Jumat, 04 September 2026

Sari Banowati Dalam kemara


 Sari Banowati


Dalam kemarau


Berderak patah retak

Reranting kering

Jatuh berdenting ke bumi

Menyusul daun daun gugur tak berhuma

Sejumput awan hitam menangis pilu

Sembunyi di balik terik hari

Hujan belum saatnya turun ke bumi

Bukan kemarau panjang yang ku tangisi

Sungai masih mengalirkan airnya pada muara kearifan

Bening berkilau di batu batu mengabarkan sunyi

Burung Pipit masih menabung padi di sarang di pohon tinggi sembunyi seakan menjaga pohon agar tidak ditumbangkan

Bukan kemarau panjang yang ku tangisi

Tetapi tanah leluhur yang diukur ukur

Untuk lahan pabrik dan lahan pemukiman

Untuk kemajuan bangsa

Untuk perubahan zaman

Untuk kesejahteraan

Slogan itu seakan dipajangkan di tiang tinggi

Mendesak akar kehidupan untuk sebuah pondasi

Tak lagi menumbuhkan tunas bernas menyimpan embun

Anak anak tak lagi bermain layangan di tegalan

Tak lagi menendang bola dalam hujan

Milik siapakah tanah air bunda?

Tanya seorang anak mengguncang dada


Cikampek, 3 September 2026



A.S. Darsa MENGULANG-ULANG KEMARAU

A.S. Darsa

MENGULANG-ULANG KEMARAU

sore selalu singgah sebelum senja selesai
saat itu sepasang langkah kita saling susul menyusul sepanjang semak
sungai sesekali sembunyi di sela batu
dan kau tersenyum ketika sandalmu penuh lumpur
sesederhana itu
sore terasa panjang
setelah sekian musim aku kembali
sungai surut, semak semakin sedikit
suara serangga berpindah ke bagian hutan
yang belum disentuh mata gergaji
aku berdiri sendiri di tepi sungai
ketika matahari tepat di atas kepala
dan aku baru tahu
pohon-pohon yang dulu menaungi kita
kini berdiri sebagai kusen
menyangga rumah orang lain
sementara kita
bahkan tak lagi punya tempat untuk berteduh

*— a.s. darsa *




Ence Sumirat, TAFSIR ARSIR

 Ence Sumirat


TAFSIR ARSIR


sehampar doa

dalam kelebat cinta

sebentang rindu

pada nyaring kelu

tetaplah ia terjaga

di antara dusta cuaca

dan manjanya dosa

yang berebut takhta

singgasana jiwa

haus minta disebut nama

lapar enyah kata nirguna


Cianjur 2026 




MUSIM YANG MEMBAWA RETAK , Winar Ramelam

 Winar Ramelam


**MUSIM YANG MEMBAWA RETAK **


Musim ini, tajamnya seperti belati

Ranting dan dahan gemeretak

Daun daun berguguran

Berserak dan berterbangan

Bahkan, kadang seperti pahat

Memahat telapak kaki

Menjadi retak meski telah diolesi hand body

Bentang tanah sawah turut retak

Padi dan palawija enggan tumbuh

Air telah menjadi barang langka

Paceklik pun membayang di pelupuk mata

Di sudut lain

Ada yang perlahan merayap

Dari bara menjadi kobaran

Kabut asap menyemut

Menjadikan sesak dada

Ia adalah api yang melahap hutan

Hijau tropis menjadi arang dan debu

Segala habitat yang bermukim meratap

Sebagian musnah

Namun, ada yang menjadikan momentum

Musim dijadikan alibi

Padahal tangan angkara sedang bekerja

Agar alih fungsi hutan tak kentara

Mereka bukan hanya membuat retakan di hati

Tapi menjadi luka yang nganga

Dan bayangan gelap

Bila esok musim silih berganti

Dari kemarau ke hujan

Dari hujan ke kemarau

Kekurangan air

Kebanjiran

Kekurangan air

Kebanjiran

Begitu berulang ulang

Berapa biaya yang harus dikeluarkan

atas segala musibah yang disengaja

Bagaimana menanggung luka dan sedih

atas kehilangan

Dan, kembali musim dipersalahkan

Sedang mitigasi tak becus dijalankan


Denpasar. 2026




PROTES DI PARAU KEMARAU, Osratus

 Osratus


PROTES DI PARAU KEMARAU


"Suara kemarau makin parau, diriku

Terasa panas, dengus napasnya

Menyala tenggorokannya

Menyimpan bara di perutnya

Daun kering

sudah kaupindahkan dari piring

mengapa lidah apinya

menjulur ke muka

ke belakang ke samping,

mengapa ia muntahkan api?

Hutan terbakar begitu mudahnya

Kau dan aku tercekik rasa panik,

angin tertawa sambil jungkir balik."


*Sorong, 01-09-2026 *




Kemana Perginya Ikan, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Rg Bagus Warsono


**Kemana Perginya Ikan **


Sungai kecil jalur perahu kecil

Lalu lalang nelayan rumah tepi sungai dan laut.

Kemarau panjang sepanjang sungai

Perahumu ditambatkan muara di sana

Sungai kecil anak sungai

Hanya hamparan pasur

Dasar sungai

yang pecah-pecah

Telapak kaki yang dikeringkan panas matahari

Sungai kecil, dengan aneka ikan

yang menjadi tanah

Atau selekasnya ditangkap nelayan

Di sungai itu

kemana perginya ikan

Hanya onggokan ranting.

Yang diterjang bola

Anak-anak yang bermain layang-layang,

Bak-balan.

Kemana perginya ikan.


Indramayu, 1 September 2027