Jumat, 01 April 2022

3.Dimaz Nunug: In Crush,

 Sharing Poetry on World Poetry Day


 3.Dimaz Nunug: 



In Crush,


In shattered. Keep smiling in the queue. I don't feel sore feet. Waiting for the mini market to open. The clock on the hand is chasing seven o'clock. And the queues are getting crazy long.

At home, the frying pan is turned upside down. The oil bottle is empty. There seems to be a hole under the bottle. Seepage on the kitchen floor. In drinking rats who have been smart to choose expensive food.

The clock is spinning hunting. At seven o'clock the guard slowly opened the door. Elbows nudge each other chasing the oil that has disappeared hidden by time. But apparently, oil is still not bought, lying on the shelves of tiny minimarkets. With prices tossed the wallet into the frying pan. Burned to ashes in the breasts of mothers.


Kaliwungu, 2022













2.Bayu Nindyoko: About a Cup of Coffee,

 Sharing Poetry on World Poetry Day

 2.Bayu Nindyoko: 



About a Cup of Coffee,



A cup of coffee

The first sip, I want to ask "who are you making this coffee for?" Just want to always understand the beginning and the end of the day, how deep I am in my heart.

The second sip, sometimes makes me stunned, how sweet this love is.

The third sip and so on, after tasting the sweetness, it's normal.

About a cup of coffee

Is an undivided longing



Pracimantoro, March 21, 2022












Sugeng Joko Utomo: THE SKY OF THIS CITY

 Sharing Poetry on World Poetry Day




1.Sugeng Joko Utomo: 



THE SKY OF THIS CITY

(reminiscent of February 8, 2016)


The sky of this city

When I stand up straight

Staring at it

He smiled meaningfully

: welcome, traveler

The sky is cheerful too

Share the graceful cloud dance

Dreams tickled

Thousands of sritis cheerfully fly

Peaceful scented roses

The bushes look beautiful

The sky of this city

roll out the red carpet all the way

When I cross slowly

The sky of this city, brother

Prepare the chariot

To welcome me like a king

Take me where I like

Enjoy the beautiful lake

Enjoy the ocean waves

Enjoying the mountain air

Enjoy the great dance

The sky of this city

Whisper the passion of earthly life

Sprinkle holy water that cleanses the soul

Bathe me wisely

Let go of all anger

Washing away restless

The sky of this city

I was closed by it

Sleep peacefully in his arms

Forget about blue trouble

The one that scorched the soul

In this city

The sky is kind and shares a smile

I laughed in awe

Happy

Must be happy

No frills attributes

About the messy story

Now my story is free

Hanging out in a cheerful rhythm




Tasikmalaya, February 8, 2021


Kamis, 24 Maret 2022

Masih Berkutat Pamer Wajah dan Kebendaan

 oleh : Rg Bagus Warsono


Bila aku tak membaca tak tahu perkembangan pertumbuhan sastrawan baru Indonesia. Sebagai Kurator yang entah apa sebutannya karena lama menbidani Lumbung Puisi dapat memberikan penilaian bahwa pertumbuhan sastrawan idealnya adalah pertumbuhan karya baru. Tetapi grafik menunjukan lain, pelakunya yang sering ditampilkan.

Kekeliruan ini adalah kurangnya kewajiban membaca dan kewajiban meluangkan waktu membaca serta kewajiban menyediakan bahan bacaan.

Jika demikian mengapa justru yang ditonjolkan wajah bukan untaian kata-kata? Kemudian apakah jika media menampilkan tulisan tanpa gambar akan menarik? Jelas akan terpilih pilah di pihak pembaca.

Pada saatnya nanti karya itu akan sampai pada pembaca yg tepat misalnya Kurator Sastra atau kritikus sastra yg akan memberikan respon dari bacaan yg menarik hatinya.

Kapan akan mendapatkan giliran adalah kapan kita bisa menulis yg mengandung karya sastra yang agung.

Sementara menanti saat yang tepat untuk penulis muda tampil ke permukaan dan menjadi perbincangan sastra berarti menunggu karya-karya terbaik itu muncul.

Semoga hari semakin membaik buat kita para penulis termasuk khusus penulis muda. Banyak peluang untuk merebut hati masyarakat dan bembuahkan karya agung, yang jelas hari ini masih berkutat pamer wajah dan pamer kebendaan.



Rabu, 23 Maret 2022

satu per satu anakku berkurang jumlahnya karena ditelan buaya

 Tentu saja itik pandai berenang, kali ini danau yang terlalu luas jika yang berenang hanya beberapa itik, atau itik dan anak-anaknya saja.  Tak sebanding hamparan air di danau yg luas tenang. 

