Sabtu, 15 Agustus 2026

Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia

 Sastra dan Kemerdekaan


Sebagaimana dalam sejarah sastra kita, sastrawan-sastrawan Indonesia turut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka ada yang terlibat dalam perjuangan fisik melawan penjajahan dan tulisannya yang sangat besar dalam membangun banyak yang melalui tulisan- mental perjuangan kemerdekaan

Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. atau yang lebih dikenal dengan Mohammad Yamin merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Mohammad Yamin merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus dan juga ahli hukum. Mohammad Yamin lahir pada 24 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Mohammad Yamin merupakan salah satu perintis Indonesia dan juga pelopor Sumpah Pemuda.

Pada 1920-an Mohammad Yamin memulai kariernya di bidang kesusastraan dengan menjadi penulis. Karya pertama yang ditulis yamin mengunaan bahasa melayu yang ia tulis dalam jurnal Jong Sumatera dan karya awalnya yang lainnya masih terikat dalam bentuk bahas melayu klasik.

Pada tahun 1922, Yamin muncul sebagai penyair dengan karya puisinya yang berjudul Tanah Air. Tanah air merupakan himpunan puisi modern pertama yang pernah diterbitkan. Pada 28 Oktober 1928, himpunan kedua milik yamin yang berjudul Tumpah Darahku muncul. Pada tahun yang sama karyanya dalam bentuk drama dengan judul Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa juga muncul.

Dalam bidang kesusastraan, Yamin telah menerbitkan banyak karya dalam bentuk drama, esei, novel sejarah, dan puisi. Yamin juga menerjemahkan karya-karya William Shakespeare (drama Julius Caesar) dan Rabindranath Tagore.

Berikut karya Muhammad Yamin yang sangat terkenal : Ken Arok dan Ken Dedes: 

Ken Arok dan Ken Dedes (1951) Karya Sastra Ken Arok dan Ken Dedes merupakan nama raja dan permaisuri di Kerajaan Singosari yang diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1951, dengan tiras sebanyak tiga ribu eksemplar dan jumlah halaman sebanyak 68 lembar lengkap dengan halaman kata pengantar. Diangkat menjadi judul drama Muhammad Yamin dan pertama kali dipentaskan pada puncak acara Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda), 28 Oktober 1928. Enam tahun kemudian, drama tersebut dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe (1934) pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana. Drama ini mengangkat masalah perjuangan dan kehidupan Kerajaan Singosari yang pernah jaya pada masa lalu. Temanya adalah rasa keadilan harus ditegakkan. Dalam drama itu, antara lain, diperlihatkan keadaan suatu sidang kerajaan menanggapi situasi negeri. Pada suatu hari di Bangsal Witana, Kerajaan Singasari, sedang digelar rapat pengangkatan seorang putra mahkota. Rajasa-nama lain Ken Arok setelah menjadi Raja Singasari-bersikukuh hendak memilih Mahisa Wong Ateleng untuk menjadi putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukannya di singgasana Kerajaan Singasari. Namun, para pembesar istana yang lain seperti Mahamenteri Rakian Hino, Mahamenteri Sirikan, dan Mahamenteri Hulu lebih cenderung memilih Anusapati Panji Anengah. Alasan para pembesar kerajaan itu hanya Anusapatilah yang pantas menjadi putra mahkota karena anak sulung. Ken Arok tetap memilih Mahisa Wong Ateleng, adik Anusapati, sebagai putra mahkota tanpa memerinci lebih lanjut alasan yang menjadi dasar pemilihannya itu. Anusapati kecewa atas keputusan ayahandanya itu. Suatu hari ketika Anusapati sedang merenungkan hal itu, datanglah ibunya, Ken Dedes. Ken Dedes memberi tahu kepada Anusapati tentang siapa sebenarnya dirinya itu dan siapa pula ayahnya itu. Atas pemberitahuan ibunya itu, Anusapati baru mengetahui bahwa Ken Arok bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya adalah Tunggul Ametung yang telah dibunuh oleh Ken Arok dengan sebilah keris Empu Gandring. Akhirnya, Anusapati menuntut balas atas kematian ayahnya. Di Bangsal Witana kembali digelar rapat penobatan putra mahkota yang akan segera menggantikan Ken Arok. Dalam rapat itu terjadi perdebatan yang sengit dan tajam. Brahmana Lohgawe, penasihat kerajaan, ikut serta dalam rapat penobatan putra mahkota tersebut. Atas desakan Brahmana, akhirnya Ken Arok menyadari bahwa apa yang pernah dilakukannya pada masa lampau merupakan kesalahan. Sebagai seorang ksatria, ia harus berani mengakui semua kesalahan yang pernah diperbuatnya. Oleh karena itu, Ken Arok pun berani mati di ujung keris Empu Gandring setelah Singasari berhasil dipersatukan. Ken Arok menerima hukuman mati sesuai dengan kesalahan yang pernah diperbuatnya. Namun, sebelum menjalani hukuman mati itu, Ken Arok lebih dahulu telah memikirkan kelangsungan hidup negerinya. Hal itu terbukti dengan adanya pengangkatan putra mahkota, Anusapati, menjadi Raja Singasari yang menggantikan dirinya. Sepeninggal Ken Arok, Ken Dedes pun ikut bunuh diri sebagai tanda kesetiaan istri kepada suaminya. Peneliti dan kritikus sastra menggolongkan drama ini sebagai karya Angkatan Pra-Pujangga Baru. Buku Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920-1960 (Santosa, 1993) dalam pokok bahasan "Hubungan Manusia dan Masyarakat" menyatakan bahwa drama ini merupakan perwujudan citra manusia yang berusaha menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. (Sumber Enklopedia Sastra Indonesia Badan Bahasa)








Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia

  Daftar Isi



     I. Sastra dan Kemerdekaan


01. Wandi Julhandi, Panjat Pinang Kita Bukan

Lomba

002.Silivester Kiik , Kidung-kidung Dunyi Kaum

         Tertindas 

003. Kang Zay , Lorong Waktu 

004. Biolen Fernando Sinaga, Hari Kemerdekaan

          Akan Tiba Lagi. 

