarya dalam sunyi, suara-suara mereka tertutup selimut, keindahan puisi-puisi mereka berpendar di balik layar yang jarang tersingkap. Dari rahim Nusantara ini mengalir denyut yang dalam, akar yang menembus lapisan sejarah, dan imajinasi yang menandingi tradisi mana pun di dunia. Jika sastra ini dirawat dengan serius dan diberi panggung yang layak, ia akan berdiri tegak sebagai pelopor sastra dunia.

Liauw Pauw Phing

Kurator, kritikus dan Juri “PAMERAN NASIONAL ANTOLOGI PUISI SASTRAWAN INDONESIA

2026”



Senin, 23 Maret 2026

Lumbung Puisi is an Indonesian poetry documentation

 I. Origins and Foundations


Lumbung Puisi is an Indonesian poetry documentation initiative founded in 2013 by Rg. Bagus Warsono through the Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM, Society of Reading Enthusiasts) in Indramayu, West Java. From the outset, the project was intended to bring literature closer to everyday life through periodic anthologies featuring poets from across the archipelago. The name “lumbung” was chosen as a distinctly agrarian metaphor: just as a rice granary collects harvests from surrounding fields into a single store, the project was conceived as a shared repository for documenting poetry systematically and continuously. Its animating spirit was explicitly noncommercial and grounded in mutual cooperation, as Rg. Bagus Warsono himself declared: “This is a nonprofit activity, built on the spirit of gotong royong for fellow poets who are willing to advance Indonesian literature together.” In keeping with that spirit, Lumbung Puisi positioned itself from the beginning as an inclusive space unaffiliated with any particular community, faction, or literary generation, making it a living archive of Indonesian literature that embraces poets of every background and region.


On both the institutional and practical levels, Lumbung Puisi’s presence is reflected in its physical publications, including those issued by Sibuku Yogyakarta, as well as in the participation of dozens of national poets throughout its development. Figures involved include Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Thomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri BSC, Dyah Setyawati, Sofyan RH Zaid, and Ali Arsy. In the physical sphere, Lumbung Puisi maintains Sanggar Lumbung Puisi in Indramayu as a creative space and a venue for in-person gatherings among poets. In the digital realm, Literanesia.com serves as the main hub of its activities and documentation, actively publishing works by poets such as Budiyanah, Rg. Bagus Warsono, and Hasanuddin, including Bagus Warsono’s poem Helm Hijau di Tepi Jalan, while also presenting an extensive bibliography of anthologies and current activities through 2026, including Memories of the 80s Poet Reunion 2025.


Volume I and Volume II, published in 2013 and 2014, marked the pioneering phase of the project. Volume III appeared in 2015 through Sibuku Media, Yogyakarta, gathering works by 74 poets from across Indonesia, with a foreword by Sosiawan Leak. Volume IV was published in 2016 with a wildlife theme, again by Sibuku Media, Yogyakarta. Volume V appeared in 2017 under the title Rasa Sejati. Volume VI was published in 2018 under the theme Indonesia Lucu through Penebar Media Pustaka. In 2019, the anthology Mblekethek was published by Penebar Media Pustaka, Yogyakarta. In 2020, Lumbung Puisi released a thematic anthology addressing the COVID-19 pandemic as a collective response by Indonesian poets to the outbreak. In 2021, two anthologies were published: T, containing works by 124 poets and released by Penebar Media Pustaka, Yogyakarta, catalogued in the official collection of the DKI Jakarta Provincial Library under call number 811.08 PEN t; and Gembok (Volume IX), which appeared in the same year. In 2022, Lumbung Puisi published the anthology 100 Chairil Anwar Masa Kini. Volume XI was published in 2023. In 2024, Lumbung Puisi ran the 2024 Poetry Book Nomination program, evaluating 59 national poetry books to select the five best and 25 editors’ choice titles of the year.