Kenapa kau naik kedarat lagi? Bukankah di danau banyak ikan?

Lalu itik berkata, satu per satu anakku berkurang jumlahnya karena ditelan buaya



Senin, 21 Maret 2022

Merawati May : PUISI ITU KAMU

 Merawati May


Puisi itu kamu


Kutetap di sini

Mencoba memahami apa itu kata hati

Pelahan kurebahkan

Seluruh sendi di peraduhan

Sejenak kalbuku menerawang

Menyeruak di antara puing-puing bimbang

Merenunggi arti hadirmu

Dalam hidupku

Masih terbayang jelas masa itu

Ketika kau menghampiri hidupku

Menyentuh tiap jengkal hatiku

Kau beri dan merawatnya dengan cinta

Hingga hatiku seakan berbunga

Kau dan aku

Seakan berusaha untuk menyatu

Namun sayang waktu melaju

Tanpa bisa menunggu

Kau pergi tinggalkan aku

Namun masih kucoba telusuri lorong-lorong

Dalam hati

Mencoba mencari sisa guratan yang terperih

Hingga kutemukan lagi

Dan kucoba merajut kembali

Namun sayang kau tak lagi denganku

Bersamanya

Kutetap di sini

Mencoba menahan apa itu kata hati

Dan mencoba memberi

Sepengal hati walau telah kau bagi

Inikah akhir dari sebuah awal?

Aku denganmu dan kau dengannya

Jika benar adanya, tak perlu ada maaf terucap.

Bengkulu, 21 Maret 2022



Kamis, 17 Maret 2022

Ingin Terkenal !, Sebuah Kekeliruan Tujuan Menjadi Penulis

 Ingin Terkenal !, Sebuah Kekeliruan Tujuan Menjadi Penulis

Entah sudah berapa orang mengatakan tetang aku. Baik secara langsung maupun mendengar penuturan teman. Bahwa aku tak begitu dikenal di Indramayu yang justru kota tempat tinggalku. Bahkan oleh komunitas di kalangan penulis. Mendengar hal ini aku menyadari bahwa memang aku belum apa-apa. Dan tentunya aku mawas diri karena memang demikian adanya.

Lalu apakah aku harus berteriak-teriak memamerkan namaku, bahwa aku seorang penyair? Tentu tidak arif melakukan demikian.

Ketika sahabat baruku Mas Slamet Suryadi juga mengatakan demikian maka aku membuka cerita. Adalah Laurens Koster Bohang atau dikenal dengan LK Bohang, teman seangkatan Chairil Anwar. Ia tidak meminta HB Jassin untuk menuliskannya dalam jajaran Angkatan '45, tidak juga merengek-rengek pada teman-temannya untuk dipanggil atau dimasukan dalam kelompok penyair. Baginya menulis terus saja menulis mengalir apa adanya. Kepribadiannya yang baik serta jiwanya yang terbuka dan berusaha untuk memahami gejolak teman-temannya pada saat itu membuatnya menarik minat HB Jassin untuk membedah karya-karyanya dan ternyata karyanya itu membuat HB Jassin terpukau dan menyebutnya sebagai Sastrawan yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah sastra Indonesia yaitu dalam jajaran angkatan '45 bersama Chairil Anwar, Amal Hamzah, Amir Hamjah dll.

Lain cerita LK Bohang, maka aku pun sedikit memberi jelas. Bahwa menulis itu jangan bertujuan untuk cari agar namanya terkenal, tetapi adalah bertujuan untuk memberikan bacaan bermutu bagi masyarakat , berfaedah pada fungsinya sebuah karya tulis. (rg Bagus warsono)

Sekarang orang bisa terkenal di zaman medsos dan dunia internet ini dengan cepat. tetapi akan dengan cepat viral itu ditutup dengan viral yang baru. Karena itu mari kita berlomba untuk membuat bacaan bermutu. Bacaan bermutu akan dibaca bukan hari ini saja tetapi kapan pun. dan namamu akan slalu disebut. (Rg Bagus Warsono, 17-03-22)



