Antologi Panjat Pinang 81 Usia Indonesia (1-15)

 001. Wandi Julhandi


Panjat Pinang Kita Bukan Lomba


Bukan sekadar batang licin yang digosok oli,

bukan sekadar hadiah di puncak: kompor, sepeda, sembako.

Hari ini kita panjat lagi.

Tapi bukan untuk hadiah.

Kita panjat karena tanah di bawah kaki sudah terlalu lama becek,

karena harga beras naik lebih cepat daripada gaji,

karena sekolah anak harus bayar, tetapi jalan di depan rumah masih berlubang.

Lihat!

Yang di bawah berdesakan, bahu menahan bahu.

Yang di atas saling injak demi sampai lebih dahulu.

Itu bukan kita.

Itu cermin.

Rakyat menggugat bukan dengan teriak.

Rakyat menggugat dengan keringat yang menetes di batang pinang,

dengan tangan kapalan yang tetap meraih,

meski licin, meski jatuh, meski disoraki.

Kami bukan penonton upacara.

Kami yang tiap pagi berdiri di antrean.

Kami yang disuruh "sabar",

sementara piring di dapur makin kosong.

Hari ini bendera Merah Putih naik,

tetapi kami juga ingin bertanya:

Kapan keadilan ikut naik?

Kapan janji-janji tidak hanya berkibar lalu turun lagi?

Panjat pinang ini hadiahnya kecil,

tetapi semangatnya besar.

Karena di setiap jatuh dan bangun,

kami belajar satu hal:

Kalau tidak bergotong royong, tidak akan ada yang sampai ke puncak.

Jadi biarlah batang itu licin.

Biarlah banyak yang tertawa melihat kami jatuh.

Kami tetap akan naik,

bukan untuk merebut kompor,

tetapi untuk mengingatkan

bahwa negeri ini milik yang berani memanjat,

bukan milik yang hanya duduk memberi perintah dari bawah.

Agustus ini

kami tidak hanya merayakan kemerdekaan,

kami menagihnya.

Turunkan hadiahnya,

tetapi juga turunkan harga.

Turunkan bantuannya,

tetapi juga turunkan arogansi.

Karena panjat pinang yang sesungguhnya

adalah saat rakyat dan pemimpin

sama-sama memanjat

ke arah yang sama:

Indonesia yang merdeka, lahir dan batin.


Makassar, 6 Agustus 2026


Julhandi/Wandi kelahiran Makassar 16-1-1987 Seni bagiku adalah kehidupan dalam setetes sejarah. Karya tulis adalah obat jikalau merangkai dengan hati akan menjadi rangkaian kata yang indah. Namun jikalau mengukir dalam kegelapan, akan menjadi penyakit, untuk diri dan orang lain. 





002.Silivester Kiik 


Kidung-Kidung Sunyi Kaum Tertindas


Dari punggung bukit

berjalanlah mereka

menuju sunyinya sabana

sementara matahari

menggantungkan salib emasnya

di bahu pohon-pohon cendana yang renta.

Angin menggembalakan debu

seperti seorang ibu

yang menggendong

bakul anyaman lontar

berisikan sebait sembahyang

dan sejumlah tetesan air mata.

Lihatlah: anak-anak mereka

sibuk mengisap senja

dari batang-batang jagung

dan menjadikannya sebagai kisah

yang tak mampu diterjemahkan

dalam amsal para leluhur.

Mereka adalah pejuang kemenangan

yang nama-namanya ditulis hujan

lalu dihapus kemarau

meminta kebenaran

tetapi yang diberi ialah janji

dan hukuman.

Siapakah yang seharusnya

dijadikan sebagai benih pertolongan?

Lihatlah: mereka memanen batu

menanak lapar

memerah keringat

hingga berubah menjadi anggur

yang tak pernah diminum.

Di lopo, lelaki-lelaki tua

mengunyah sunyi lebih lama

daripada memamah sirih-pinang.

Di tenda-tenda kecil—beratapkan daun kelapa

perempuan-perempuan menenun bulan dan bintang

ke dalam helaian Tais-Bete

namun malam membelinya

dengan harga air mata.