I.1. Contributions to Indonesian Literature


Lumbung Puisi’s greatest service lies in its role as a decentralized hub for modern literary documentation. It bridges the gap between poets in peripheral regions beyond the reach of major urban publishers and the national literary audience. Through its multi-author anthologies, published consistently year after year, Lumbung Puisi documents the vitality of Indonesian poets in a living, continuous record, something no government literary institution does on a regular basis. Out of this process has grown a distinct library known as the “Kepustakaan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia,” which encompasses not only the archive of these multi-author anthologies but also the individual poetry collections of the poets involved. The inclusion of the 2021 anthology T in the official collection of the DKI Jakarta Provincial Library constitutes institutional recognition of the documentary value of the works Lumbung Puisi has gathered within Indonesia’s national literary archive.


Lumbung Puisi’s contribution does not end with publication and archiving. In 2019, the institution expanded its scope through the Literasi Sastra Masuk Sekolah (Literary Literacy Enters Schools) program. Together with 15 national poets, Rg. Bagus Warsono brought literary activities directly into elementary schools, including SDN 02 Brondong, Pasekan District, Indramayu, on August 31, 2019, where they taught students and teachers how poetry is written and read. This initiative reveals that Lumbung Puisi operates not only as a space for documentation but also as a means of bringing literature into primary education.


Since 2023, Lumbung Puisi has also conferred the Anugerah Sastrawan Utama, or Sastratama award, upon poets judged to have made tangible contributions to the development of Indonesian literature. In 2025, Lumbung Puisi continued to expand its activities by organizing the 2025 National Poetry Writing Competition on the theme Makan Bergizi Gratis (Free Nutritious Meals), with the winners announced alongside the 2025 Poetry Reading Competition at Sanggar Lumbung Puisi, Indramayu, on April 19 and 20, 2025. Lumbung Puisi’s role, therefore, goes well beyond gathering, documenting, and publishing works. It actively cultivates recognition, mentorship, and continuity for Indonesian literature from local communities to the national stage.


II. Profile of Rg. Bagus Warsono


Rg. Bagus Warsono, whose full name is Ronggo Bagus Warsono and who is also known as Agus Warsono, S.Pd., M.Si., was born in Tegal, Central Java, on August 29, 1965. He descends from the Ronggo Kastuba lineage; his father, Rg. Yoesoef Soegiono, was a teacher. He was an avid reader from childhood and had reportedly finished S.H. Mintardja’s novel Api di Bukit Menoreh by the age of ten.


II.1. Educational and Professional Background


His formal education took him through SDN Sindang II Indramayu, SMP III Indramayu, and SPGN Indramayu, followed by a D2 diploma at UT UPBBJJ Bandung (completed 1998), a bachelor’s degree at STAI Salahuddin Jakarta, and a master’s degree at STIA Yappan Jakarta (completed 2011). After completing teacher training, he worked as an elementary school teacher, was appointed principal in 2004, and in 2015 took up the position of school supervisor. Beginning in 1992, he worked as a correspondent for Majalah Gentra Pramuka, Mingguan Pelajar, and Rakyat Post. In 1999, he also joined Majalah Hamdalah and became a registered member of the West Java branch of the Indonesian Journalists Association (PWI). He is also known as a painter active at the Sanggar Sastra dan Lukis Meronte Jaring in Indramayu.


II.2. Literary Career


His writing career began during his school years with the publication of poetry in the Cirebon edition of Pikiran Rakyat, and since 1985 he has continued to write poetry, short stories, children’s fiction, and articles for a wide range of media outlets, including Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Guru, Bhinneka Karya Winaya, Binakop, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, and Suara Daerah. In 1999 he founded the Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) in Indramayu, and in 2011 he established the Sanggar Sastra Meronte Jaring as a space for nurturing the next generation in literary arts.


Get Liauw Pauw Phing’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.