005. Mas Ruscitadewi , Panjat Pinang. 

006. Masruswian , Delapan Puluh Satu Tahun

         Memanjat. 

007. Anas Bachtiar Arif, Nomor Giliran 

008. Tarigan Ose Damianus, Panjat Pinang Tiang

          Agustus.

009. AS. Darsa, Negeri yang Memeluk Bara.

010. Ence Sumirat, Tanah yang Masih Bersajak.

011. Winar Ramelan.Agustus Memoar untuk

         Kontemplasi. 

012. Dien Djusni, Wasiat Petani. 

013. Rahim Eltara, Ketika Jeritan Tak Lagi Didengar. 

014. Gunawan Ashafi, Merdeka-kah? 

015. Sunawi, Suluk Kemerdekaan .

016. Asti Musman, Meminang Harapan.

017. Rumah Tani, Panjat Pinang di Atas Tanah

         Leluhur.

018. Fajri Hamzah, Panjat Pinang

019. Ahmaf Maliki, Ke Puncak Merah Putih 

020. Heru Patria.  Batang'-batang Pinang Usang

021. Reis Ersyad M, Bersorak di Panjat Pibang

022. Diana Tustam, Angin Bertanya Kau Menjawab

023. Bambang Widiatmoko, Negeri Luka

024. Malik, Bingkisan Agustus

025. Ule Ceny, Potret di (RI) Dalam Panjat Pinang

026. Megi Maradhonata, Seorang Bicah Tak Berbaju

027. S. Ratman Suras, Adil Makmur Kumur-kumur. 

028.mihibbsh Rohmah, Penjajah Berkedok Pahlawan 

029. Sari Baniwati, Meraih Janji

030. Sartikah, Batang Pinang yg Terpuruk 

031. Sutarso, Protes Sungsang dari Atas Pohon

         Pinang

032. Agus Yuwantoro, Saham dan Sumber Alam 

033. Maulana, Nama Kami Rakyat

034. Sugeng joko utomo, Merdeka? Kata Siapa.

035.Suriar Amazi, Merdeka Bukan Sekedar Sorak

036. Zabidi Yakub, Panjat Tangga Kekuasaan

037. Apito Lahire, CERITA KEHILANGAN

038. Rosmita, Mas, Negeri Ini Sebenarnya Punya

         Siapa?

039. Mbah Sur, SECANGKIR KOPI

040. Muhammad Amir Fajar Shidiq, Gurat Gugat

          Rakyat: Siapa Yang Merdeka?

041. Naim Emel Prahana, GEMURUH TEPUK 

         TANGAN

042. AULIA ROBANI, EPITAF DEMOKRASI

043. Iin Rofiqoh Artami, MERDEKA ITU ADA

          DIMANA?

044. Hadijah Karim, DIA YANG TERLUPAKAN

045. Sulistyo ,Kepada Tuan Besar 

046. Dwi Indriani M, MERDEKA ITU LOMBA, YA

047. Christya Dewi Eka, PAK BAYAN GUGAT

048. Romö Jatí, MIMPI PARA JELATA

049. ERYANTHO KAMIS, AMPLOP TEBAL TERIKAT DI PUNCAKNYA

050. Mimi Marvill, UPACARA SENYUM DI TIANG PINANG

051. Budiyanah, PANJAT PINANG

052. Imron Bintang, AKULAH YANG TERBAWAH

053. Handh Yanies, RAKYAT MENGGUGAT

054. Imansyah Firman, Merdeka Tak Merdeka

055.Dyah Nkusuma, SESAAT RASA

056.Mustofa Khilmi PANJATAN PINANGAN

057.Akhmad Sekhu, Mencari Indonesiaku

058.Siti Suci Winarni, HAJAT KEMENANGAN DI PELOSOK NEGERI

059.Che Aldo Kelana, MERAIH BENDERA

060.Warsono Abi Azzam, PANJAT PINANG RAKYAT

061.Satria Rizal, MANTAN AKTIVIS ITU HIDUPNYA KINI TERLUNTA-LUNTA

062.Sri Wahyu Wardani, Jelaga hitam






Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia

 Panjat Pinang

Penyair : 

001. Wandi Julhandi (Makasar)

002.Silivester Kiik (Atambua)

003. Kang Zay (Pekalongan) 

004. Biolen Fernando Sinaga (Dairi)

005. Mas Ruscitadewi (Denpasar)

006. Masruswian (Barabai, KalSel)

007. Anas Bachtiar Arif (Surabaya)

008. Tarigan Ose Damianus (Lembata  NTT)

009. AS. Darsa (Sukabumi)

010. Ence Sumirat (Cianjur)

011. Winar Ramelan (Denpasar)

012. Dien Djusni (Tarakan)

013. Rahim Eltara (Sumbawa)

014. Gunawan Ashafi, Merdeka-kah? (Banjarmasin)

015. Sunawi (Bantul)

016. Asti Musman (Madiun) 

017. Ujang Saepudin/Rumah Tani (Cianjur)

018. Fajri Hamzah, (Cianjur)

019. Ahmaf Maliki (Indragir Hilir)

020. Heru Patria (Blitar)  

021. Reis Ersyad M (Bekasi) 

022. Diana Tustam (Makasar)

023. Bambang  Widiatmoko (Jogyakarta)

024. Malik (Aceh)

025. Ule Ceny (Sumbawa)

026. Megi Maradhonata, 

027. S. Ratman Suras (Medan)

028. Muhibbah Rohmah, (Indramayu)

029. Sari Banowati (Karawang)

030. Sartikah, (Garut)

031.  Sutarso (Sorong)

032. Agus Yuwantoro (Wonosobo)

033. Maulana (Banjarmasin)

034. Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya)