Kata langit kepada mereka: “jadilah terang.”

Dengarlah: burung-burung

masih menyebut nama mereka

dengan bahasa embun

yang berkilau di setiap dedaunan

tetapi negeriku—tanah air dan darahku

lebih petah lidah dalam menghitung angka

hingga ayat-ayat yang tak mampu

diilhami oleh jiwa-raga

daripada denyut nadi di ladang

yang sedia mendengarkan

dan menjawab setiap permohonan.

Oh, mama bumi Timor

angkatlah wajahmu

walau dipenuhi gurat batu kapur

pintaku, berbisiklah kepada matahari:

“Ingatlah, bahwa setiap akar

tak pernah iri kepada bunga.”

Waktu demi waktu berlalu

penderitaan tak henti-hentinya dikisahkan

ketika lonceng subuh

dibunyikan oleh ayam hutan

kesunyian itu tak lagi menjadi luka

melainkan madah yang tumbuh

dari celah-celah batu

mengalir bersama embun

lalu terbang di sayap elang Timor

menuju langit tua

tempat Tuhan menyimpan nama-nama leluhur

yang tak pernah ditulis dalam kitab sejarah

tetapi diabadikan oleh harum cendana, sabana, lontar

dan nyanyian sunyi kaum tertindas

yang lahir dan mati dari penderitaan.


Atambua-NTT, 6 Agustus 2026


Silivester Kiik, adalah seorang guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan penggiat literasi perbatasan. Karyanya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); Inovasi Pembelajaran Geografi Zaman Now (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan beberapa buku lainnya dalam proses penerbitan. Sejumlah puisi lainnya turut mengisi berbagai antologi bersama baik regional, nasional, maupun internasional. Tinggal di Atambua-Timor-NTT.











003. A. Zaenuddin KR


LORONG WAKTU


Seperti Agustus di tahun tahun lalu, umbul umbul dipasang dipajang di sepanjang jalan. Di lorong lorong hingga di ujung gang. Di kiri dan di kanan tepi aspal di cat warna putih atas swadaya orang orang yang kurang lebih kurang berdaya.

Lampion warna warni bertebaran hampir disetiap pekarangan rumah, perkantoran, gedung pemerintah, dan pos pos ronda jaga malam. Ya, seperti orang orang yang sedang berpesta saja kita begitu pongah dan, wah.

Ini kali juga begitu. Agustus ke delapan puluh satu, sejak kita menobatkan diri sebagai bangsa bangsa yang merdeka, di lorong lorong, disetiap gang, hingga di sudut sudut kampung, ingar bingar dan gelora jiwa yang penuh gebu. Menyala.

"Menyala, ndasmu!" Tiba tiba kita sebagai butiran butiran debu sisa pembakaran sampah yang kemarin menyala itu ~ yang dikiranya ia masih api hari ini.

: Hitam dan kusam!

Ya, kita terus kibarkan merah putih. Tak boleh berhenti dan terus bergerak agar kemerdekaan sungguh teraih.


Pekalongan, 6 Agustus 2026.


A. ZAINUDDIN KR. Di akun pesbuknya sebagai Kang Zayy. Lahir dan besar di Pekalongan, Jateng. Setelah berpuluh tahun merantau di pinggiran Ibukota yang kemudian "tersesat" di jagad sastra ~ lalang buana ~ pada ahirnya kini menikmati masa setengah tua menuju senja di kampung dimana ia berasal, sambil chattingan sama beberapa kerabat dan para sahabat.

Dan, menunggu inbok bagi yang ngefans (hahaha)


































004. Biolen Fernando Sinaga, 


Hari Jemerdekaan Akan Tiba Lagi.

.

Lomba Memanjat Pohon Pinang yang Sudah Ditebang, Dikuliti, Diperlicin, dan Dihiasi Bermacam Hadiah di Puncaknya

.