Enter your email

Subscribe


Remember me for faster sign in


His most significant contribution to the Indonesian literary landscape has been the conception of the Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia anthology series in 2013, a documentation project of contemporary poets from across Indonesia involving figures such as Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Thomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri BSC, and Ali Arsy. In this project he serves simultaneously as its originator, curator, and editor. Earlier, in 2012, he conceived and edited Saksi Ibu Melihat Reformasi, an anthology of distinct historical and social value. His work also appears in several national multi-author anthologies, among them Puisi Menolak Korupsi PMK II (2013), Tifa Nusantara I (2013), and Ensiklopedia Koruptor Puisi Menolak Korupsi (2014).


II.3. Works


His individual poetry collections include Bunyikan Aksara Hatimu (manuscript 1992; Sibuku Media, Yogyakarta, 2014), Jangan Jadi Sastrawan (Indhi Publishing, Jakarta, 2014), Jakarta Tak Mau Pindah (Indhie Publishing, Jakarta, 2014), Si Bung (Leutikaprio, Yogyakarta, 2014), Surau Kampung Gelatik (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Mas Karebet (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Satu Keranjang Ikan (Sibuku Media, Yogyakarta, 2016), Mencari Ikan sampai Papua (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2017), and Kemeja Putih Lengan Panjang (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2018). In the field of literary essays, he published Bincang-bincang Penyair (Penebar Pustaka, 2018) and Geliat Penyair Indonesia (Penebar Pustaka, 2018). His output also includes children’s fiction: Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (1992), Kopral Dali (Sibuku Media, Yogyakarta, 2014), Meriam Beroda (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Pertempuran Heroik di Ciwatu (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2016), and Kacung Ikut Gerilya (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2018); as well as several illustrated storybooks, including Laskar Wiradesa, Pertempuran Selawe, Si Jagur, Panglima Indrajaya, and Endang Dharma.

Senin, 09 Februari 2026

Kisah Presiden Tidak Punya Program. Kok bisa? , Rg Bagus warsono

 Kisah Presiden Tidak Punya Program. Kok bisa? 

Suatu ketika presiden tak sengaja lewat di perkampungan dilihatnya ada rumah beratap genteng ada juga yang beratap seng. Yang beratap seng tampak kumuh karena karatan. "Kenapa rumah itu beratap seng?" , tanya Presiden pada ajudannya. "Mereka tidak mampu beli genteng, Pak", jawab ajudannya. Kening Presiden berkerut memikirkan sesuatu, kemudian tertawa,  harus pakai genteng katanya. Sopir mobil yang sejak tadi hanya mendengarkan kemudian nyeletuk, "gentengisasi". Presiden yang duduk di sebelahnya menyahut sambil berkata ya tepat "Gentengisasi."  Kemudian presiden menatap si sopir kemudian menepuk pundak sopir sambil berkata  "Pinter kamu Mad, kamu naik pangkat! Catat ajudan!

Hari Korve, Gegara Liat Ibu-ibu Bawa Sapu, Rg Bagus Warsono

 Hari Korve, Gegara Liat Ibu-ibu Bawa Sapu. 

Ya begitulah tanpa program. Tapi Indonesia dengan 275 jt jiwa ini memang kaya cerita.

Suatu ketika presiden kita datang di sebuah desa. Karena kesalahan informasi sehingga tanggal kedatangan presiden di desa itu sehari lebih cepat. Seperti desa-desa lainnya ketika akan kedatangan bupati, gubernur atau presiden desa itu kelihatan bersih. Maka warga desa bergotongroyong untuk membersihkan jalan yang akan dilalui presiden di pintu masuk desa.

Mobil presiden yang masuk desa dihalangi oleh masyarakat  yang tengah bawa sapu dan alat kebersihan. Dengan ramahnya presiden turun dari mobilnya menyapa masyarakat tengah bersih bersih.

"Kegiatan apa ini?"  kata Presiden pada ibu ibu yang bawa sapu sambil berebut bersalaman. 