035. Suriar Amazi (Barito Kuala)

036. Zabidi Yakub (Lampung)

037.  Apito Lahire (Tegal)

038. Rosmita (Jambi)

039. Mbah Sur (Kulon Progo)

040. Muhammad Amir Fajar Shidiq (Purwodadi)

041. Naim Emel Prahana (Bandar Lampung)

042. Aulia Robani (Cianjur)

043. Iin Rofiqoh Artami (Kebumen)

044. Hadijah Karim (Sumbawa Besar)

045. Sulistyo , (Jakarta)

046. Dwi Indriani M (Banyuwangi)

047. Christya Dewi Eka (semarang) 

048. Romö Jatí (Tanjungpiang)

049. ERYANTHO KAMIS, 

050. Mimi Marvill, (Temangung)

051. Budiyanah, (Temangung)

052. Imron Bintang (Kendal)

053. Handh Yanies (Malang)

054. Imansyah Firman (Bandung)

055.Dyah Nkusuma, (Sampit)

056.Mustofa Khilmi  (Lumajang)

057.Akhmad Sekhu (Jakarta)

058.Siti Suci Winarni (Bandung)

059.Che Aldo Kelana (Atambua)

060.Warsono Abi Azzam (Cilacap)

061.Satria Rizal (Bengkulu)

062.Sri Wahyu Wardani (

 



Minggu, 07 Juni 2026

PESERTA PAMERAN NASIONAL ANTOLOGI 2026 LUMBUNG PUISI 27-28 Juni 2026

PESERTA  PAMERAN NASIONAL ANTOLOGI 2026 LUMBUNG PUISI 27-28 Juni 2026



1. Cinta Dilarokan Ninja karya Budi Riyoko (Banyuasin) 

2. Sangkolan karya Sugik Muhammad Sahar 

3. Hujan Tak Datang di Pesta Api karya Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya) 

4. Di Bawah Bayang-bayang Tuhan karya Sthiraprana Duarsa (Denpasar)

5. Oasestra karya Mochammad Syu'aib 

6. Taman Manusia karya Eko Tunas (Semarang)

7. Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham karya Annisa Resmana

8. Bunga-bunga Semak karya Barokah (Purworejo)

9. Prasasti Lereng Sindoro karya Barokah (Purworejo)

10. Suara-suara Sehimpun Sajak tahun 1982-1985 karya Nanang Ribut Supriyatin (Jakarta) 

11. 65 Sajak karya Nanang Ribut Supriatin (Jakarta) 

12. Ratnakanika Serbuk Permata karya Siti Suci Winarni (Subang) 

13. Akulah Darah yang Mengalir di Nadimu karya Endut Ahadiat (Padang) 

14. Sirip Angin karya Enthieh Mudakir (Tegal) 

15. Rahasia Tanda karya Enthieh Mudakir (Tegal)

16. Pelangi Imajinasi karya Bunergis Muryono (Klungkung Bali) 

17. Hujan Senjakala Senandung Lirih Sisi sisi karya Imansyah Firman (Bandung)

18. Kemilsu Cinta di Langit Jingga karya Budianah (Temanggung) 

19. Sastra Politik karya Eko Tunas (Semarang) 

20. Raung karya K. Kasdi W.A (Kasdi Kelanis), (Sragen) 

21.Mengambah Lembah Lelah karya K.Kasdi W.A (Kasdi Kelanis), (Sragen) 

22. Puisi Medium Komunikasi dalam Pembelajaran karya Wardjito Soeharso (Semarang)

23. Perjalanan Berkarat karya Wawan Hamzah Arfan (Cirebon) 

24. Berangkatlah Kata-kata karya Asmariah Supriyadi (Jogyakarta) 

25. Perempuan Penabuh Subuh karya Asmariah Supriadi  (Jogyakarta)

26. Jejak Perempuan Puisi karya Ami Budi Arsih (Cirebon)

27. Yang Tercecer dan yang Terbaca karya Ani Budi Arsih (Cirebon)

28. Secarik Kertas Antara Rita dan H.B Jassin karya Ritawati Jassin (Jakarta)

29. Surga untuk Ringin Contong karya Yustinus Harris (Jombang)

30. Panduan Minum Kopi karya Yustinus Harris (Jombang) 

31. Menungguku Tiba karya Isbedy Stiawan ZS (Lampung )

32. Kenduri Sumatera karya Isbedy Stiawan ZS ( Lampung)

33. Pedang Keheningan karya Ari Basuki (Jogyakarta) 

34. Buku Hujan Iriani karya Iriani R Tandi, 

(Jambi) 

35. Titik Beku karya Umi Ami Kemuning (Cirebon)

36. Titik Cahaya karys Umi Ami Kemuning (Cirebon) 

37. Kesibukan Membuat Sejarah 100 Sajak (1987-2025) karya Udo Z Karji (Bandar Lampung) 

38. Gemuruh Suara Hati dalam Kesunyian Kelam karya Slamet Suryadi ( Indramayu) 

39. Perjalanan "Perjalanan" karya Mas Ruscitadewi (Denpasar) 

40. Suara Pagi karya Sri Sunarti,  (Indramayu) 

41. Tarian Bunga Rumput Senandung Doa dan Harapan karya Imansyah Firman (Bandung) 

42. Rempah Rindu Soto Ibu karya Setio Bardono (Depok) 

43. Saat Doa Menjadi Air Mata karya Rosmita (Jambi) 

44. Memo Kemanusiaan, Akhmad Sekhu, (Jakarta) 

45. Tanah, karya Mita Katoyo ( Bekasi) 

46. Pesan Tersembunyi karya Asti Musman (Madiun)

47. Debi Putik Belajar Biologi Melalui Puisi Akrostik karya Handayani Mutmainah , (Cilacap) 

48. Dua Menyatu Jiwa karya Warsono , (Cilacap) 

49. Belajar Jadi Manusia karya Budi Waluyo, (Tegal) 

50. Lunar karya Sartikah, (Garut) 

51. Menggores Kata Memaknai Realita karya Ade Sunarna, ( Garut) 

52. Diam-diam Aku Jatuh Cinta karya Sartikah (Garut) 

53. Mereka di Mataku karya Siswa SDN 3 Lingkungpasir Cibiuk Garut, ( Garut) 

54. Koor Zaman karya Enthieh Mudakir,  (Tegal) 

55. Situs Kata karya Enthieh Mudakir,  (Tegal) 

56. Teraplah Tidur Mendekur karya Bambang Widiatmoko, (Jogyakarta) 

57. Jalinan Kisah di Rentang Waktu karya Sriyanti S. Sastroprayitno , ( Semarang) 

58. Ungkapan Pena Seribu Bait Cerita karya Slamet Suryadi ( Indramayu) 

59. Buku Puisi Rumah c 19 karya Sindu Putra (Nusa Tenggara Barat) 

60. Lullaby Hotel Di Mana Pintu Diketuk karya Irawan Sandhya Wiraatmaja,  (Tangerang) 

61. Suluk Waktu karya Irawan D

Sandhya Wiraatmaja  (Tangerang) 

