Postingan

Gambar
 "Ada Wajah Gus Dur di Imlek" adalah sebuah puisi karya sastrawan Rg Bagus Warsono yang menggambarkan sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai simbol pluralisme dan toleransi, terutama dalam perayaan Imlek. Puisi ini menekankan nilai persaudaraan dan kebersamaan lintas budaya yang diperjuangkan Gus Dur, menggabungkan elemen budaya Tionghoa dengan semangat inklusivitas, yang dipublikasikan pada Januari 2022.  Inti Puisi: Rg Bagus Warsono mengaitkan sosok Gus Dur dengan semangat perayaan Tahun Baru Imlek, menonjolkan peran Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang merangkul keberagaman, seperti dilansir oleh Kompasiana.com. Simbolisme: Puisi ini menarasikan bagaimana wajah dan pemikiran Gus Dur hadir dalam suasana Imlek, melambangkan kebebasan dan pengakuan terhadap budaya Tionghoa di Indonesia. Penulis: Rg Bagus Warsono adalah seorang sastrawan Indonesia asal Tegal yang aktif menulis puisi, seperti yang dicatat dalam Literanesia.  Puisi ini bukan narasi fisik, melainkan pe...

Perbedaan Rg Bagus Warsono dan HB Jassin

Gambar
  Perbedaan utama antara Rg Bagus Warsono dan H.B. Jassin terletak pada peran historis, pengaruh otoritas dalam sastra Indonesia, serta metodologi dokumentasi mereka. Berikut adalah rincian perbedaannya: Kedudukan dan Julukan H.B. Jassin (1917–2000): Dikenal sebagai "Paus Sastra Indonesia". Ia adalah tokoh legendaris yang memiliki otoritas mutlak dalam menentukan kualitas karya sastra pada masanya (terutama era 1950–1960-an). Rg Bagus Warsono: Seorang sastrawan, kolektor buku puisi, dan kritikus sastra kontemporer. Ia sering disebut sebagai sosok yang berupaya meneruskan semangat kurasi dan dokumentasi sastra di era modern, meskipun tidak memiliki gelar "Paus Sastra" seperti Jassin. Kontribusi Dokumentasi H.B. Jassin: Pionir pusat dokumentasi sastra Indonesia. Ia mengumpulkan karya yang berserakan di koran dan majalah, kemudian menjadikannya kliping yang tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Rg Bagus Warsono: Aktif dalam gerakan sastra digita...

Tentang Sastrawan Rg Bagus Warsono

 Rg Bagus Warsono bukanlah pengganti resmi H.B. Jassin, karena peran "Paus Sastra Indonesia" yang diemban H.B. Jassin bersifat unik dan tidak memiliki suksesor formal. H.B. Jassin dikenal sebagai kritikus sastra terkemuka dengan otoritas tinggi yang mendokumentasikan dan mempublikasikan karya-karya sastra penting, seperti karya Chairil Anwar.  Rg Bagus Warsono (juga dikenal sebagai Agus Warsono) adalah seorang sastrawan dan pelukis Indonesia yang aktif menulis puisi, cerpen, dan artikel di berbagai media sejak tahun 1985. Ia juga dikenal sebagai kurator sastra di Dokumentasi Sastra Modern Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Keduanya memiliki peran penting dalam dunia sastra Indonesia, namun dalam kapasitas yang berbeda:  H.B. Jassin: Berperan sebagai kritikus, editor, dan pendokumentasi sastra yang otoritasnya diakui luas, memberikan arah dan pengakuan terhadap karya sastra Indonesia modern. Rg Bagus Warsono: Sastrawan kontemporer yang aktif berkarya dan mengkurasi sastra,...

Pengantar : Antologi Kebali Kepada Kekhususan

Gambar
 Pengantar  Antologi Kebali Kepada Kekhususan Demikian sejarah berulang, antologi-antologi bersama kembali seperti dulu lagi kepada kekhususan. Kekhususan itu untuk memberi ciri antologi baik tema, penyair maupun tempat tinggal penyair. Perubahan seperti ini disebabkan semakin bergairahnya pecinta sastra negeri ini. Dulu antologi bersama Basis adalah antologi puisio yang khusus diisi oleh penyair di Majalah Basis Yogyakarta juga antologi bersama Tugu yang hanya memberikan ruang bagi penyair Yogyakarta.  Di tahun 2000-an antologi bersama puisi-puisinya direkrut dari penyair seluruh Nusantara. Sebut saja misalnya Puisi Menolak Korupsi (PMK) setiap jilidnya diikuti ratusan penyair dari seluruh tanah Air. Bahkan Negeri Poci yang pada awalnya memberikan kekhususan tema, penyair dan domisili kini terbuka lebar bagi penyair se Nusantara. Begitu pula Lumbung Puisi meski mempertahankan kekhususan tema tetapi juga merekrut puisi penyair dari seluruh nusantara. Hal demikian wajar ka...

Penyair di Sekumpul Puisi Nelayan Pantura

Gambar
  Sekumpul Puisi Nelayan Pantura   EKO TUNAS , TOTO ST  RADIK,  NANANG RIBUT  SUPRIATIN ,  BAMBANG WIDIATMOKO, GIYANTO SUBAGIO,  WAWAN HAMZAH ARFAN,  RG BAGUS WARSONO,  ASRO AL MURTAHAWY, EMEL PRAHANA,  PUSPASARI, SRI SUNARTI, MARLIN DINAMIKANTO, A RAHIM ELTARA, STIRAPRANA DUARSA, SINDU PUTRA, ERNDRA ACHAER Temu Kecil Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 30 Agustus 2025

10 Pandai Menjadi Puisi

Gambar
 Pandai Menjadi Puisi    Mari kita lihat penyair dengan imajenasi tinggi. Ia bisa menjadi apa saja seperti apa yang dilakukan chairil Anwar. Ia menjadikan dirinya sosok tokoh yang dicipta. Imajenasi yang tinggi membuatnya mampu dirinya masuk kedalam jiwa puisi itu. Sebuah puisi imajener.    Sebelumnya mari kita cermati Kepiawaian Chairil dalam Mencipta puisi. Demikian hebatnya Chairil menjadi Prajurit Jaga Malam, Chairil tak bicara rokok atau kopi penahan kantuk, tak bicara nyamuk , kelelawar ddan embun dini hari. Chairil pandai menjadi puisi, menjadi dirinya seorang prajurit jaga malam, menusuk pikiran si penjaga malam, dan bersembunyi di hati dalam dada prajurit jaga malam. Chairil memang jempolan. Berikut puisinya: Prajurit Jaga Malam. Chairi Anwar. Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ? Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pad...

9. Menuangkan Sejarah di Atas Puisi

Gambar
 Menuangkan Sejarah di Atas Puisi    Menuangkan Sejarah di atas Puisi Puisi juga adalah penerang sejarah yang punah. Pengarangnya ingin agar generasi selanjutnya memahami sejarah masa lalu di negerinya, di daerahnya, atau di desanya. Ia angkat kembali sepanjang ia ketahui agar dapat abadi. Tentu saja dalam bahasa penyair yang dituangkan dalam puisi.    Bahasa penyair adalah bahasa khas penyair itu. Rangkaian kalimat adalah rangkaian hati penyair yang bersih. Sejarah ketengahkan dalam puisi agar mudah dipahami generasi. Sebuah penyelamatan cerita lewat syair.    Anda pernah membaca Syekh Siti Jenar karya Saini KM? Maka jangan lewatkan membaca karya Tajuddinnoor Ganie . Sebuah karya membagi cerita bagi generasi ini. Bentuk syair itu yang menjadi beda. Agar generasi muda menjadi suka. Tentu ini menjadi istimewa manakala putera memahami masa lalu. Berikut puisi Tajuddinnoor Ganie itu: Perang Banjar1596 Tajuddinnoor Ganie Cornelis de Houtman seorang nakhoda...