Hari kemerdekaan akan tiba lagi

Akan ada lagi upacara

Akan ada lagi banyak perlombaan

Termasuk Lomba memanjat pohon pinang yang sudah ditebang, dikuliti, Diperlicin dan Dihiasi banyak Hadian di puncaknya

Semua orang boleh ikut memanjat

Asalkan rela bekerjasama dengan orang lain

Sebab mustahil bisa memanjat sendiri pohon itu

Karena tinggi dan licinnya

Lagipula dia dirancang untuk dipanjat beramai ramai

Bergotong royong

Baku dapa

Marsitungkol tungkolan

Tepo seliro

Dan nanti hadiahnya dibagi bersama

Adil dan merata

.

Lomba panjat pinang adalah drama

Si ambisius akan berusaha ngotot

Si sabar akan berusaha tenang

Si malas akan teriak menyemangati

Si takut hanya bisa berdoa

Si apatis menonton dengan sinis

.

Lomba panjat pinang

Adalah kesempatan melupakan sejenak

Mahalnya sembako

Langkanya BBM

Sulitnya gas

Tingginya dolar

Langkanya lapangan kerja

Kontroversinya mbg

Bisingnya pidato pejabat

.

Lomba panjat pinang adalah

Perlambang perjuangan rakyat

Yang harus terus bersemangat dari awal hingga akhir

Rela menerima dorongan, sokongan, pijakan, teriakan

Demi sesuatu yang masih hnya dalam bayangan

Yang nilainya belum ketahuan

Dan yang pasti takkan dinikmati sendiri

Bersiap siap menerima ketidakadilan dari panitia

Protes jika masih bisa

Legowo jika terpaksa

Asalkan jangan sampai mati sia sia.

.

*Dairi, Agustus 2026 *
















005. Mas Ruscitadewi 


Panjat Pinang


Siapa memanjat?

Siapa meminang?

Apa dipanjat?

Apa dipinang?

Penyair memanjat rasa dalam suara menjadi kata dan cerita

Raga mengecap, bibir mengucap

Adakah jiwa suci murni merasai?

Raga mengalami

Jiwa meyakini, memaknai

Sang Kawi meminang rasa suci murni wangi gusti


(Kesiman, Bali, 06/08/2026)


Mas Ruscitadewi adalah pengarang kelahiran Kesiman, Denpasar Bali, buku kumpulan puisinya berjudul Hana Bira (bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang) sempat menjadi salah satu pemenang puisi Attlanta Revew, karya puisinya juga masuk dalam kumpulan puisi sastrawan Indonesia, puisi terbarunya berjudul Kidung Lodha (bahasa Bali) dan Perjalanan " Perjalanan" (Bahasa Indonesia) aktif sebagai pengajar sastra dan teater, membuat berbagai festival.









006. Masruswian 


Delapan Puluh Satu Tahun Memanjat.


Kemerdekaan digantung pagi itu

pada tiang yang berkeringatkan minyak.

Di pucuknya ada nasi

untuk meja seorang ibu,

buku milik anaknya,

dan secarik resep

yang semalam dilipat sang ayah

di bawah bantal.

Mereka datang membawa tubuh.

Telapak berbau lumpur,

bahu menyimpan dengung mesin,

punggung mengeringkan garam laut,

jemari berkapur

yang terbiasa mengeja masa depan

di papan hampir hitam.

Semua tubuh itu disusun.

Yang kuat menjadi dasar,

yang lemah belajar menguatkan,

yang jatuh segera digantikan,

sebab selama delapan puluh satu tahun

mereka diajari bahwa luka

adalah harga sebuah sorak.

Seseorang terus naik.

Ia menginjak lumpur di kuku,

debu di bahu,

garam di punggung,

kapur di jemari.

Ketika mencapai puncak,

ia menendang tangan terakhir

yang masih mencoba mengangkatnya.

Di bawah,

deretan sepatu yang tak mengenal tanah

berjalan menuju panggung,

menggunting pita,

menghitung tepuk tangan,

lalu membingkai tubuh yang jatuh

sebagai pesta rakyat.

Seorang anak menerobos kerumunan,

memungut kancing baju ayahnya

dari rumput yang terinjak.

Sorak mendadak kehilangan mulut.

Seluruh bahu itu pun bergerak.

Bukan ke atas.

Kini kami datang bukan untuk memanjat.

Kami datang untuk bertanya,

siapa yang mengubah hak menjadi hadiah?

Siapa yang melumuri jalan ke puncak,

lalu menyalahkan telapak kami

setiap kali tergelincir?

Mengapa nyala di dapur,

huruf-huruf di mata seorang anak,

dan tidur yang terbebas dari nyeri

harus digantung begitu tinggi,

sementara tangan yang tak pernah memanjat

dapat meraihnya tanpa keringat?

Satu demi satu kami turun,

membawa pulang punggung,

kepala, serta telapak kami

dari susunan yang meninggikan seseorang.

Kami berhenti

menyusun tubuh sendiri

menjadi tangga.

Di puncak, seseorang memeluk tiang.

Segala hadiah masih bergoyang,

tali berderit,

minyak menetes

ke tanah yang telah kami tinggalkan.

Dari kejauhan kami mendengar

sesuatu patah.

Lalu sebuah bayang-bayang panjang

rebah melintasi panggung

sebelum tepuk tangan

menemukan kembali

kedua telapaknya.


7 Desember 1982. 


Masruswian, lahir di Barabai, Kalimantan Selatan, puisinya, Mozaik Hening (2026), menjadi salah satu jejak kepenyairannya. Ia beberapa kali meraih Juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional, serta remaja dan karyanya termuat dalam berbagai antologi puisi tingkat daerah maupun nasional. 






















007. Anas Bachtiar Arief


NOMOR GILIRAN


Pagi itu

nomor giliran

dibagikan.

Orang-orang

menerimanya,

seperti menerima

nasib.

Di tengah lapangan

sebatang pinang

berdiri.

Terlalu tegak

untuk disebut

permainan.

Di puncaknya

bergantung

sebuah sepeda mini

yang tak pernah

mengayuh

ke mana pun.

Sebuah kompor

yang tak pernah

menghangatkan

siapa pun.

Sebuah dispenser

yang tak pernah

menghilangkan

haus.

Ketiganya diam.

Tetapi setiap tahun

tubuh-tubuh datang,

mengulurkan tangan,

kehilangan genggaman,

lalu jatuh.

Sementara

sepeda mini,

kompor,

dan dispenser

tetap bergantung.

Seseorang membuka jeriken.

Minyak dituangkan

perlahan.

Batang itu berkilau.

Licin.

Setiap telapak tangan

mencari pegangan.

Setiap genggaman

kehilangan tempat berpijak.

Peluit berbunyi.

Nomor pertama.

Melorot.

Nomor kedua.

Jatuh.

Nomor ketiga.

Duduk di bawah tiang,

mengusap lutut,

menunggu napasnya

kembali.

Pengeras suara

mengulang

nomor berikutnya.

Anak-anak bersorak.

Telepon genggam terangkat.

Beberapa orang mencari

sudut terbaik.

Tak seorang pun

mencari denyut nadi.

Suara pengeras itu

terdengar begitu akrab.

Seperti pernah kudengar

di lorong berkursi plastik.

Lampunya sama-sama putih.

Lantainya sama-sama licin.

Yang satu karena minyak.

Yang satu lagi karena waktu.

Di sana

tak ada tiang pinang.

Tak ada jeriken.

Tak ada peluit.

Tetapi leher-leher

tetap mendongak.

Tangan-tangan

tetap menggenggam

nomor giliran.

Dan pengeras suara

tetap mengulang

nomor berikutnya.

Di lapangan

orang melorot

karena minyak.

Di lorong itu

orang melorot

karena waktu.

Yang satu

memegang lutut.

Yang satu lagi

memegang nomor giliran.

Tak ada

yang benar-benar menang.

Sebab yang dibawa pulang

tak selalu sepeda mini.

Tak selalu kompor.

Tak selalu dispenser.

Kadang yang dibawa pulang

hanyalah

lutut yang retak,

waktu yang habis,

dan nomor-nomor

yang tak sempat dipanggil,

berakhir di ruang jenazah.


Anas Bachtiar Arief

Lahir di Surabaya Sekadar suka bikin puisi





























008. Tarigan Ose Damianus



Panjat Pinang, Tiang Agustus


Tujuh belas Agustus

mengibarkan matahari

di ujung tiang bendera,

sementara sebatang pinang

berdiri tegak

menjadi cermin perjuangan.