62. Bukan Fatamorgana karya Wardjito Soeharso , (Semarang) 

63. Yo Mung karya Samsudin Adlawi, (Banyuwangi) 

64. Kanata karya Rini Intama (Tangerang)

65. Cio Tao karya Rini Intama (Tangerang) 

66. Mata Biru Safir karya Juniarso Ridwan (Bandung) 

67. Lekaki Setengah Malam karya Erwantho Kamis ( Bekasi) 

68. Maklumat Cinta karya Marwanto (Jogyakarta).

69. Pembelah Bumi karya Bunergis Muryono ( Klungkung) 

70. Bayang Firdaus karya Halimah Munawir (Jakarta) 

71. Titik Nadir karya Halimah Munawir 

(Jakarta) 

72. Seni Sastra Jawa Geguritan karya Sarwo Darmono (Lumajang) 

73. Seni Sastra Jawa Macapat karya Perkumpulan Sabdaaji (Lumajang) 

74. Ibu Doa dan Cinta karya A Rahim Eltara (Sumbawa) 

75. 66 Sajak Menguak Jejak karya A Rahim ARahim Eltara  ( Sumbawa) 

76. Laila karya Iwan Setiawan (Lubuk Begalung Padang) 

77. Sang Pencari Cinta karya Iwan Setiawan ( Lubuk Begalung Padang) 

78. Wakilku Koplak karya Dingu Rilesta  (Gunung Kidul) +

79. Bunga, Kupu-kupu, Mimpi dan Kerinduan karya Wirja Taufan (Medan) 

80. Keagungan Kota Suci karya Halimah Munawir Anwar  (Jakarta)

81. Kamus Cinta karya Kartika Ika  (Bantul) 

82. Semesta Berkata karya Dalle Doel  Dalminto (Bantul) 

83. Rumah yang Kubangun karya Edy Samudra Kertagama  (Lampung) 

84. Perjuangan Cinta dan Harapan karya Sari Banowati/Penyair Senja (Karawang) 

85. Bisik (manuskrip) karya Sari Banowati  /Penyair Senja (Karawang) 

86. Berburu Sajak di Pasar Loak karya Sulistyo  (Jakarta) 

87. Kepada Perempuan Kerras karya Aufa Al Hana ( Batang) 

88. Karamah Billah Karamah Istikamah karya Surasono Rashar (Lumajang) 

89. Taman Cahaya Nabi karya Surasono Rashar  (Lumajang) 

90. Kirab karya Bambang Widiatmoko  (Jogyakarta) 

91. Pisau Ilusi karya Ari Basuki     

 (Jogyakarta) 

92.Kupu-kupu Bersayap Biru karya Husnul Khuluqi (Banyumas) 

93. Semi di Musim Semu karya Yusuf Susilo Hartono (Jakarta) 

94. Merdeka atau Mimpi karya Sri Wahyu Wardani ( Senarang) 

95.Larung Murung karya Rissa Churria  ( Bekasi) 

96. Setabah Waktu Sepatah Cemburu karya Hana Sania   ( Bekasi) 

97. Ibu Tali Pusat Kami karya Udi Utama  Depok) 

98. ...Yang Diam Tiga Kumpulan Sajak karya Bambang Kempling (Lamongan) 

99. Menjaring Waktu, Yoffie Cahya (Majalengka) 

100. Orasi Anak Negeri karya Heru Patria (Blitar) 

101. Rindu fi Ruang Tungku, karya Nurhayati , (Bekasi) 




Sabtu, 30 Mei 2026

98. Kupu-kupu Singgah di Cermin dari ...Yang Diam Tiga Kumpulan Sajak karya Bambang Kempling (Lamongan)

 98. ...Yang Diam Tiga Kumpulan Sajak karya Bambang Kempling (Lamongan) 

Bambang Kempling 

Kupu-kupu Singgah di Cermin


Laut sunyi bergaris langit 

Pupus dalam diam 

Jarum waktu yang percuma 

Bercumbu bersama wajah 

Yang tertingal dalam cermin 

   Adalah keheningan yang terkubur 


Pernah suatu saat ia bercerita kepadamu 

Wajah itu 

   Tetes-tetes kesedihan 

   Melata dari ibir ke bibir 


…sendiri. 


1 Agustus 2005




98. Bambang Kempling adalah sastrawan Indonesia,  lahir Lamongan 1967, di tinggal di Lamongan. Karyanya berjudul ...Yang Diam, Tiga Kumpulan Sajak dipamerkan dalam Pameran Nasional Antologi 2026 Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia .






Pameran Nasional Antologi 2026 Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 17-28 Juni 2026 Kurator: Rg Bagus Warsono

Puisi-puisi Pilihan

Di 

Pameran Nasional Antologi 2026

 




Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 

17-28 Juni 2026


Kurator: Rg Bagus Warsono


Penulis: 

1. Budi Riyoko (Banyuasin) 

2. Sugik Muhammad Sahar (Pamekasan)

3. Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya) 

4. Sthiraprana Duarsa (Denpasar)

5. Mochammad Syu'aib (Batang)

6. Eko Tunas (Semarang)

7. Annisa Resmana (Bandung)

8. Barokah (Purworejo)

9. Barokah (Purworejo)

10.Nanang Ribut Supriyatin (Jakarta) 

11. Nanang Ribut Supriatin (Jakarta) 

12. Siti Suci Winarni (Subang) 

13. Endut Ahadiat (Padang) 

14. Enthieh Mudakir (Tegal) 

15. Enthieh Mudakir (Tegal)

16. Bunergis Muryono (Klungkung Bali) 

17. Imansyah Firman (Bandung)

18. Budianah (Temanggung) 

19. Eko Tunas (Semarang) 

20. K. Kasdi W.A , (Sragen) 

21. K. Kasdi W.A , (Sragen) 

22. Wardjito Soeharso (Semarang)

23. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon) 

24. Asmariah Supriyadi (Jogyakarta) 

25. Asmariah Supriadi (Jogyakarta)

26. Ami Budi Arsih (Cirebon)

27. Ami Budi Arsih (Cirebon)

28. Ritawati Jassin (Jakarta)

29. Yustinus Harris (Jombang)

30. Yustinus Harris (Jombang) 

31. Isbedy Stiawan ZS (Lampung ) 

32. Isbedy Stiawan ZS ( Lampung) 

33. Ari Basuki (Jogyakarta) 

34. Iriani R Tandi, (Jambi) 

35. Ami Budi Arsih (Cirebon)

36. Ami Budi Arsih (Cirebon) 

37. Udo Z Karji (Bandar Lampung) 

38. Slamet Suryadi ( Indramayu) 

39. Mas Ruscitadewi (Denpasar) 

40. Sri Sunarti,  (Indramayu) 

41. Imansyah Firman (Bandung) 

42. Setio Bardono (Depok) 

43. Rosmita  (Jambi) 

44. Akhmad Sekhu, (Jakarta) 

45. Mita Katoyo ( Bekasi) 

46. Asti Musman  (Madiun)

47. Handayani Mutmainah , (Cilacap) 

48. Warsono , (Cilacap) 

49. Budi Waluyo , (Tegal)

50. Sartikah, (Garut) 

51. Ade Sumarna , ( Garut) 

52. Sartikah , (Garut) 

53. Siswa SDN 3 Lingkungpasir Cibiuk Garut, ( Garut)

54. M Enthieh Mudakir (Tegal)

55. M Enthieh Mudakir (Tegal)

56. Bambang Widiatmoko, (Jogyakarta)

57. Sriyanti S. Sastroprayitno , ( Semarang) 

58. Slamet Suryadi ( Indramayu) 

59. Gustu Sinduputra Sindu  Putra (Mataram NTB)

60. Irawan Sandhya Wiraatmaja,  (Tangerang) 

61. Irawan Sandhya Wiraatmaja (Tangerang)

62. Wardjito Soeharso , (Semarang) 

63. Samsudin Adlawi , (Banyuwangi)

64. Rini Intama (Tangerang)

65. Rini Intama (Tangerang)

66. Juniarso  Ridwan (Bandung) 

67. Eryantho Kamis  ( Bekasi)

68. Marwanto  (Jogyakarta).

69. Bunergis Muryono ( Klungkung)

70. Bayang Firdaus karya Halimah Munawir (Jakarta) 

71. Halimah Munawir Anwar (Jakarta) 

72. Sarwo Darmono (Lumajang)

73. Perkumpulan Sabdaaji (Lumajang)

74. A Rahim Eltara (Sumbawa)

75. A Rahim (Sumbawa)

76. Iwan Setiawan (Lubuk Begalung Padang) 

77. Iwan Setiawan ( Lubuk Begalung Padang) 

78. Dingu Rilesta  (Gunung Kidul)

79. Wirja Taufan  (Medan) 

80. Halimah Munawir (Jakarta)

81. Kartika ( Bantul ) 

82. Doel Dalminto ( Bantul )

83. Edy Samudra Kertagama (Bandar Lampung)

84. Sari Banowati (Karawang) 

85. Sari Banowati (Karawang)

86. Sulistyo (Jakarta)

87. Aufa Al Hana ( Batang)

88. Surasono Rashar (Lumajang) 

89. Surasono Rashar  (Lumajang) 

90. Bambang Widiatmoko  (Jogyakarta)

91. Basuki  (Jogyakarta)

92. Husnul Khuluqi (Banyumas)

93. Susilo Hartono (Jakarta)

94. Sri Wahyu Wardani (Semarang)

95. Rissa Churria  ( Bekasi) 

96. Hana Sania   ( Bekasi) 

97. Udi Utama  Depok) 

98. Bambang Kempling (Lamongan)





Kamis, 30 April 2026

Dimana Tempatmu Antologi

 Dimana Tempatmu Antologi 

Oleh: Rg Bagus Warsono 

Indonesia Bicara.

Jika ingin mendengar khabar Indonesia selengkapnya terdapat dalam ribuan judul antologi puisi penyair Indonesia. Silahkan dibaca atau minimalnya baca judulnya saja, maka Anda adalah sarjana humaniora 

Indonesia yang tahu betul situasi kondisi  apa saja di Nusantara ini. 

Banyak tokoh pengamat berbagai bidang di Indonesia yang sebetulnya tidak tahu real masyarakat bicara seenaknya seakan malaikat yang sudah hafal betul keadaan Indonesia, padahal mereka belum menyentuh langsung apa yang diucapkannya. Melalui puisi-puisi dari sekian ribu Antologi dari sekian ribu penyair yang di dalamnya terdapat ratusan ribu puisi, inilah gambaran Indonesia sebenarnya saat ini. Yakni apa yang disampaikan oleh penyair berupa penyampaian kejujuran yang dikemas dalam bentuk puisi. 

Siapa-siapa pandai mengurai maksud apa yang tersurat dan tersirat yang ditulis penyair maka dapat dikatakan ia tahu Indonesia sebenarnya. Mengapa demikian? Karena puisi-puisi itu adalah ungkapan kejujuran dari potret masyarakat Indonesia.

Sebab itulah bacaan sastra termasuk puisi dibutuhkan seseorang untuk menambah wawasan dan membawa seseorang yang pada gilirannya  memiliki kepribadian yang matang. Tidak saja mengerti apa yang disampaikan rakyat tetapi juga memahami apa yang dikehendaki rakyat. Jadi bacaan sastra berfaedah untuk mengisi kepribadian seseorang. 

Namun kita sadari banyak para pemimpin kita seakan buta sastra atau sengaja untuk menghindar membaca sastra, padahal sastra itu menberikan manfaat masukan yang diberikan oleh kejujuran. 

Disamping itu mungkin pula seseorang hanya pandai membaca teks tanpa bisa memahami maksud yang tersurat dalam bacaan puisi. Maka tapak kurang simpatik terhadap bacaan sastra. Sehingga tampak  bahasa yang diucapkan keluar dari mulutnya asal, apalagi diucapkan spontan. Jadi bacaan puisi sebetulnya melatih untuk berfikir ilmiah dan melatih menemukan jawaban dari pertanyaan. 

Itulah sebabnya banyak tokoh tokoh besar menbaca dan memiliki Antologi. Tak sekedar koleksi hiasan lemari kaca tetapi juga bacaan favoriete tokoh itu bahkan sempat mengidolakan penyairnya. Disinilah pencarian tempatmu Antologi didapat. 

April 2026




Senin, 27 April 2026

Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)

 Pada Awal Berdiri Indonesia Sangat Terpelajar (Menghargai Aturan)


Entah mengapa setelah Bung Karno turun dan berganti presiden negara kita (kehidupan bernegara)  menjadi awut-awutan tidak menghargai aturan, hukum maupun adat. Salah apa Indonesia ini hingga para pemimpinnya banyak yang tidak ideal bahkan gonta-ganti presiden kita mendapatkan pimpinan yang tidak membuat kita hormat. Kita semakin tak karuan dan tidak memelihara budi luhur bangsa. Salah apa bangsa ini, salah apa negeri ini? 


Dicontohkan oleh Bung Karno untuk menjadi besar itu bukan menyombongkan diri menepuk dada aku presiden, aku kaya, aku hebat atau aku berkuasa, tetapi bagaimana seorang yang memiliki jabatan tinggi, seorang yang memiliki ilmu tinggi (ilmuwan) , seorang kaya yang mempunyai banyak perusahaan, seorang olahragawan yang punya prestasi atau tentara bersenjata dengan bintang di pundak mau menghargai orang tua dan mau menghargai jasa-jasa pendahulunya. 


Demikian Bung Karno sebagai founder of the nation (pendiri bangsa) mengingatkan untuk slalu memberi hormat kepada orang tua pejuang pendahulu negeri sebab tanpa perjuangan mereka tak mungkin dirinya bisa mencapai ini semua.


Hanya Bung Karno yang suka rakyatnya pinter dan cerdas, setelahnya Bung Karno presiden memilih lebih suka rakyatnya bodoh. 


Setelah membaca teks Proklamasi bersama Bung Hatta, keesokan harinya PPKI melantik Bung Karno menjadi Presiden. Di usia sangat muda 44 tahun . Setelah menjadi presiden Bung Karno tidak menunjukan darah mudanya tetapi lebih menunjukan kedewasan. Sebagai seorang kutu buku Bung Karno tidak melepas membaca buku walau jadi presiden. 


Biografi orang orang terkenal dibacanya sehingga ia sadar ia telah menjadi Bapak Bangsa , orang yang dituakan di negri ini. Karena itu sifat sebagai orang tua melekat. Terutama pada generasi muda penerus bangsa.

Ia sangat perhatian kepada generasi muda yang cerdas. Banyak putra Indonesia dari berbagai daerah  cerdas dikirim untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa.

Terhadap pendidikan Bung Karni sangat perhatian selalu. Termasuk mendirikan beberapa universitas di kota besar. Baginya generasi muda harus cerdas. Dan penulis amati hanya Bung Karno-lah yang senang rakyatnya cerdas. Sedang presiden presiden selanjutnya seperti dengan tidak menyukai rakyatnya pinter dan cerdas. Mereka presiden-presiden setelah Bung Karno termasuk Megawati, semua menunjukan lebih suka rakyatnya untuk tetap bodoh.

 (rg bagus warsono)


Kamis, 23 April 2026

Geguritan Rg Bagus Warsono: Bocah-bocah Mbuangi Sega

 Geguritan Rg Bagus Warsono

Bocah-bocah Mbuangi Sega 



Masih ingit zaman semana

Ibu ngandika aja mbuangi sega 

Dewi Sri ora nrima pamali ya

Sega saka beras inget bapa tani 

Ngrekasa nyambut gawe awit ngolah siti sampe nutu beras. 

Diajari ngarti ngormati beras 

Sega sing dipangan ben dina

Sapa sing ngarti ngormati sega

Bakal ora susah nemoni sega 

Urip bakale mulya 

Ora payah nemu pegawean 

Beras dadi cedak awak 

Saiki pemerentah nganani MBG 

Mangan awan jarene bergizi 

Nyatane embuh 

Bocah sekolah kebagian kabeh 

Wiwit SD sampe SMA

Pak lan Bu guru ngongkon mangan awan 

Ora mbayar ning sekolah 

Ayo dipangan ekeh gizine 

Bocah bocah nyekel omprengan mangan awan 

Nanging ora manjing ning cangkem 

Jalaran ora seneng 

Embuh apa sebabe

Becoh wedi karo gurune 

Sega dibuang ora katon guru 

Saben dina ember sampah akeh semut 

Sega lawuan dibuang 

Saben dina

Dewi Sri nangis nguguk 

Esih bocah diajari ora ngormati pangan 

Sega dibuangi ben dina. 

Januari 2026.



