Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)

 Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)


Entah mengapa setelah Bung Karno turun dan berganti presiden negara kita (kehidupan bernegara)  menjadi awut-awutan tidak menghargai aturan, hukum maupun adat. Salah apa Indonesia ini hingga para pemimpinnya banyak yang tidak ideal bahkan gonta-ganti presiden kita mendapatkan pimpinan yang tidak membuat kita hormat. Kita semakin tak karuan dan tidak memelihara budi luhur bangsa. Salah apa bangsa ini, salah apa negeri ini? 


Dicontohkan oleh Bung Karno untuk menjadi besar itu bukan menyombongkan diri menepuk dada aku presiden, aku kaya, aku hebat atau aku berkuasa, tetapi bagaimana seorang yang memiliki jabatan tinggi, seorang yang memiliki ilmu tinggi (ilmuwan) , seorang kaya yang mempunyai banyak perusahaan, seorang olahragawan yang punya prestasi atau tentara bersenjata dengan bintang di pundak mau menghargai orang tua dan mau menghargai jasa-jasa pendahulunya. 


Demikian Bung Karno sebagai founder of the nation (pendiri bangsa) mengingatkan untuk slalu memberi hormat kepada orang tua pejuang pendahulu negeri sebab tanpa perjuangan mereka tak mungkin dirinya bisa mencapai ini semua.


Hanya Bung Karno yang suka rakyatnya pinter dan cerdas, setelahnya Bung Karno presiden memilih lebih suka rakyatnya bodoh. 


Setelah membaca teks Proklamasi bersama Bung Hatta, keesokan harinya PPKI melantik Bung Karno menjadi Presiden. Di usia sangat muda 44 tahun . Setelah menjadi presiden Bung Karno tidak menunjukan darah mudanya tetapi lebih menunjukan kedewasan. Sebagai seorang kutu buku Bung Karno tidak melepas membaca buku walau jadi presiden. 


Biografi orang orang terkenal dibacanya sehingga ia sadar ia telah menjadi Bapak Bangsa , orang yang dituakan di negri ini. Karena itu sifat sebagai orang tua melekat. Terutama pada generasi muda penerus bangsa.

Ia sangat perhatian kepada generasi muda yang cerdas. Banyak putra Indonesia dari berbagai daerah  cerdas dikirim untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa.

Terhadap pendidikan Bung Karni sangat perhatian selalu. Termasuk mendirikan beberapa universitas di kota besar. Baginya generasi muda harus cerdas. Dan penulis amati hanya Bung Karno-lah yang senang rakyatnya cerdas. Sedang presiden presiden selanjutnya seperti dengan tidak menyukai rakyatnya pinter dan cerdas. Mereka presiden-presiden setelah Bung Karno termasuk Megawati, semua menunjukan lebih suka rakyatnya untuk tetap bodoh.

 (rg bagus warsono)


Komentar