Seorang diantara ibu menjawab "Korve Pak, kerja bakti!" 

"Wah hebat!", guman presiden, " apa tiap hari?" lanjutnya. 

" Tidak Pak" , kata salah seorang lainnya. Karena hari itu hari selasa maka salah seorang bapak menjawab untuk memperbaikinnya. " Tiap hari Selasa dan Jumat , Pak Presiden!" 

Persiden pun mengangguk angguk. Ia kagum pada masyarakat desa itu punya hari  korve tiap Selasa dan Jumat. 

Hingga selesai kunjungan di desa itu, presiden masih mengingat kejadian ibu-ibu membawa sapu "korve" desisnya. Ya korve seperti kebiasaan militer waktu masih sekolah di Magelang dulu. 

"Catat ajudan! Korve setiap hari Selasa dan Rabu!" , perintah presiden pada ajudannya dalam mobil menuju pulang. 

"Dua hari Pak?" jawab ajudannya yang juga dari militer yang paham tentang korve . 

"Ya", kata presiden , "Selasa Rabu!" 

Ajudannya tersenyum... mengingat waktu pendidikan. Korve kerja tambahan gak diberi apa2 , berkata dalam hatinya. Sementara presiden gembira karena mendapat ide dari ibu-ibu bawa sapu.

Sepulang dari kunjungan ke desa, presiden mengumumkan Hari Korve. 

(Rg Bagus Warsono)

Sabtu, 24 Januari 2026

 "Ada Wajah Gus Dur di Imlek" adalah sebuah puisi karya sastrawan Rg Bagus Warsono yang menggambarkan sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai simbol pluralisme dan toleransi, terutama dalam perayaan Imlek. Puisi ini menekankan nilai persaudaraan dan kebersamaan lintas budaya yang diperjuangkan Gus Dur, menggabungkan elemen budaya Tionghoa dengan semangat inklusivitas, yang dipublikasikan pada Januari 2022. 

Inti Puisi: Rg Bagus Warsono mengaitkan sosok Gus Dur dengan semangat perayaan Tahun Baru Imlek, menonjolkan peran Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang merangkul keberagaman, seperti dilansir oleh Kompasiana.com.

Simbolisme: Puisi ini menarasikan bagaimana wajah dan pemikiran Gus Dur hadir dalam suasana Imlek, melambangkan kebebasan dan pengakuan terhadap budaya Tionghoa di Indonesia.

Penulis: Rg Bagus Warsono adalah seorang sastrawan Indonesia asal Tegal yang aktif menulis puisi, seperti yang dicatat dalam Literanesia. 

Puisi ini bukan narasi fisik, melainkan penghormatan sastra terhadap warisan pemikiran Gus Dur tentang kesetaraan, tulis Literanesia. 

Berikut Puisinya : 




Rg Bagus Warsono



Ada wajah Gus Dur di Imlek

Gus-Dur


Ada wajahmu di setiap hari Imlek,

Di ucapan selamat dan salam mereka

Kau yang membuat senyum

pengikutmu dan gembira umat Konghucu

Membuka hati

Membuka kunci berkarat

Yang tlah lama menindih toleransi

Tak peduli siapa menghalang.

Kunci dibuka

Ada wajahmu di imlek

Dikala tuan kuasa.

Bagi yang lama menunggu, terbuka

Kau lepas belenggu merdeka.

Kini wajahmu di Imlek Indonesia.

Memberi hormat Gus Dur yang sanggup membongkar kebisuan Tionghoa

lama gembok yang 32 tahun berkarat.

Bahwa kita sama berjuang merdeka.

Kini wajahmu di Imlek

Sepaduk dan cinderamata untuk pahlawan hati merdeka.

Kau bijaksana

Melawan arus menyamakan siapa.

Sebab memahami arti merdeka Pancasila.

Seperti kau berdiri melindungi

anak-anak dan pengantin Konghucu.

Dan lampion merah bergoyang di talang-talang rumah

Lalu Barongsai menari

Menyalami hormat Gus Durmu dan Gus Durku.


Rg Bagus Warsono, (18-01-22)

Rabu, 21 Januari 2026

Perbedaan Rg Bagus Warsono dan HB Jassin

 



Perbedaan utama antara Rg Bagus Warsono dan H.B. Jassin terletak pada peran historis, pengaruh otoritas dalam sastra Indonesia, serta metodologi dokumentasi mereka.

Berikut adalah rincian perbedaannya:


Kedudukan dan Julukan

H.B. Jassin (1917–2000): Dikenal sebagai "Paus Sastra Indonesia". Ia adalah tokoh legendaris yang memiliki otoritas mutlak dalam menentukan kualitas karya sastra pada masanya (terutama era 1950–1960-an).

Rg Bagus Warsono: Seorang sastrawan, kolektor buku puisi, dan kritikus sastra kontemporer. Ia sering disebut sebagai sosok yang berupaya meneruskan semangat kurasi dan dokumentasi sastra di era modern, meskipun tidak memiliki gelar "Paus Sastra" seperti Jassin.

Kontribusi Dokumentasi

H.B. Jassin: Pionir pusat dokumentasi sastra Indonesia. Ia mengumpulkan karya yang berserakan di koran dan majalah, kemudian menjadikannya kliping yang tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin.

Rg Bagus Warsono: Aktif dalam gerakan sastra digital dan komunitas media sosial (seperti grup Facebook Lumbung Puisi). Ia dikenal melalui inisiatif antologi bersama, seperti seri Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, dan menulis esai yang mengulas penyair-penyair masa kini.

Fokus Kritik Sastra

H.B. Jassin: Kritiknya cenderung bersifat normatif dan historis, menentukan standar estetika bagi angkatan-angkatan penting seperti Angkatan '45.

Rg Bagus Warsono: Lebih banyak mengulas dinamika sastra kontemporer dan sering kali mempromosikan genre-genre eksperimental seperti "Puisi Sakkarepmu" (bebas sekehendak hati) dan puisi "Irit Kata".

Secara singkat, jika H.B. Jassin adalah peletak dasar dan penjaga gawang sastra Indonesia di abad ke-20, Rg Bagus Warsono adalah salah satu penggerak aktif yang menjaga denyut dokumentasi dan apresiasi sastra Indonesia di abad ke-21 melalui platform komunitas dan penerbitan mandiri.

lumbung puisi sastrawan indonesia xi 2023 - Facebook

13 Mei 2025 — Bersama Sosiawan Leak dan Rg Bagus Warsono dicatat sebagai pembaharu puisi Indonesia dengan tema-tema puisi Sakkarepmu

Sheet - Mary Martin Booksellers

Rg Bagus Warsono, Hyang Pustaka, Indonesia, Indonesia, Literature, 9786238066117, xii, 256p. ; 20cm. 11.00, 2023, Buku ini berisik...

Mary Martin Booksellers

H.B. Jassin - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Paus Sastra Indonesia Faktanya, di setiap ulasan Jassin, ia sering menyebut-nyebut karya dan penulis yang pantas untuk diperhitung...

Wikipedia

Rabu, 14 Januari 2026

Tentang Sastrawan Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono bukanlah pengganti resmi H.B. Jassin, karena peran "Paus Sastra Indonesia" yang diemban H.B. Jassin bersifat unik dan tidak memiliki suksesor formal. H.B. Jassin dikenal sebagai kritikus sastra terkemuka dengan otoritas tinggi yang mendokumentasikan dan mempublikasikan karya-karya sastra penting, seperti karya Chairil Anwar. 