Selasa, 15 Maret 2022

Kelak Barometer Sastra ada di Kalimantan

 Jika IKN (Ibu Kota Negara) terwujud maka rakyat tertuju di IKN sebagai pusat pemerintahan. Tak terkecuali dunia sini dan hiburan serta informasi. IKN menjadi pusat segalanya termasuk dunia sastra, yang sampai saat ini seperti Jakarta. IKN akan menjadi pusat sorotan sastra Indonesia dikarenakan pusat informasi kelak di IKN dimana lambang-lambang Pemerintahan berada di sana. Tentu saja peran sastrawan di Kalimantan Timur khsusnya dan Kalimantan pada umumnya menjadi sorotan sastra Indonesia. Akankah demikian? Harapannya sudah pasti kita yang di belahan Propinsi lain memandang Kalimantan sebagai pusat sastra kelak. Harapan ini tentunya angin segar bagi saudara-saudara kita di sana. Kita mengenal Soekardi Wahyudi dari Kutai, Micky Hidayat di Banjarmasin, Fahmi Wahid di Balangan, Dyah Nkusuma, Ali Arsy Kindai, Tajuddin Noor Ganie, Mohammad Jumadi, Rosyidi Aryadi, Ayu Siti, Ibramsyah Amandit, dan banyak sahabat di sana yang akan mewarnai Sastra Indonesia kedepan.

Kita tidak tahu kedepan ibu kota negara itu dinamai apa, yang jelas bentuk komunitas sastra di IKN akan menjadi sorotan masyarakat sastra Indonesia.

Dalam rangka menyambut Ibukota baru itu penulis belum melihat Geliat baru sastra Kalimantan menyambut IKN yang kini Kepala otorita IKN sudah diangkat. Akankah Soekardi Wahyoedi akan bertindak sebagai pelopor atau mendorong kegairahan baru atau Micky Hidayat atau siapa saja tanda-tandanya sudah terlihat.

Namun juga perlu diingat sejauh mana kepedulian Ibukota terhadap sastra dan pelakunya  tergantung kebijakan siapa orang yang memimpin Ibukota itu. Jika memang adanya Ibukota itu menjadi harapan baru bagi sastrawan Kalimantan, maka betapa sastra kita akan berkembang di sana, jika sebaliknya setidaknya ada perubahan baru di dunia sastra. (rg bagus warsono, 14-03-22)



Kucing Kampung Tidak Pendendam

Begitu datang kucing anggora yang lucu, kucing kampung itu dibuang di sebrang sungai yang tak bisa kembali ke rumah. Kata kucing kampung yang budiman dan tidak dendam itu berujar: "Semoga aku menemukan jodoh baru dan menurunkan anak-anak yang lucu-lucu agar  seperti kucing anggora pengganti dirinya di rumah bekas majikanku, agar tak seperti aku nasibnya".

Merumuskan hari puisi Nasional

 Jika aku diajak untuk merumuskan hari puisi Nasional oleh Pemerintah maka aku mengusulkan tanggal 17 Agustus karena apabila tidak diperingati pun sudah banyak umbul-umbul.(Rg Bagus Warsono)

Menurunkan Gengsi

Bangga itu boleh untuk memacu semangat, kemudian diturunkan dengan rasa syukur, utuk melihat orang lain di bawah kebanggaan itu, setelah mampu memiliki rasa syukur turunkan lagi dengan miliki rasa peduli agar rasa syukur itu memiliki bukti implementasi, kemudian diturunkan lagi dengan peran menjadi orang yang berkedudukan sangat rendah (belajar merasai menjadi orang kecil) setelah ini bisa lakukan maka hidupmu kau temukan. (rg bagus warsono)

Chairil oh Chairil

 Chairil oh Chairil

Chairi Anwar adalah penyair dengan karya  untuk sasaran ke publik. Bukan membuahkan karya yang khusus dibaca anak-anak atau dewasa. Bukan pula membuahkan karya yang sasarannya remaja. Karya-karya Chairil itu untuk publik segala umur. Sehingga tidak heran bila banyak puisi yang disukai oleh orang-orang tua atau anak-anak. Tak heran pula bila puisi-puisi Chairil Anwar banyak  dihafal anak-anak.

Penulis pernah menjumpai seorang tua yang banyak hafal puisi-puisi Chairil dengan baik.

Di masa sekolah dulu tahun 1970-an ketika penulis sekolah dasar banyak teman-teman hafal puisi-puisi Chairil

Ketika penulis sekolah di SPG tahun 1981-1984-an

puisi-puisi Chairil menjadi sesuatu penampilan para calon guru jika diharuskan unjuk ketrampilan seni.

Kerawang Bekasi, Aku, Diponegoro, dan lain-lain adalah judul-judul puisi yang akrab dengan para pelajar di tahun 1970-1980-an.

(bersambung, rg bagus warsono)

Derai-derai Cemara, Chairil Anwar

 Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah