Sabtu, 05 Juli 2025

2. Taufik Ismail Pandai Menjual Puisi

 Taufik Ismail Pandai Menjual Puisi


   Taufik Ismail pandai menjual puisi. Mari kita perhatikan puisi karya Taufik ini yang berjudul Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini. Judul yang tampak gagah dengan penggunaan kata-kata yang tegas 'Adalah, 'Pemilik, 'Sah dan juga penggunaan kata 'Republik pada saat 1966 itu memang lagi ngetrend.


    Judul ini seakan membuat kita pernah diberi pertayaan, setidaklnya : masihkah kita diaku sebagai pemilik republik ini, atau : apakah yang punya republik ini orang-orang tertentu saja? , yuk kita simak puisinya :


Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Karya Taufik Ismail 1966


Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.


(rg bagus warsono 23-8-2015)



1. Kepiawaian Chairil dalam Mencipta

 Kepiawaian Chairil dalam Mencipta


   Demikian Chairil menjadi Prajurit Jaga Malam, Chairil tak bicara rokok atau kopi penahan kantuk, tak bicara nyamuk , kelelawar ddan embun dini hari. Chairil pandai menjadi puisi, menjadi dirinya seorang prajurit jaga malam, menusuk pikiran si penjaga malam, dan bersembunyi di hati dalam dada prajurit jaga malam. Chairil memang jempolan,berikut puisinya:

Prajurit Jaga malam 

karya Chairil Anwar


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


(rg bagus warsono 23-8-2015)




Apresiasi Puisi Dari Chairil Sampai Penyair Modern

 Kumpulan Esai

Rg Bagus Warsono

Pengantar 

Ternyata puisi itu abadi. Kapan pun dapat menikmatinya, sebagai apresiasi yang juga dapat diungkapkan, seperti dalam buku ini. 

Menikmati puisi dahulu dan sekarang ternyata banyak kesamaan. Bedanya cuma pada objek puisi tersebut. Jika pada masa lalu memilih puisi indah itu hanya terdapat pada buku-buku tertentu atau sastrawan sastrawan yang menerbitkan bukunya di penerbitan nasional seperi balai Pustaka, Pustaka Jaya, Dian Rakyat dan Gramedia, kini telah banyak pusi diterbitkan di berbagai penerbitan nasional atau penerbitan dengan publishing. Ternyata keindahan puisi itu banyak jumlahnya dan semakin tak terpantau. 

Seiring dengan meningkatnya jumlah penyair di Indonesia adalah bukti bahwa peminat sastra kusus puisi semakin banyak bahkan telah memasyarakat. 

Penulis ketegahkan sesuatu yang menarik dan sangat perlu diapresiasi. Bahwa ada di belahan nusantara ini, di pelosok nusantara ini yang mengusung keindahan. Adan penulis berbagi untuk semua. 

Salam Sastra.  





Selasa, 27 Mei 2025

Bangganya Bembawa Sekeranjang Ikan, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Bangganya Bembawa Sekeranjang Ikan


Menyeringai nelayan itu memeluk keranjang 

ikan untukmu duhai istriku manis 

aku buktikan dalam sekeranjang  

ikan dan cinta 

ikan dan rumah 

ikan dan anak-anak 

Tersenyum nelayan melepas ikan 

dengan rokok dibibirnya 

dengan sekarung beras 

dengan segenggam rupiah 

esok aku berangkat lagi 

kau istriku berdoalah 


  Karangsong, Desember 2017





Nelayan Tidak Tidur, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Nelayan Tidak Tidur


Sebab ikan berkerumun 

seperi kawanan bangau 

seperti walet sore hari  

seperti pipit padi 

lalu mereka tebarkan jaring  

menjebak ikan dalam melawan arus  

dan biarkan jaring menunggu  

lalu tidur  

menanti ikan  

Ketika nelayan bangun 

jaring terasa berat tenggelam  

Ikan diangkat 


  Karangsong, Desember 2017





Nelayan pun Memilih Ikan, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Nelayan pun Memilih Ikan


dilaut nelayan pun memilih ikan 

seperti ibu di pasar 

banyak tak berarti berhasil 

sedikit bukan tak dapat uang 

ikan dipilih dalam lautMu 

ikan mahal dalam lambung kapal 

tertutup parutan es pendingin 

agar tetap segar 

hingga pantai menanti 

Pak Tua memilih ikan  

dilautMu yang damai 

samudra rezeki 

ikan-ikan segar 

  Karangsong, Desember 2017





Kampung Nelayan Bibir Pantai, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Kampung Nelayan Bibir Pantai


Kampung muara di bibir pantai

 air anta tempat kakap bersarang 

pemancing datang tiap malam 

ikan tak pernah habis  

udang bertelur menetas tiap malam 

Kampung muara sungai  

berciri nyiur menjulang 

dan pohonan rimbun  

ijinkan melewati muaramu tenang 

agar ikan sesuai harapan 

Kampung muara sungai 

saksi perahu kami , along atau hanya dapat lawuhan


Indramayu, Juni 2015




Komunitas Satu Juragan, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono


Komunitas Satu Juragan


Juragan besar kapal kayu puluhan kapal

Saudagar besar Karangsong

Ribuan pekerja hilir ke hulu 

Menjual kayu, mesin, jarring,  sembako 

semua keperluan melaut hingga kail kecil

hingga baju anak-anak sekolah

Kuat diterjang badai tak akan tenggelam 

Raksasa kapal turun temurun 

Ketika nadran tiba

Adat nelayan Karangsong

Ribuan orang berseragam kaos sama

Komunitas satu juragan.




Sabtu, 24 Mei 2025

Gagah di Darat, Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono

Gagah di Darat


Berjajar di halan Karangsing 

Kapal-kapal kayu besar 

Menjulang haluan megah 

Berhias cat warna-warni

Irama mesin gergaji dan palu 

Mengukur panjang balok lunas 

Panjang nian kapal kayu

Bukan insinyur teknik sekolahan 

Ini gelar alhli tanpa kuliah

Kapal gagah du darat 

Orang-orang mendongak

Sungguh hebat warisan nenek moyang 

Ketika kapal diturunkan 

Kapal menjadi kecil dan hilang di tengah biru

maha lautNya maha luasNya

Kapal juraganmu yang besar 

Tak ada apa-apanya.

Indramayu, 24 mei 2025




Rabu, 21 Mei 2025

Namai Perahuku, Rg Bagus Warsono

 Namai perahuku


agar melekat tanda

dan berkah rezeki

dan beri warnai tanda lain

agar tak tertukar rezeki

namai perahuku agar disebut ketika berlabuh

namai perahuku




Karam di Sungai Sendiri, Rg Bagus Warsono

 Karam di Sungai Sendiri


Masuk muara dangkal

Sungai yang dikenalnya sejak lama

Kini sungai rak menjadi jalan 

Menuju pelelangan ikan 

Penuh 

oleh waled dan sampah menumpuk 

Merusak  mesin perahu 

menggaruk tanah

dan 

Baling baling tak lagi memutar

Ikan di lambung berteriak 

Kapan ditimbang.

sarat muatan di muara dangkal kapal 

tak akan kembali lagi ke laut 

Menunggu rob 

masuk muara dangkal

badanku terangkat air 

Dan membuang ikan-ikan.







Senin, 19 Mei 2025

Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono

 Kibarkan Benderamu


Dengan bekal beras, gas, Mie Instan, dan rokok seminggu

hidupkan mesin, dan menarik jangkar 

memegang kemudi

Kibarkan benderamu dalam 

laga yang luas 

Bebas penjuru memburu

bersaing rezeki 

Bebas pulang pergi atau singgah di pelabuhamu

Bersama teman seberangkatan kampung nelayan sama perahu 

Dan suara mesin tua beradu

dan kipas mulai berputar

mendorong nasib di tengah laut

dan kelebat bendera diatas tiang perahu

perlahan menyusuri kali menuju hamparan air laut.


rg bagus warsono 15-2-16




Tak Ada Menanam Ikan di Laut, Rg Bagus Warsono

 Tak Ada Menanam Ikan di Laut


Bibir pantai, laut dan samudra Hindia

Pasifik bukan di utara Raja Ampat

berlimpah tuna

Kecil anak ikan terjaring tak kan habis

Beser induk ikan esok datang dari arus bawah laut

Lautmu nafkahmu

Lautmu itu ibumu

Lautmu cita-cita anakmu

Dan laut tersenyum

Lambungmu penuh ikan

Kembalilah esok di laut

Dengan deru mesin tempel

Mengaung menerjang

Menebar jaring

Melempar mata kail

Lalu mesin tua mengaung

menelan solar mendorong lambung penuh ikan.


(Eretan, 5 Desember 2023)