Langit Nusantaraku Oh, Rg Bagus Warsono

 Langit Nusantaraku Oh

Layang-layang anak-abak desa 

Dengan ekor menari warna warni 

Berkibar terbang gagah 

Langit diatas penatang sawah pasca panen

Mata memandang sejauh senar layang layang 

Teriak bangau 

Ribuan walet 

Merpati 

Bahana nusantara 

Lalu senja pun tiba 

Semburat merah dibarat mematul langit diair laut 

Malam bintang pun gemerlap tak beraturan yang kadang tertutup awan lewat. 

Langit Nusantara 

Milikmu anak-anak desa

Biru membungkus rumah dan perahu 

Bebas teriak di lapang rumput

Bangga punya langit Nusantara

Langit Nusantara apa tak kenal lagi 

Layang-layang 

Kini deru pesawat jet tempur asing 

Asap bergulung mengikuti rute

Mendung tercemar 

Hujau berbau tailpipe

Jet tempur pesawat 

asing bagi langit nusantara 

Dan burung hantu malam 

Menatap tajam 

Tak puaskan menjual bumi kita?

Langit pun kau relakan. 

Indramayu, 23 April 2026



Keranda Listrik , Rg Bagus Warsono

 Keranda Listrik 


Rg Bagus Warsono 


Di zaman serba listrik

Pasir batu naik Truk listrik 

dijajakan hujan dan panas

Ibu-ibu menunggu di halte

Bus listrik 

mencari pembeli 

Anak-anak sekolah merengek minta sepeda listrik 

Sepeda motor listrik menunggu bapak pulang dari ladang

Setahun berjalan anak-anak sekolah berjalan bergandengan tangan 

Bapak di ladang pulang sebelum kiriman datang 

Ibu-ibu terhalang mobil listrik 

parkir depan rumah 

Abang  becak listrik tersenyum di perempatan jalan 

Suara klakson menyuruh telinga 

Menepi becak listrik mengalah. 

Terlalu berat dipanggul 

Menginspirasi keranda listrik 

untuk kampung kita

Tak merepotkan yang ditinggalkan 

Sewaktu-waktu 

Bila lebai membutuhkan

Keranda listrik libih nyaman



Senin, 30 Maret 2026

Sekilas Pameran Nasional Antologi 2026 Lumbung Puisi

 Membaca sekilas suara para penyair dalam buku-buku ini, saya langsung merasakan bobot yang menghujam di setiap baris, betapa pelik dan penuh kesungguhan pekerjaan ini. Sebab di halaman-halamannya tak ada yang kalah, dan memang selayaknya demikian disebut: Mereka semua seharusnya adalah Pemenang.

Sastra kita menyimpan banyak penyair yang berkarya dalam sunyi, suara-suara mereka tertutup selimut, keindahan puisi-puisi mereka berpendar di balik layar yang jarang tersingkap. Dari rahim Nusantara ini mengalir denyut yang dalam, akar yang menembus lapisan sejarah, dan imajinasi yang menandingi tradisi mana pun di dunia. Jika sastra ini dirawat dengan serius dan diberi panggung yang layak, ia akan berdiri tegak sebagai pelopor sastra dunia.

Liauw Pauw Phing

Kurator, kritikus dan Juri “PAMERAN NASIONAL ANTOLOGI PUISI SASTRAWAN INDONESIA

2026”



Senin, 23 Maret 2026

Lumbung Puisi is an Indonesian poetry documentation

 I. Origins and Foundations


Lumbung Puisi is an Indonesian poetry documentation initiative founded in 2013 by Rg. Bagus Warsono through the Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM, Society of Reading Enthusiasts) in Indramayu, West Java. From the outset, the project was intended to bring literature closer to everyday life through periodic anthologies featuring poets from across the archipelago. The name “lumbung” was chosen as a distinctly agrarian metaphor: just as a rice granary collects harvests from surrounding fields into a single store, the project was conceived as a shared repository for documenting poetry systematically and continuously. Its animating spirit was explicitly noncommercial and grounded in mutual cooperation, as Rg. Bagus Warsono himself declared: “This is a nonprofit activity, built on the spirit of gotong royong for fellow poets who are willing to advance Indonesian literature together.” In keeping with that spirit, Lumbung Puisi positioned itself from the beginning as an inclusive space unaffiliated with any particular community, faction, or literary generation, making it a living archive of Indonesian literature that embraces poets of every background and region.


On both the institutional and practical levels, Lumbung Puisi’s presence is reflected in its physical publications, including those issued by Sibuku Yogyakarta, as well as in the participation of dozens of national poets throughout its development. Figures involved include Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Thomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri BSC, Dyah Setyawati, Sofyan RH Zaid, and Ali Arsy. In the physical sphere, Lumbung Puisi maintains Sanggar Lumbung Puisi in Indramayu as a creative space and a venue for in-person gatherings among poets. In the digital realm, Literanesia.com serves as the main hub of its activities and documentation, actively publishing works by poets such as Budiyanah, Rg. Bagus Warsono, and Hasanuddin, including Bagus Warsono’s poem Helm Hijau di Tepi Jalan, while also presenting an extensive bibliography of anthologies and current activities through 2026, including Memories of the 80s Poet Reunion 2025.


Volume I and Volume II, published in 2013 and 2014, marked the pioneering phase of the project. Volume III appeared in 2015 through Sibuku Media, Yogyakarta, gathering works by 74 poets from across Indonesia, with a foreword by Sosiawan Leak. Volume IV was published in 2016 with a wildlife theme, again by Sibuku Media, Yogyakarta. Volume V appeared in 2017 under the title Rasa Sejati. Volume VI was published in 2018 under the theme Indonesia Lucu through Penebar Media Pustaka. In 2019, the anthology Mblekethek was published by Penebar Media Pustaka, Yogyakarta. In 2020, Lumbung Puisi released a thematic anthology addressing the COVID-19 pandemic as a collective response by Indonesian poets to the outbreak. In 2021, two anthologies were published: T, containing works by 124 poets and released by Penebar Media Pustaka, Yogyakarta, catalogued in the official collection of the DKI Jakarta Provincial Library under call number 811.08 PEN t; and Gembok (Volume IX), which appeared in the same year. In 2022, Lumbung Puisi published the anthology 100 Chairil Anwar Masa Kini. Volume XI was published in 2023. In 2024, Lumbung Puisi ran the 2024 Poetry Book Nomination program, evaluating 59 national poetry books to select the five best and 25 editors’ choice titles of the year.