Batangnya licin

oleh peluh sejarah,

oleh darah

yang pernah jatuh

demi selembar merah putih.

Anak-anak tertawa,

orang tua bersorak,

namun di balik riuh itu

para pahlawan

diam-diam hadir

mengajarkan arti bertahan.

Satu tubuh memanggul tubuh lain,

satu tangan menggenggam tangan lain.

Tak ada puncak

yang dapat disentuh

oleh kesombongan.

Di negeri ini

kemerdekaan lahir

dari bahu yang rela dipijak,

dari hati

yang tak pernah lelah

menopang sesama.

Ketika hadiah

akhirnya berhasil diraih,

kami tahu

yang kami menangkan

bukan sekadar bingkisan,

melainkan keyakinan

bahwa Indonesia

akan tetap berdiri

selama persatuan

lebih tinggi

daripada kepentingan.

Maka setiap Agustus,

biarkan pinang itu

terus menjulang

di tengah kampung,

agar anak-anak

tak hanya belajar tertawa,

tetapi juga mengerti

bahwa kemerdekaan

selalu dimulai

dari keberanian

untuk mendaki bersama.


*Baopukang, 6 Agustus 2026 *
















009. AS. Darsa


NEGERI YANG MEMELUK BARA


negeri yang terlalu lama memuja bara

akhirnya lupa cara menyalakan matahari

delapan puluh satu tahun

api tetap menyala

kami masih mengira

ia sedang memurnikan emas

gunung-gunung pulang di punggung truk

hutan tinggal bunyi gergaji

dan laut mulai mengenal

nama-nama pemiliknya

api yang dulu dinyalakan kemerdekaan

terus bekerja

siang dan malam

pertanyaannya,

apa yang sedang dimurnikan

emas

atau

keserakahan?


— a.s darsa skbm 07082026


AS Darsa lahir di Kuningan dan kini menetap di Sukabumi.

seorang pegiat media sosial yang merawat puisi tentang kopi, kesunyian, dan luka-luka kecil manusia.

bukan siapa-siapa, hanya malaikat yang sedang magang.

kalau kebetulan ketemu di jalan tanya saja, sambil senyum juga gapapa...



010. Ence Sumirat


TANAH YANG MASIH BERSAJAK


Di pendopo gamelan

ditabuh tanpa jeda

Agar derit lumbung tak

terdengar sampai serambi

Batik-batik menjadi

seragam kuasa

Sementara canting berpuasa

di meja biasa

Bengawan mengalir

membawa lumpur ke hilir

Namun yang keruh

selalu disebut mata air

Keris disarungkan dengan

doa paling khusyuk

Sayang yang diasah justru

mata angin

Cengkih gugur sebelum sempat mengharumkan dapur

Pala berlayar tanpa pernah

kembali sebagai milik

Di pematang orang-orangan

sawah tetap setia berjaga

Barangkali manusialah yang

lebih pandai menjadi burung

Gunung-gunung masih

hafal nama kemerdekaan

Hanya lembah mulai

lupa suara rakyatnya

Indonesia --- barangkali bukan

negeri yang renta

Melainkan tangan- tangan yang terlalu

sering menyebutnya warisan


Cianjur 7 Agustus 2026


Ence Sumirat lahir di Cianjur tahun 1971

Menulis puisi secara otodidak.Antologi puisi tunggalnya, Ode Untuk Mak Erot (Adab, 2023).Puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama baik nasional maupun internasional.Dan puisinya juga dimuat di media cetak Malaysia dan Bangladesh



























011. Winar Ramelan

AGUSTUS, MEMOAR UNTUK KONTEMPLASI


Agustus, selalu seperti pagi yang cerah

Matahari yang hangat

Dengan sesekali ditimpali hujan yang jernih

Yang mampu menyeka mimpi mimpi buruk

Melunturkan jarum jarum cemas

Oleh realita yang ditampakkan

Di rumah yang di sebut Indonesia ini

Rumah yang pilarnya dibangun dengan perjuangan

Darah, air mata dan nyawa sebagai tumbal

Agar rumah merdeka berdiri kokoh

Menjadi tempat naung kami

Anak cucunya

Kini, perlahan namun pasti

Pilar pilar penyangganya digerogoti

Oleh tikus tikus pengerat, bajing bajing loncat, buaya buaya keparat

Pengkhianat, penjilat

Yang berdandan pejabat

Rumah pun seakan terasa goyah

Bukan oleh gempa atau badai

Tetapi karena keropos di setiap sendi

"ini bikin ngilu, seperti ketika sakit gigi yang tak terobati"

Bapak ibu yang kami cintai

Kami bukanlah kantong plastik organik sekali pakai

Dicampahkan setelah dibutuhkan

Usai mendulang suara kami

Lantas diperas lagi dengan pajak dan pajak lagi

Bapak ibu yang kami cintai

Haruskah kami mati bunuh diri

Tersebab patah hati dan cemas tak henti

Menyaksikan mu mengumbar maksiat juga syahwat

Tanpa malu apalagi merasa berdosa

Insaf lah insaf lah insaf lah, bapak ibu yang kami cintai

Jadikan agustus sebagai cermin diri

Agar darah yang pernah tumpah di masa lampau di bumi persada ini sebagai darah perjuangan

Tak terulang lagi sebagai darah perlawanan

Karena muak atas tingkah bapak ibu yang terhormat

Mari sama sama kita jaga rumah ini

Agar pilar pilarnya tetap kokoh berdiri

Di bawah naung langit biru yang berdasarkan Pancasila

Dan pijak pada tanah subur makmur dan damai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika


Denpasar. Agustus 2026


*Winar Ramelan, lahir di Malang, juni 1972 kini tinggal di Denpasar Bali

Puisi puisinya terangkum dalam antologi tunggalnya, Narasi Sepasang Kaos Kaki(2017), Mengening(2020), Dongeng Lathisa(2023)

Juga dimuat diberbagai media cetak dan Online, serta lebih dari 60 antologi bersama, kadang kadang ia juga menulis cerpen, cernak juga artikel *













012. Dien Djusni


WASIAT PETANI


Dulu, di lahan subur ini kugantung seluruhnya

pun pesan leluhur sebagai tiang utama

tempat bersandar, anak cucunya:

"Jangan berhenti, terus bertani"

Tetapi, ....

Beban di pundak seakan tak tertahan,

danau-danau baru bermunculan,

pucuk sawit menutup matahari

lalu, apakah harus pergi:

"Seperti penghuni sungai itu?"

Sekarang, lahan subur ini sering direndam air

sementara kuat inginku 'tuk terus bertani

tak mau seperti padi yang terpinggir

atau jadi buruh di tanah sendiri:

"Aku ingin merdeka...."

Tetapi, ....

pundak ini ada batasnya, suatu ketika

kedua kaki tak akan tegak berdiri

dan kalau aku rebah nanti:

"Anakku, jangan menyerah!"


Tarakan, 07-08-2026


Dien Djusni Lahir dan domisili di pulau Tarakan, Kalimantan Utara. Mengenal puisi di FB. Baginya, seperti juga melukis maka menulis puisi itu bisa membuat hati bahagia.






013. Rahim Eltara 


KETIKA JERITAN TAK LAGI DIDENGAR


Suara-suara kami mati perlahan,

ditelan janji-janji di atas mimbar kayu.

Di bawah, anak-anak riang menerbangkan layang-layang,

merah-putih menari di angkasa,

diiringi lagu Indonesia Raya.

Tangan legam mendekap lumpur,

perut lapar memeluk cangkul.

Lelaki beruban menjunjung terik matahari,

memikul beban yang kian sarat.

"Berapa harga sebuah suara?" bisik mereka di ujung pematang.

"Jika padi yang ditanam hanya melahirkan utang,

dan lahan kami terus tergerus

digilas bunga tunggakan yang berlipat-lipat."

Hari ini, anak-anak belajar lapar.

Air mata mereka mengetuk pintu kaca gedung jawatan,

bukan meminta sesuap nasi,

tapi menggugat janji yang dulu bergema di langit.