Rg Bagus Warsono (juga dikenal sebagai Agus Warsono) adalah seorang sastrawan dan pelukis Indonesia yang aktif menulis puisi, cerpen, dan artikel di berbagai media sejak tahun 1985. Ia juga dikenal sebagai kurator sastra di Dokumentasi Sastra Modern Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Keduanya memiliki peran penting dalam dunia sastra Indonesia, namun dalam kapasitas yang berbeda: 

H.B. Jassin: Berperan sebagai kritikus, editor, dan pendokumentasi sastra yang otoritasnya diakui luas, memberikan arah dan pengakuan terhadap karya sastra Indonesia modern.

Rg Bagus Warsono: Sastrawan kontemporer yang aktif berkarya dan mengkurasi sastra, meneruskan semangat kegiatan bersastra di Indonesia pada generasinya. 

Tidak ada satu orang pun yang secara resmi menggantikan posisi H.B. Jassin, karena kontribusi dan pengaruhnya dalam kritik sastra sangat khas dan legendaris. 

Senin, 04 Agustus 2025

Pengantar : Antologi Kebali Kepada Kekhususan




 Pengantar 


Antologi Kebali Kepada Kekhususan


Demikian sejarah berulang, antologi-antologi bersama kembali seperti dulu lagi kepada kekhususan. Kekhususan itu untuk memberi ciri antologi baik tema, penyair maupun tempat tinggal penyair. Perubahan seperti ini disebabkan semakin bergairahnya pecinta sastra negeri ini. Dulu antologi bersama Basis adalah antologi puisio yang khusus diisi oleh penyair di Majalah Basis Yogyakarta juga antologi bersama Tugu yang hanya memberikan ruang bagi penyair Yogyakarta. 

Di tahun 2000-an antologi bersama puisi-puisinya direkrut dari penyair seluruh Nusantara. Sebut saja misalnya Puisi Menolak Korupsi (PMK) setiap jilidnya diikuti ratusan penyair dari seluruh tanah Air. Bahkan Negeri Poci yang pada awalnya memberikan kekhususan tema, penyair dan domisili kini terbuka lebar bagi penyair se Nusantara. Begitu pula Lumbung Puisi meski mempertahankan kekhususan tema tetapi juga merekrut puisi penyair dari seluruh nusantara. Hal demikian wajar karena era 2000-an antologi puisi membiayai sendiri penerbitannya. Beda dengan di tahun 70-80 an antologi bersama disukseskan oleh penerbit. 

Kekhususan antologi bersama kembali mulai digarap berbagai komunitas mengingat jumlah peserta yang banyak tidak menjamin mutu antologi bersama meskipun pada setiap event terdapat editor yang mumpuni. Kenapa? Mari kita lihat berbagai penilaian yang timbul pada antologi bersama terkini.

Semakin banyaknya pecinta sastra, semakin berkembang pertumbuhan penulis, semakin berkembang pula pertumbuhan penyair.Demikian dapat dilihat dari perkembangan penerbitan antologi tunggal. Pada tahun 2024 Lumbung Puisi menyelenggarakan lomba Buku Antologi terbitan 2000 -2025 ternyata mendapat respon yang cukup besar diikuti hampir 300 antologi puisi dan enapuluh prosen dari jumlah itu terbitan lima tahun terakhir. Artinya lonjakan penyair sungguh luar biasa.












Penyair di Sekumpul Puisi Nelayan Pantura

 



Sekumpul Puisi

Nelayan Pantura

 

EKO TUNAS , TOTO ST  RADIK,  NANANG RIBUT  SUPRIATIN ,  BAMBANG WIDIATMOKO, GIYANTO SUBAGIO,  WAWAN HAMZAH ARFAN,  RG BAGUS WARSONO,  ASRO AL MURTAHAWY, EMEL PRAHANA,  PUSPASARI, SRI SUNARTI, MARLIN DINAMIKANTO, A RAHIM ELTARA, STIRAPRANA DUARSA, SINDU PUTRA, ERNDRA ACHAER

Temu Kecil Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia

30 Agustus 2025