I.1. Contributions to Indonesian Literature


Lumbung Puisi’s greatest service lies in its role as a decentralized hub for modern literary documentation. It bridges the gap between poets in peripheral regions beyond the reach of major urban publishers and the national literary audience. Through its multi-author anthologies, published consistently year after year, Lumbung Puisi documents the vitality of Indonesian poets in a living, continuous record, something no government literary institution does on a regular basis. Out of this process has grown a distinct library known as the “Kepustakaan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia,” which encompasses not only the archive of these multi-author anthologies but also the individual poetry collections of the poets involved. The inclusion of the 2021 anthology T in the official collection of the DKI Jakarta Provincial Library constitutes institutional recognition of the documentary value of the works Lumbung Puisi has gathered within Indonesia’s national literary archive.


Lumbung Puisi’s contribution does not end with publication and archiving. In 2019, the institution expanded its scope through the Literasi Sastra Masuk Sekolah (Literary Literacy Enters Schools) program. Together with 15 national poets, Rg. Bagus Warsono brought literary activities directly into elementary schools, including SDN 02 Brondong, Pasekan District, Indramayu, on August 31, 2019, where they taught students and teachers how poetry is written and read. This initiative reveals that Lumbung Puisi operates not only as a space for documentation but also as a means of bringing literature into primary education.


Since 2023, Lumbung Puisi has also conferred the Anugerah Sastrawan Utama, or Sastratama award, upon poets judged to have made tangible contributions to the development of Indonesian literature. In 2025, Lumbung Puisi continued to expand its activities by organizing the 2025 National Poetry Writing Competition on the theme Makan Bergizi Gratis (Free Nutritious Meals), with the winners announced alongside the 2025 Poetry Reading Competition at Sanggar Lumbung Puisi, Indramayu, on April 19 and 20, 2025. Lumbung Puisi’s role, therefore, goes well beyond gathering, documenting, and publishing works. It actively cultivates recognition, mentorship, and continuity for Indonesian literature from local communities to the national stage.


II. Profile of Rg. Bagus Warsono


Rg. Bagus Warsono, whose full name is Ronggo Bagus Warsono and who is also known as Agus Warsono, S.Pd., M.Si., was born in Tegal, Central Java, on August 29, 1965. He descends from the Ronggo Kastuba lineage; his father, Rg. Yoesoef Soegiono, was a teacher. He was an avid reader from childhood and had reportedly finished S.H. Mintardja’s novel Api di Bukit Menoreh by the age of ten.


II.1. Educational and Professional Background


His formal education took him through SDN Sindang II Indramayu, SMP III Indramayu, and SPGN Indramayu, followed by a D2 diploma at UT UPBBJJ Bandung (completed 1998), a bachelor’s degree at STAI Salahuddin Jakarta, and a master’s degree at STIA Yappan Jakarta (completed 2011). After completing teacher training, he worked as an elementary school teacher, was appointed principal in 2004, and in 2015 took up the position of school supervisor. Beginning in 1992, he worked as a correspondent for Majalah Gentra Pramuka, Mingguan Pelajar, and Rakyat Post. In 1999, he also joined Majalah Hamdalah and became a registered member of the West Java branch of the Indonesian Journalists Association (PWI). He is also known as a painter active at the Sanggar Sastra dan Lukis Meronte Jaring in Indramayu.


II.2. Literary Career


His writing career began during his school years with the publication of poetry in the Cirebon edition of Pikiran Rakyat, and since 1985 he has continued to write poetry, short stories, children’s fiction, and articles for a wide range of media outlets, including Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Guru, Bhinneka Karya Winaya, Binakop, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, and Suara Daerah. In 1999 he founded the Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) in Indramayu, and in 2011 he established the Sanggar Sastra Meronte Jaring as a space for nurturing the next generation in literary arts.


Get Liauw Pauw Phing’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.


Enter your email

Subscribe


Remember me for faster sign in


His most significant contribution to the Indonesian literary landscape has been the conception of the Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia anthology series in 2013, a documentation project of contemporary poets from across Indonesia involving figures such as Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Thomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri BSC, and Ali Arsy. In this project he serves simultaneously as its originator, curator, and editor. Earlier, in 2012, he conceived and edited Saksi Ibu Melihat Reformasi, an anthology of distinct historical and social value. His work also appears in several national multi-author anthologies, among them Puisi Menolak Korupsi PMK II (2013), Tifa Nusantara I (2013), and Ensiklopedia Koruptor Puisi Menolak Korupsi (2014).


II.3. Works


His individual poetry collections include Bunyikan Aksara Hatimu (manuscript 1992; Sibuku Media, Yogyakarta, 2014), Jangan Jadi Sastrawan (Indhi Publishing, Jakarta, 2014), Jakarta Tak Mau Pindah (Indhie Publishing, Jakarta, 2014), Si Bung (Leutikaprio, Yogyakarta, 2014), Surau Kampung Gelatik (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Mas Karebet (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Satu Keranjang Ikan (Sibuku Media, Yogyakarta, 2016), Mencari Ikan sampai Papua (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2017), and Kemeja Putih Lengan Panjang (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2018). In the field of literary essays, he published Bincang-bincang Penyair (Penebar Pustaka, 2018) and Geliat Penyair Indonesia (Penebar Pustaka, 2018). His output also includes children’s fiction: Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (1992), Kopral Dali (Sibuku Media, Yogyakarta, 2014), Meriam Beroda (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015), Pertempuran Heroik di Ciwatu (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2016), and Kacung Ikut Gerilya (Penebar Pustaka, Yogyakarta, 2018); as well as several illustrated storybooks, including Laskar Wiradesa, Pertempuran Selawe, Si Jagur, Panglima Indrajaya, and Endang Dharma.