Tangan tak lagi mampu menengadah,

sebab doa-doa telah kehilangan lafaz,

dijarah janji-janji dari pengeras suara.

Di bawah bendera yang berkibar,

anak-anak berlatih memanjat pinang,

lelaki beruban itu pun belajar merawat diam.

Sebab diam adalah senjata paling sunyi

yang tak lagi bisa mereka rampas.


Sumbawa, 6 Agustus 2026


A.Rahim Eltara, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Gemar menulis puisi sejak tahun 1980. Kini telah menerbitkan antologi tunggal: Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta ( 2024), 66 Sajak Menguak Jejak (2026), Baguru (2026), dan 101 antologi bersama.

Penerima Anugrah Bahasa dan Sastra Tahun 2018. Pemenang Puisi Pilihan Gerakan Akbar 1000 Guru Menulis se Asean Tahun 2018, Juara 3 Lomba Menulis Puisi Hyang Pustaka Tahun 2024, Peringkat 10 Lomba Menulis Puisi 3 Negara Serumpun Tahun 2024, Juara 2 Lomba Menulis Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Tahun 2025.






















014. Gunawan Ashadi 


Merdeka... Kah?


Masih kah merdeka

Entah... buktinya masih ada air mata

Rumornya masih nestapa kaum papa

Dupa demokrasi telah padam lama

Erang nya masih menggema

Kirab bangga seremonial belaka

Anjang sana berebut kuasa

Kartini bersolek hilang norma

Anak Nusantara teradu domba


Hanya bisa diam dan berkata...(Merdeka...dengan suara pilu).


Bjm 7 Agustus 2026


Ashadi Gunawan (awan) lahir di Banjarmasin tahun 1981. Pernah aktif di Seni Teater, Lukis, dan Sastra sebagai ekspresi atas nikmat Tuhan yg Maha Seni. Perjalanan berkesenian: Banjarmasin-Jawa Timur-Joja-Banjarmasin.

Sekarang tinggal di Batola Kalimantan Selatan sebagai penikmat seni.











015. Sunawi 


SULUK KEMERDEKAAN


Sudah menjadi kepastian merdeka

Suluk kemerdekaan menyebar di Nusantara

Pada suka gembira raut wajah

Dari titiknya hati memantapkan puji

Sampai saat ini tetaplah merdeka

Kemerdekaan sudah menjadi puncaknya

Waktunya bulan Agustus menjadi sarana perlu

Menjalankan olah raga maupun seni

Sayembara untuk mengolah pikiran

Selanjutnya kian berguna

Meskipun ada menjerat hati sedih

Ingatlah para pahlawan kusuma bangsa

Meninggalkan bumi pertiwi

Surem surem giwangkara kingkin ler manguswa kang layon

Raga ilang dennyo memanise

Ong ong ongg

Rasa menjerat hati sedih kingkin

Para pahlawan kusuma bangsa mengorbankan jiwa raga

Harumnya semerbak nan wangi

Rasa sedih mengkalbu air mata jatuh berderai menyibak suasana

Menghadapi keadaan yang tak terduga gugur di medan laga

Kesedihan dipupus sudah

Yang terjadi sudahlah terjadi

Menatap hari esok yang lebih baik

Sekarang mengisi kemerdekaan dengan nyata

Janganlah keadaan lebih berat dari yang dahulu

Mencari ilmu untuk meraih cita cita

Kerja nyata menurut bisanya

Dengan doa dan usaha

Pada saatnya tercapai

Yang belum tercapai atau samar janganlah patah semangat

Lihat bendera merah putih sana sini terpasang

Merah semangat dalam mencapai keinginan

Putih kesucian masuk dalam pikiran

Merah putih sarana untuk mencapai tujuan

Dengan jiwa merah putih semboyan selalu didengungkan

Terosepsi mimpi mimpi malam

Wajib pada memiliki

Mengukir dengan pahat keutamaan

Supaya yang di lukis bisa nyata

Sinar Surya yang terang benderang

Umpama ada sakit segara teratasi

Supaya apa yang jadi keinginan tercapai


Bantul Yogyakarta Agustus dalam kenangan









Komentar